
Bab 29
"Din, sini deh Din, lihat ke sini. Gila nih orang, udah ganteng mana tajir lagi, edan umur 26 tahun udah bisa menggapai langit. Salut!"
Tubuh Dinda langsung mematung melihat sosok Dodi di tv. Hati Dinda serasa diremas perih, melihat wawancara Dodi di salah satu stasiun tv. Reflek ia memegang dadanya sambil meringis.
Wildy buru-buru menghampiriku dan mengajakku duduk. "Kamu kenapa, Din!? Kita ke rumah sakit yah?" katanya buru-buru mengambil jasnya bersiap mengajak Dinda ke rumah sakit.
Setelah menenangkan diri, dengan wajah pucat aku menggeleng dan langsung meraung kesakitan.
Aku memeluk Wildy tanpa bicara apa-apa dan hanya bisa menangis dalam kesesakanku. Perasaan dihianati itu sungguh masih membekas dihatinya. Ia menyangka sudah melupakan Dodi, tapi ternyata dia salah besar!
Kenapa aku tidak bisa melupakan Dodi! erangku dengan kesal dalam tangisku.
Wildy menenangkanku sambil memberi isyarat agar asistennya mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
Asisten Wildy, Santa mengerti isyarat yang diberikan bosnya lalu mundur teratur sambil menutup pintu kantor dengan pelan.
Dinda tidak tahu berapa lama ia menangis, yang ia tahu, ia telah membanjiri kemeja Wildy dengan air matanya juga ingusnya. Ia tertawa dalam tangisnya.
Wildy menghibur Dinda sambil memeluknya lagi, "Tidak apa-apa, tanggung udah kotor, sekalian aja."
Dinda tertawa kecut sambil menangis lagi.
Beberapa jam kemudian.
Dinda menyenderkan kepalanya di kemeja Wildy yang baru.
Di kala Dinda menangis, dia masih sempat-sempatnya menyuruh Wildy mengganti kemejanya meski dengan bahasa isyarat.
Wildy yang tidak mengerti kenapa dia disuruh mengganti kemejanya hanya bisa menurut.
__ADS_1
Dinda menutup matanya sambil masih menangis, menunggu Wildy mengganti kemeja dihadapannya tanpa merasa canggung.
Setelah itu Dinda memberi tanda agar Wildy duduk disampingnya lalu ia sesenggukan kecil. Habis itu berhenti menangis dan menyenderkan kepalanya ke bahu Wildy.
"Jadi sekarang sudah tenang? Mau membicarakannya?" tanya Wildy dengan lembut.
"Dia mantan tunanganku, Wil. Namanya Dodi."
"Apa yang terjadi?"
"Dia berselingkuh dibelakangku. Aku memergokinya sedang berduaan dengan seorang wanita di kamar hotel."
"Dia tidak menahanmu?"
"Boro-boro. Dia dalam keadaan tertidur pulas di dalam dekapan wanita itu!"
"Lalu? Kau tidak melakukan apa-apa? Melempar asbak kekepalanya, mungkin!?"
"Aku langsung meninggalkan kamar itu dan pulang ke Indonesia. Memberitahu berita putusnya pertunanganku kepada kedua orang tuaku. Tapi hebatnya, sampai sekarang Dodi tetap orang baik di mata mereka."
Wildy menepuk-nepuk bahu Dinda. "Lelaki brengsek!" umpat Wildy. "Tapi untung kau sudah tahu sebelum menikah. Kalau sudah menikah 'kan jauh lebih repot."
"Dasar orang Indonesia yah kita nih Wil. Masih tau bersyukur di tengah kemalangan," kataku sambil terkekeh miris.
"Iya, udah kamu lupain aja, cowok brengsek itu dan maaf, aku sudah memujinya di depan kamu."
"Yah, nggak apa-apa Wil. Namanya juga kamu nggak tau. Tapi ngeliat tadi di tv, emang harus kuakui, dia itu nggak pernah jelek."
"Atuh gantengan aku kemana-manalah, Din!"
Aku meninju kecil dada Wildy.
__ADS_1
"Kamu masih mencintainya?"
"Aku nggak tau,Wil. Yang jelas aku nggak mau bertemu lagi dengannya."
"Din," panggil Wildy.
"Hmm," sahut Dinda tanpa menoleh.
"Kita menikah saja yuk." Wildy menghadap Dinda.
"Maksudnya menikah gimana?"
"Kok nanya? Menikah yah jadi suami istri. Aku jadi suami kamu dan kamu jadi istri aku."
"Terus tujuan kita menikah apa?" tanya Dinda tidak mengerti maksud Wildy.
"Menikah yah tujuannya untuk membina rumah tangga, memiliki anak-anak."
"Sama siapa maksudnya?"
"Emang dari tadi aku ngomong sama tembok yah?"
Dinda berpikir lagi dan terkejut. "Menikah sungguhan maksudnya sama aku?"
__ADS_1