
Bab 44
Dinda benar-benar menghilangkan jejaknya. Dia tidak kembali ke kantor. Tidak juga ke apartemennya. Di apartement Wildy juga tidak ada!
Wildy memberitahunya, Dinda sudah mengundurkan diri dari agency mereka.
Dodi benar-benar patah arang.
Mungkinkah dia akan kehilangan Dinda lagi? Setelah sekian lama, mereka berpisah kemudian bertemu lagi dan sekarang berpisah lagi!?
Dodi mengerang kesal karenanya.
Beberapa bulan kemudian. Dodi mendapatkan kabar Dinda sekarang berada di Jakarta dan bekerja sebagai instruktur model.
Dodi membelai-belai cincin pertunangannya sambil mencoba merancang apa yang akan ia lakukan untuk menghukum Dinda karena sudah meninggalkannya untuk ke sekian kalinya!
Bekerja di agency kecil yang hampir gulung tikar begini membuat Dinda merasa bersalah ketika menerima upah bagiannya.
Saat ini selain sebagai manager, dia juga bekerja sebagai pelatih bagi model-model di Sanggar Ratu.
Model-model di sini sebenarnya memiliki potensi bagus untuk masuk ke panca internasional tapi karena kurangnya koneksi, sanggar ini kurang berkembang.
Tadinya ia bermaksud untuk meminta bantuan Wildy tapi ia tidak mau tempat ternyamannya jadi terlacak oleh Dodi. Ia tidak mau bertemu lagi dengan Dodi!
Tapi ketika malam datang ia sering kali tidak bisa tidur karena peristiwa malam itu kembali terbayang.
Ia mengelus bibirnya dan memejamkan mata. Ia masih bisa merasakan sentuhan bibir Dodi pada bibirnya, pada tubuhnya dan anehnya hal itu bisa membuatnya mengerang dan menginginkan Dodi.
__ADS_1
Ia ingat merasakan sakit itu tapi sakit itu segera kembali menjadi kenikmatan yang tidak dapat digambarkan dengan kata-kata.
Setiap kali hal itu menerpanya, Dinda akan langsung bangun dan membilas wajahnya dengan air dingin setelah itu barulah ia bisa tertidur.
Pagi harinya, Rosa pimpinan sanggar langsung mengajaknya bertemu di ruangannya.
Dinda mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk keruangan Atasannya itu.
"Ada berita gembira, Din! Kita mendapatkan tender besar kali ini. Sanggar kita akhirnya bisa tertahan! "
"Syukurlah kalau begitu bu, apa ada hal lainnya? Kalau tidak saya akan mulai mengajar anak-anak."
Bu Rosa menahannya duduk lalu memberikan berkas ke hadapan Dinda.
Dinda melihat berkas yang disondorkan ibu Rosa kepadanya. Matanya terbelalak melihat kontrak kerja bagi model-modelnya di kanca Internasional.
Selain fashion show, mereka juga akan membintangi iklan-iklan branded terkenal. Ia benar-benar turut senang dengan berita ini.
"Coba lihat berkas dibelakangnya."
Dinda melihat lembar selanjutnya. Keningnya mengerut melihat persyaratan yang diminta pihak penyelenggara.
Mereka meminta jaminan agar setiap model yang terlibat, manager, instruktur, dan orang yang terlihat di event itu untuk tidak ada yang berhenti di tengah jalan atau sanggar akan dikenakan pinalti 10 kali lipat dari nilai kontrak yang ditawarkan.
Dinda memang terbeban melihat kondisi sanggar ibu Rosa tapi menjadikannya salah satu penjamin juga bukan hal yang mengenakkan.
Dia harus bisa pergi sewaktu-waktu jika diperlukan. Ia menghela napas berat. "Maaf Bu, tapi rasanya hal ini sulit untuk saya bantu."
__ADS_1
Ibu Rosa menggenggam tangannya dengan wajah sendu.
"Jarang sekali sanggar ini mendapatkan kesempatan unik ini, Din. Tolonglah, kami butuh jaminan dan komitmenmu di sanggar ini. Jika hal ini tidak kita lakukan, saya tidak sanggup untuk mempertahankan sanggar ini lagi. Banyak model yang mempertaruhkan hidupnya di sanggar ini."
"Saya memahami kondisi ibu dan anak-anak tapi saya tidak bisa terikat kontrak kerja seperti ini. Saya harus bisa pergi sewaktu-waktu tanpa harus terhalang birograsi seperti ini. Mohon maaf sebelumnya, yah Bu."
Air mata menetes dari mata Ibu Rosa. Cepat-cepat ia menghapusnya.
"Kurasa semua ini sudah takdir. Satu-satunya kenangan almarhum suamiku tidak juga bisa dipertahankan."
Ibu Rosa memandangi foto ditangannya dengan sedih.
Dinda menghela napas berat! Ia merasa tidak tega juga melihat tekanan yang dihadapi ibu Rosa.
Ia menimbang-nimbang segala sesuatunya.
Ia melihat pihak penyelenggara itu merupakan penyelenggara show terkenal di kota. Tidak mungkin rasanya kalau Dodi berkaitan dengan hal ini. Setahun..., ia menimbang-nimbang hal ini dalam hati.
Ia menghela napasnya lagi sebelum memberi jawab kepada Ibu Rosa yang terlihat hilang pengharapan hidup.
"Baiklah Bu, mari kita lakukan kontrak ini."
Ibu Rosa benar-benar tidak menyangka Dinda bersedia mengubah keputusannya. Ia langsung memeluk Dinda sebagai tanpa terima kasihnya sambil menangis haru.
__ADS_1