Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 5 judul pengenalan sekolah


__ADS_3

Bab 5


     "Halo, apa boleh saya duduk disini?"


     Wah dari suaranya kayaknya dia pasti terlihat sangat tampan. Aku bersorak dalam hati. Dengan buru-buru aku memasang wajah semanis mungkin, menengok kearahnya dan mulai mengangkat wajahku dengan perlahan sambil berkata dengan suara manis.


"Yah, bo ....!" Demi alam gaib, alam kubur, busyet dah! Aku jadi kaget melihat cowok yang mau duduk disebelahku itu. Mau copot jantungku rasanya. 


     Kenalin namanya Aldo. Dia lulusan Smp 19. Tubuhnya gemuk gempal, mungkin ada kali sekitar 100kg, kagak ada timbangan yang pasti untuk menerkanya. Dikira-kira aja pake 4 karung beras yg 25kg, ditumpuk jadi satu, nah itulah gambaran Aldo.


     Bukan aku mengejek yah temen-temen pembaca yang cantik, yang ganteng, yang imut dan mempesona, terus terang aku shock berat karena gambaran tentang pangeran pujaan langsung bubar grakk seketika itu aja. Kalian bisa bayangkan gambaran pangeran gantengku langsung pecah berkeping-keping.


     Pasti saat ini kerjaan cici Lucy Ang! Dia pasti lagi kumat jahilnya, kebiasaan deh. Dan aku sudah bisa membayangkan ekspresinya saat ini, melihat ekspresiku, pasti saat ini, dia lagi ngakak ngakak nggak ketahanan, sampe perutnya sakit dan keluar air mata geli!


     Biarin aku doain, cici lucy Ang ketiban ratusan ribu follower biar dia pening nanganin orang sebanyak itu! Diakan orangnya paling nggak mau repot, sedunia! Huh...


     Dalam hatiku, aku bertingkah seperti ini, aku berpangku tangan dan membuang wajahku. Ngambek ceritanya. Tapi sambil ngegayem dodol yang dari kemaren belom dimakan-makan. Hmm, ngomongin dodol kok jadi kepengen yah hihihi siapa hayoo yang mau anterin kesekolahanku!? Unjuk tangan, hayoo jangan malu-malu.


     Dody tanpa sengaja menyemburkan air kearahku. Mungkin dia memperhatikan tingkahku dari permulaan  sampe shock begini. Lalu ia tertawa keras-keras.


     Temen-temen yang udah berkumpul jadi bingung dan heran melihat tingkah Dody.

__ADS_1


     "Iya, silahkan duduk," kataku sambil tersenyum. Habis itu menarik hidung Dody dengan kesal. Bukannya dia berhenti tertawa malah tawanya terdengar lebih keras dan terpingkal pingkal.


     Setelah menggeser jarak bangku dan meja, akhirnya Aldo bisa duduk dengan nyaman. Untung saja, mejanya model sendiri-sendiri gitu, kalo nggak, bisa donk kalian bayangin bagaimana cara aku menulis. Kursi dimana, meja dimana.


     "Halo kenalin, namaku Aldo."


     "Halo juga, namaku Adinda. Panggil Dinda aja. Ini Dody, sahabatku dari kecil." kataku cepat-cepat mengalihkan pandangan Aldo yang tampaknya serius banget menatap wajahku. Kagak bergeming gitu.


Siapa dulu donk aku, kembarannya Titi Kamal, udah biasa membuat cowok-cowok terpesona melihat wajahku. Yang beginian mah udah biasa banget!


     Dody menyambut uluran tangan Aldo dengan cepat.


     Nggak lama kemudian, kami disuruh berkumpul di aula untuk memulai sesi pengenalan gedung dan organisasinya.


     Nama Rama. Dia kakak kelas kami, kelas 2a. Kelas paling favorit disekolah ini. Aku mengangguk-angguk mendengarkan dan menyerap informasi rahasia yang disampaikan Aldo kepadaku dan Dody. 


     "Aldo, kamu 'kan baru juga sekolah disini. Kok kamu bisa tau detail banget mengenai ketua osis kita? Sampe ukuran sepatunya aja kamu tau? Bingung aku."


     "Semua informasi ini, kalian bisa lihat di web sekolah. Ada jelas kok. Apa kalian kesini nggak membaca data informasi di web?" 


     "Nggak," jawabku dan Dody serempak. Lalu kami cekikikan berdua. Rupanya kikikan kami menarik perhatian Rama, dan saat ini matanya sedang memperhatikan aku, Dody dan Aldo. Ia mendehem dulu lalu melanjutkan kata-katanya lagi. 

__ADS_1


     Setelah lepas dari mata elang Rama, kamipun kembali mendengarkan informasi rahasia dari Aldo mengenai guru kiler dan lain-lainnya.


     Aku dan Dody sama-sama serius mendengarkan ucapan Aldo yang detail banget. Aku berbisik ditelinga Dody.


"Diinget-inget yah, ntar pulang kasih tau aku, aku ora mudeng dengernya."


(ps. Ora mudeng itu artinya tidak mengerti/ nggak masuk otak)


     Dody mengangguk-angguk mengerti.


     Setelah selesai pertemuan, kami dipersilahkan untuk langsung ke stand-stand promosi kegiatan ekstrakulikuler di halaman sekolah. 


     Aku terkagum-kagum melihat rentetan stand-stand kegiatan yang mulai dipadati murid-murid baru. 


     "Wah, keren yah Dot, luasnya hampir ngalahin lapangan gold papi kamu."


     "Matamu buta yah, mana ada hampirnya. Ini mah seutil."


(ps. Seutil itu Secuil/bagian kecil)


     Aku tidak menanggapi sanggahan Dody.

__ADS_1


"Wah stand itu rame banget yah, stand apa itu yah, yuk kesana yuk!" ajakku tapi buru-buru meninggalkan Aldo dan Dody. Apa ada pembagian sembako yah? Kalo bener kita nggak boleh ketinggalan, kan kita mesti cepet-cepet tuh kalo nggak nggak kebagian. Maksudnya bukan ngantri jatah sembakonya yah tapi jatah bantuinnya. Karena akukan orangnya ringan tangan dan suka menolong.


__ADS_2