Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 37 judul cemburu


__ADS_3

Bab 37


     Dinda menatap langit-langit apartementnya sambil mencucurkan air mata. Berbagai umpatan keluar dari mulut seksinya.


     "Dodi kurang ajar! Hidung belang! Katak hitam! Kambing guling!" Lalu ia memukul mukul ranjangnya kemudian menghela napas lalu berbalik ke kiri. Merasa ada yang salah dia berbalik lagi ke kanan dan kemudian dia menatap cermin, memandangi tampangnya yang kusut dan berantakan! Dia jadi makin menangis tidak keruan.


     "Kenapa aku harus bertemu dengannya lagi!!!" teriaknya keras-keras. "Tidak bisa begini!" Dinda mengambil teleponnya.


     "Wil, besok aku cuti seminggu. Aku mau pergi liburan!"


     "Baik, kita mau kemana?"


     "Kita? Tidak ada kita. Yang ada hanya aku."


     "Kebetulan aku memikirkan hal yang sama denganmu. Aku membeli tiket penerbangan ke hawai, terbang jam 5 subuh ini."


      Dinda terkejut mendengar tawaran Wildy dan mempertimbangkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Dalam hatinya merasa sedih ia belum bisa menerima kehadiran Wildy sebagai seorang pria yang mencintainya.


     "Wil, aku mau pulang ke rumah orang tuaku dan menghabiskan waktu bersama mereka. Mumpung Dodi ada disini, tidak mungkin dia tahu aku pulang ke Indonesia. Seandainya dia tahupun dia tidak akan sempat menyusulku pulang kesana."


     "Kalau begitu, begini saja. Kita berlibur sebentar ke Hawai kemudian baru pulang ke Indo, bagaimana?"


     "Seminggu ke hawai mana kerasa, Wil apalagi cuma 2-3 hari. Hanya cape di jalan saja buat apa?"


     "Bagaimana kalau kita ambil cuti tahunan, 2 minggu. 1 minggu di Hawai. 1 minggu lagi di Indo."


     "Seriusan!? Aku mau banget, Wil! Yah, sudah aku berkemas sekarang yah, tutup teleponnya cepetan, bye!"


     Marco memandangi telepon genggamnya sambil tersenyum. 


   


     Dodi meradang begitu tahu Wildy dan Dinda mengambil cuti tahunan bersama-sama. Dodi segera memberi perintah untuk menyelidiki kemana mereka berdua berlibur.

__ADS_1


     Dinda bersenang-senang di Hawai.


Wildy banyak mengabadikan foto mereka berdua.



Dinda sangat kooperatif dan selalu memasang wajah imut ketika Wildy mengangkat kameranya.


     "Cantik!"


     "Memang!" sahut Dinda sambil berlari ke arah pantai. 


     Udara di Hawai memang berbeda dari pantai umumnya. Biasa kalau di pantai lain 'kan, udaranya menderu-deru dan dingin, kalau disini, udaranya hangat dan sapuan anginnya lembut, tidak membuat kulit menjadi cepat lengket.


     Pantas saja banyak orang yang berlibur ke Hawai. 


     Wildy menyerahkan minuman kepada Dinda. "Bebas alkohol," kata Wildy sambil tersenyum manis.


     "Terima kasih."


     "Dalam rupiah?"


     Dinda mengangguk.


     "Kira-kira sekitar 130ribu."


     "Busyet! Apa kita ikutan jualan aja disini, Wil lumayan bisa dapet tiket balik gratis," kata Dinda dengan serius.


     Wildy tertawa mendengar ajakan Dinda. "Sekali-kali nggak apa, Din. Jangan terlalu hemat juga."


     "Seratus tiga puluh ribu udah dapet berapa kilo coba?!"


     "Nggak jauh bedalah sama di NY."

__ADS_1


     "Kalau kita pulang ke Indo, kita bisa hidup hemat tapi bisa makan dan minum yang enak-enak yah, Wil."


     "Oh, yah besok kita pergi beli oleh-oleh untuk orang tua dan keluarga besarmu yah," kata Wildy mengingatkan Dinda.


     "Untuk apa ketemu keluarga besarku?"


      "Jarang-jarang kita bisa pulang ke Indo, Din. Kita langsung tunangan aja gimana?"


      Dinda langsung menarik tangannya dari genggaman Wildy.


     Wildy terdiam sambil menatap tangan Dinda.


     "Maaf, Wil aku belum bisa memulai hubungan yang baru."


     "Din, kamu harus berjuang melupakan Dodi. Kalian memang tidak berjodoh."


     "Bicara itu gampang, Wil tapi kenyataannya, sangat sulit untuk dilakukan. Sudah berapa tahun aku mencoba, apalagi sebelumnya selama ini, hubungan kami selalu harmonis dan baik-baik saja. Terlalu banyak kenangan manis di antara kami, Wil. Entah apakah aku bisa berhasil atau tidak melupakan Dodi."


     "Aku paham Din, tapi kamu harus berjuang terus sehingga hatimu bisa terbuka untukku."


     "Yang jelas, Wil, tidak untuk saat ini, maafkan aku."


     "Aku paham."


     "Terima kasih," kata Dinda sambil merapikan rambutnya.


     


     


     


 

__ADS_1


 


__ADS_2