Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 38 judul liburan yang terganggu


__ADS_3

Bab 38


     Dinda dan Wildy bersenang-senang, berjalan-jalan santai menyusuri pasir yang hangat dan tertawa bersama.


     Dinda juga sudah terbiasa digandeng oleh Wildy dan tidak merasa aneh saat Wildy memeluknya dan berjalan beriringan seperti ini.


     Apalagi disaat-saat seperti ini, Dinda merasa lelah bila terbayang kembali ulah Dodi terhadap cinta mereka.


     Dia sudah bertekad untuk melupakan Dodi tapi sayangnya senyum dan bayang Dodi selalu melintas di benak Dinda.Dinda menangis dengan kesal dalam pelukan Windy.


     Meski dia agak terganggu dengan pandangan orang-orang yang melintas, tapi dia tidak keberatan karena Dinda percaya dan nyaman padanya. Ia bisa mencurahkan semua kegundahannya tanpa merasa takut dan tidak nyaman dengan keberadaannya.


     Ia harus bersabar, suatu saat ketika Dinda sudah berhasil melupakan Dodi, Wildy percaya Dinda akan mempertimbangkan cintanya.


     Dia tidak akan memaksa Dinda untuk menerimanya. Wildy tersenyum saat membayangkan hari itu akan tiba.


     Gelas dalam genggaman Dodi pecah melihat adegan Dinda berada dalam pelukan Windy.


     Amarah bergelora di dalam jiwanya! Ingin rasanya, dia berlari dan memisahkan Dinda dari pelukan Wildy!


     Ia melihat darah segar yang mengalir di telapak tangannya tapi anehnya ia tidak merasakan apa-apa.


     Akal sehatnya segera menghentikannya! Kalau dia melakukan hal itu, Dinda akan semakin membencinya dan ia yakin hal itu akan mendorong Dinda untuk nekat menerima Wildy sebagai kekasihnya. Dodi tidak mau kalau hal itu sampai terjadi!


     Beberapa saat kemudian, asistennya membawakan kotak p3k dan segera membersihkan luka Dodi dan membalutnya.


     "Tidak," kata Dodi dalam hati. Untuk memenangkan hati Dinda, ia harus bermain cantik dan tidak terburu-buru, tambahnya lagi dalam hati. Dinda..., erang Dodi dengan hati yang sedih. 


     Wildy membawa Dinda dalam bopongannya dan mereka berlarian di pesisir pantai. Mereka bermain air dan tertawa bersama.

__ADS_1


     Gambaran yang tidak sempurna, karena seharusnya aku yang berada di sana bersama Dinda, erang Dodi dalam hati.


     Air mata Dodi mengalir deras tanpa sadar.


     "Segera kembali ke hotel!" perintahnya kepada asistennya.


     Dengan setia para asistennya mengikuti langkah Dodi.


     Wildy menerima telepon dari kantor. Ada masalah dengan kontrak kerja dengan perusahaan Maxmara. Wildy hanya bisa terdiam sambil menatap Dinda.


     Dinda mengerti apa yang Wildy ingin katakan saat ini, dia tersenyum. "Kenapa? Ada masalah di kantor?"


     Wildy mengangguk. "Mereka menyuruhku untuk cepat kembali. Tapi ...," kata Wildy dengan ragu.


     "Kalau begitu kembalilah, aku akan tetap di sini dan melanjutkan liburanku dalam kesendirian seperti rencana semula."


     "Tapi ...!"


     "Pulanglah bersamaku."


     Dinda menggeleng. "Aku perlu waktu sendirian, Wil."


     Wildy menghela napas berat tapi akhirnya ia mengangguk. "Aku akan kembali secepatnya."


     "Kita bertemu di NY saja. Aku ingin menikmati masa-masa sendiri dan menemui orang tuaku."


     "Aku akan menyempatkan waktu untuk bertemu dengan kedua orang tuamu."


     Dinda tertawa dan menggeleng. "Nanti jika kita sudah berkomitment untuk menikah, aku akan membawamu ke rumah orang tuaku. Saat ini, aku tidak mau membuat semua keadaan bertambah rumit."

__ADS_1


     Wildy memendam rasa kecewanya dengan senyuman kecut.


     Dinda menghibur Wildy dengan cara memegang tangan Wildy sambil tersenyum manis.


     Hati Wildy berdesir memandangi Dinda, tanpa sadar ia mendekat perlahan mendekati bibir Dinda.


     Dinda terpaku melihat Wildy yang akan menciumnya saat ini.


     Tanpa sadar, ia bangkit dari kursinya dan mengalihkan pembicaraan. "Ayo, kita lomba lari!" seru Dinda sambil memaksakan dirinya untuk tertawa. 


     Wildy menghela napas panjang lalu mulai mengejar Dinda dengan gemas.


     Dinda memekik berlari menghindari kejaran Wildy!


     Ketika kejarannya kena, Wildy segera menggendong Dinda dan memutarnya sehingga Dinda harus berpegangan erat padanya.


     Mereka terengah-engah sambil tertawa bersama.


     "Aku yakin, suatu hari hatimu akan terbuka untukku, Din."


     Dinda hanya bisa tersenyum kecut tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada Wildy.


     


 


     


     

__ADS_1


     


    


__ADS_2