
Bab 33
Pagi harinya Wildy menjemput Dinda untuk berangkat ke kantor pusat bersama-sama.
Wildy menggenggam tangan Dinda tapi Dinda menolaknya dengan alasan banyak mata yang memperhatikan mereka tapi Wildy tidak mengindahkan alasan Dinda. Dengan santai dia menggenggam tangan Dinda.
Kali ini Dinda membiarkan kelakuan Wildy. Ia seolah ingin menyatakan kepemilikan atas Dinda. Dinda sungguh bingung menghadapi perubahan sikap Wildy terhadapnya.
Entah kenapa hari ini banyak orang yang menunggu di depan lift tapi tidak berani masuk.
Di dalam lift banyak berhimpitan lelaki berjas hitam terlihat seperti pengawal. Mungkin ada pimpinan tinggi yang datang, pikir Dinda dalam hati.
Dinda dan Wildy menunggu di lift berikutnya tapi pintu lift segera membuka kembali.
Lelaki berjas itu menahan lift untuknya dan menyuruhnya masuk.
Tapi Dinda menolak dan memilih untuk menunggu karena lift sudah penuh sesak kemudian, pria-pria berjas itu berurutan keluar dari lift satu persatu sambil mempersilahkan Dinda masuk ke dalam lift tapi menghalangi Wildy yang mau naik bersama Dinda ke dalam lift.
Dinda terlambat untuk keluar lagi dari lift karena pria berjas hitam lainnya sudah menekan tombol naik.
Tidak lama kemudian pria berjas hitam lainnya keluar dari lift. Dinda menunggu lagi sambil melihat lift mencapai lantai 106.
Tiba-tiba lift berhenti bergerak! Dengan tenang, Dinda menunggu kemudian karena tidak ada renspon Dinda menekan tombol alarm dan memberitahu lift berhenti dan tidak bergerak naik. Operator mengatakan ada gangguan teknis lalu menyuruh Dinda untuk tetap tenang dan menunggu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Wildy meneleponnya untuk menanyakan di mana dia saat ini.
"Masih di dalam lift. Ada gangguan teknis. Mereka menyuruhku menunggu. Kalau pertemuan sudah dimulai, mulailah tanpaku. Halo, halo?"
Entah kenapa tiba-tiba tidak ada sinyal di dalam lift. Dinda memasukkan hpnya dan mulai menunggu dengan sabar.
"Siapa dia, Dinda?"
Suara itu! Dengan kaget dan jantung berdebar, Dinda berbalik dan terperangah melihat sosok yang sekarang berada didepannya itu. Dodi!
"Apa yang kau lakukan disini!?" tanya Dinda dengan marah lalu cepat-cepat menekan tombol alarm lagi. Meminta agar petugas cepat memperbaiki lift mereka!
"Ingin melarikan diri lagi!?" tanya Dodi dengan wajah yang tidak terbaca.
Dinda kaget karena Dodi tiba-tiba memegang tangannya dan menghimpitnya ke dinding lift.
"Apa yang kau lakukan!? Lepaskan aku, Dot!" seru Dinda dengan marah.
Dengan cepat Dodi mencium Dinda dan tidak memperdulikan Dinda yang berontak dan ingin menjauh darinya tapi Dodi tidak melepaskan Dinda dan tetap memaksa mencium Dinda.
"Dodi! Lepaskan Dinda!" gumamnya di sela-sela ciuman Dodi.
Entah apa yang terjadi pada Dinda, dia menjadi begitu merindukan Dodi semua kemarahannya tampak meleleh di dalam pelukan dan ciuman Dodi.
__ADS_1
Dodi melembutkan ciumannya lalu menempelkan keningnya ke kening Dinda.
Tiba-tiba Dinda menangis sambil memukul-mukul Dodi tanpa tenaga. "Kamu jahat, Dot. Kamu punya cewek lain. Kamu menghianati Dinda," kata Dinda merisak di dalam pelukan Dodi.
"Dodi tidak pernah menghianati Dinda. Dodi dijebak! Dan Dodi percaya ini ulah orang yang tidak suka dengan hubungan kita, Din! Percaya sama Dodi. Dodi tidak bisa hidup tanpa Dinda. Hanya Dinda satu-satunya wanita dalam hidup Dodi."
Seketika, bayangan Dodi telanjang berdua dengan wanita itu datang lagi. Dinda mendorong tubuh Dodi sekuat tenaga! Dan segera menghardik Dodi untuk menjauh darinya. Sorot mata Dinda mengambarkan rasa sedih yang dalam dan meluapkan kemarahannya selama ini.
Dodi memeluk Dinda dari belakang dan tidak berniat melepaskan Dinda.
Dinda berontak dan mencoba mendorong Dodi lagi.
Dodi menciumnya lagi. Kali ini entah kenapa Dinda terdiam dalam ciuman Dodi. Rasa rindu yang selama ini dia pendam menyeruak seketika sehingga dia membiarkan dirinya membalas ciuman Dodi.
Entah bagaimana, mereka saling berciuman dan saling menyentuh satu sama lain dengan penuh kerinduan lalu tiba-tiba gambaran penghianatam Dodi kembali menyadarkan Dinda dan dengan cepat Dinda menguasai dirinya dan melepaskan diri dari Dodi.
__ADS_1