
Bab 19
Mami papiku memberi ruang kepada kami untuk menyelesaikan masalah diantara kami, sementara mami dan papi Dodi pamit untuk pulang.
"Kamu kenapa toh, Din? Aku salah apa?!" tanya Dodi ketika mami dan papi Dinda masuk kedalam kamar.
Tiba-tiba air mataku bercucuran tanpa henti dan aku menangis sesenggukkan tanpa bisa dicegah.
Dodi langsung berusaha menenangkanku. Dia yakin mami papi Dinda sedang mendengarkan dari balik pintu.
"Dodi ada salah apa, Din? Ngomong aja, Dodi akan perbaiki. Dodi minta maaf yah, meski Dodi nggak tau salah apa sama Dinda. Dinda nangis dulu sepuasnya, nanti baru ngomong yah sebabnya Dinda menangis, sama Dodi."
Sambil masih sesenggukan, aku mengangguk kemudian menangis lagi.
Dodi memelukku dan menepuk-nepuk punggungku sampai aku merasa tenang.
"Dinda jadi ngantuk, Dot. Dinda mau bobo dulu yah, Dodi pulang aja."
Dodi kebingungan dengan sikap Dinda. "Dinda nggak mau ngomong kenapa Dinda menangis barusan?"
Aku menggeleng kelelahan. "Dinda cape, Dinda mau bobo," kataku lagi sambil masuk kedalam kamar dan menguncinya.
Mami papi Dinda keluar dari kamar sambil berbisik, bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Dodi juga tidak bisa memberikan penjelasan kepada kedua orang tua Dinda sebab sampai sore tadi semuanya masih oke-oke saja.
Mami papi Dinda menenangkan Dodi dan menyuruh Dodi pulang dulu.
Saat mami Dinda masuk kekamar Dinda, Dinda sudah pulas tertidur. Jadi dia keluar kamar dan menutup pintu pelan-pelan.
Akhirnya orang tua Dinda juga beristirahat. Menunggu pagi, baru menanyakan apa yang terjadi saat ini kepada Dinda dan Dodi.
Tapi pagi harinya, Dinda sudah berlaku sewajarnya ia biasanya. Ceria dan polos.
Dodi dari subuh sudah menunggui Dinda keluar dari kamar.
"Maafkan Dinda yah, Dodi. Entah kenapa Dinda semalam jadi sebal sama Dodi tiba-tiba."
"Dinda lupa kenapa Dinda sebel sama kamu setelah menangis semalam. Ntar kalo Dinda ingat Dinda kasih tau, Dodi yah."
Dodi garuk-garuk kepala sambil melirik mami papi Dinda yang saat ini sedang menepuk jidat mereka.
Kemudian mereka menepuk bahu Dodi sambil menenangkan perasaan Dodi dalam menghadapi tingkah laku aneh Dinda semalam. "Yang sabar yah, Dot."
"Iya mi, Dodi berangkat dulu yah sama Dinda kesekolah."
"Loh Dot, bukannya ini hari sabtu! Sekolah libur kan!?"
__ADS_1
Sekarang giliran Dodi yang menepuk jidatnya. "Aduh, kenapa Dodi jadi ngalen, maaf yah mami papi, Dodi pulang dulu tuker baju. Dodi mau ajak Dinda pergi jalan-jalan boleh?"
(Ps. Ngalen artinya pelupa.)
"Yah, Dot silahkan. Tapi pulangnya jangan malem-malem yah," kata mami.
"Iya mi, Dodi tukar pakaian dulu yah mi, itu tolong sampaikan ke Dinda suruh siap-siap."
"Yah, ntar mami suruh dia bersiap-siap."
Dodi segera terbang kerumahnya dengan semangat '45 yang membara didadanya.
Sambil berdandan rapi, lengkap dengan semprotan minyak wangi keseluruh tubuhnya, Dodi memperhatikan lagi penampilannya dikaca sambil mengangguk-angguk percaya diri.
"Tampan! Mari kita menjemput ratu kita!"
Dodi berlari keluar dari rumahnya dan masuk kedalam rumah Dinda dengan gembira tapi langkahnya terhenti karena Dinda masih mengenakan piyamanya sambil berpangku tangannya dengan wajah marah.
Dodi mendadak lemas. Pasti dia sudah ingat alasan dia marah padanya! Tuhan, tolong aku! Teriak Dodi dalam hati.
__ADS_1