Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 4 judul Dodi memberi ijin


__ADS_3

Bab 4


Sebetulnya bukan baru kali ini aja, aku ngeliat Dody menangis. Waktu dulu, waktu masih kecil, sih Dody dipanggil pulang sama papinya karena sudah malem. Tapi dia masih asyik main dirumahku, nggak mau pulang.


Jadi waktu aku udah ngantuk, aku suruh dia pulang. Akhirnya dia pulang juga. Pas aku masuk kamarku, bersiap tidur aku kaget mendengar suara tangis keras banget. Setelah didengarkan dengan seksama, barulah aku tau Dody yang menangis. Dia minta dibukain pintunya sama papinya tapi nggak kunjung dibukain.


"Kamu tidur diluar aja malam ini," kata papi Dody dengan kesal, Dody nggak denger-dengeran dia. Padahal malem ini adalah jatah duaan sama maminya. (tentu aja ini aku nggak tau yah, ceritanya wkwkkw)


Jadi kalau ingat waktu itu, aku jadi ngakak lagi. Lucu banget soalnya! Anak laki-laki yang selalu bersikap tangguh dan selalu melindungiku, bisa nangis ngegoak-goak gitu (ps. Ngegoak-goak itu artinya menangis keras-keras).


Kalau sekarang nggak tau kenapa aku nggak bisa ngakak. Hatiku jadi ikutan sedih ngeliat Dody menangis sambil sesekali menyeka air mata dan ingusnya pake sapu tangan pemberianku.


"Dody sayang Dinda 'kan?" tanyaku pada akhirnya sambil memegang kedua bahu Dody sambil menatapnya lekat-lekat.


 "Sayang, tapi aku nggak mau putus dan aku nggak mau kamu punya pacar lain selain aku!"


Dody menangis lagi sambil berusaha bersandar padaku. 


Aku menahan kepala Dody pake jariku, biar itu ingus sama air matanya nggak nempel di seragam baruku.

__ADS_1


Penampilan mesti nomor satu, apalagi ini sekolahan barunya. Dia mau ngeliat cowok-cowok kagum dengan penampilannya yang rapi dan wangi.


Kalo cantik itu relatif, aku nggak mau bilang kalo aku ini cantik. Aku nggak mau sombong, tapi kalo mau dimirip-miripin, kayaknya aku beda tipis cantiknya dari kakak Titi Kamal, kalian tau 'kan yang artis terkenal itu loh. Jadi kebayang donk yah, gimana cantiknya aku.


Semoga nantinya aku juga bisa dapet suami yang ganteng kayak suaminya kakak Titi Kamal. Amin! (ps. Maaf kakak Titi kamal jangan marah yah, jangan tersinggung dijadiin gambaran kecantikannya Dinda, muahhh. )


"Dot, Dinda janji. Dinda nggak minta putus lagi tapi Dinda tetap mau ngerasain punya pacar beneran. Dinda penasaran rasanya. Apalagi kalo ngedenger cerita temen-temen Dinda, Dinda nggak ngerti apa yang mereka omongin. Masa iya, Dinda sampe menikah, nggak ngerti apa itu cinta. Dody ngerti 'kan yang Dinda omongin?"


"Jadi kita nggak putus kan?!" tanyanya lagi.


"Nggak putus, cuma status berubah, disekolah Dody bukan pacar Dinda tapi sahabat Dinda. Ngerti nggak!? Kalo dirumah terserah deh. Dinda udah pasrah! "


"Tapi aku nggak tahan kalo kamu deket sama cowok lain, Dinda. Rasanya mereka akan mengambil kamu dari aku. Terus nanti akunya gimana, Din!?" Dody merengek-rengek seperti anak kecil.


"Dinda janji. Kalo Dinda udah bisa ngalami cinta kayak mereka, Dinda pasti udahan sama mereka. Dan Dody boleh ngomong ke mereka bahwa sebenernya Dinda adalah pacar Dody."


"Kalau begitu, Dinda mesti cium Dody dulu!"


"Ih, apaan sih Dot, kok Dody jadi jorok begitu!" jawabku buru-buru mau meninggalkannya.

__ADS_1


"Kalau begitu, Dinda mesti janji nggak akan kasih ciuman pertama Dinda ke mereka, gimana!?"


"Iyalah Dot, mana boleh juga, ciuman sebelum menikah. Dosa ntar malah." 


Dody memandangi aku lama sampe akhirnya, dia mengangguk setuju.


"Beneran yah Dot, boleh!? Yuhuuu, akhirnya Dinda bisa ngerasain juga apa itu cinta!"


Mendengar kata-kata Dinda, Dody merasa hatinya terbelah jadi dua dan berdarah-darah. Dinda, kenapa kamu nggak bisa ngeliat kesungguhan hati aku. Dan kenapa kamu nggak bisa cinta sama aku?! 


Dinda mengajaknya berdiri dan cepat-cepat mencari kelas mereka.


Setelah mereka melihat daftar pembagian kelas di papan pengumuman. Akhirnya mereka masuk kelas yang sudah ditentukan untuk meletakkan tas dan bekal mereka.


Dody berada dikelas yang sama dengannya. Pasti sebangku lagi, desahku dengan putus asa. Melangkah lunglai ke bangku nomor tiga dari depan.


Sekilas Dody memperhatikan sikap Dinda yang mendadak lemes tidak berselera gitu. Dia akhirnya mengambil inisiatif untuk mengambil tempat duduk dibelakang bangku Dinda dan bukannya disebelahnya. Dody langsung menundukkan kepalanya diatas meja. Tidak mau menghiraukan Dinda.


Dibawah meja, Dody menahan sekuat tenaga, rasa sedihnya.

__ADS_1


Dinda menyangka Dody akan duduk disebelahnya seperti biasa, tapi terkejut karena Dody sudah mengambil tempat duduk dibelakangnya, dan bukannya disebelahnya seperti biasanya.


Aku merasa senang sekali. Bisakah kalian bayangkan perasaanku saat itu!? Rasa merdeka gitu loh, akhirnya aku bisa duduk sama orang lain. Ini adalah pengalaman yang pertama dan yang menyenangkan yang terjadi padaku! Author cici Lucy Ang, terima kasih! I love u! Love love paling terlove, wo i ni! Tanpa bisa dicegah, aku melompat-lompat tanpa suara merasa sangat kegirangan. Lalu duduk kembali dengan manis menunggu kedatangan penghuni bangku kosong disebelahku.


__ADS_2