
Bab 16
Acara makan es krim bareng Rico batal. Dodi mengeluh badannya cape-cape habis pertandingan. Dia minta aku menemaninya ke sauna mangga besar. Karena merasa tidak enak, aku mengusulkan agar Rico bisa ikut sekalian, tapi Dodi tidak mau. Dia menyuruhku memilih ikut Dodi atau Rico.
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut Dodi.
Dengan langkah gontai, aku menghampiri Rico dan mengatakan permohonan maaf.
"Nggak apa-apa. 'Kan masih ada besok hari," katanya sambil membelai rambutku. Reflek aku menghindar, malu tau aku belum keramas soalnya.
Rico agak kaget melihat aku menghindari sentuhannya.
"Maaf, Rico. Rambut Dinda belum keramas dua hari. Jadi minyakkan pastinya. Ntar tangan Rico jadi bau," kataku sambil tersenyum kikuk.
Rico merasa lega setelah mendengar penjelasanku. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Yah silahkan, tanya saja."
"Kamu dan Dodi, pacaran?"
Seharusnya aku menyanggahnya tapi entah kenapa aku mengiyakannya.
Rico tampak sangat kecewa mendengar kejujuranku.
"Maaf yah, ko kalau kamu kecewa. Terus terang Dodi dan aku sudah terikat dalam hubungan pacaran dari kami kecil. Tapi aku sama sekali, belum pernah jatuh cinta."
"Aku ingin sekali merasakan jatuh cinta, untuk itulah aku meminta ijin kepada Dodi untuk bisa merasakan bagaimana jatuh cinta itu."
"Jadi untuk apa kamu pacaran kalau kamu nggak cinta, Din. Itu salah."
"Aku juga merasa itu salah, untuk itulah aku selalu meminta Dodi untuk putus, tapi dia nggak mau. Karena hubungan kami sudah lama, jadinya aku memahami perasaannya kepadaku, makanya aku hanya meminta ijinnya agar aku bisa merasakan bagaimana jatuh cinta itu."
"Aku juga nggak tau mau bertanya sama siapa. Kalau bertanya sama mami papi, aku malu. Aku tanya Dodi, dia nggak mau jawab."
__ADS_1
"Dinda, sekarang aku tanya. Apakah kamu merasakan sesuatu saat bersamaku?!"
Aku mengangguk.
"Bisa kamu gambarkan gimana rasanya?"
Aku mengangguk. "Saat pertama kali aku bertemu kamu, aku rasanya mau lari."
"Loh, kok malah lari? Apa kamu takut melihatku?!"
"Bukan takut," jawabku cepat-cepat. "waktu itu, nggak tau kenapa. Saat itu jantungku ini, jadi berdebar sangat kencang. Aku merasakan hal yang berbeda saat aku melihatmu. Tapi aku nggak tahan, untuk itulah aku lari ke toilet. Entah sudah berapa kali aku membasuh wajahku, rasanya masih memerah saat aku teringat kamu lagi."
"Itu tandanya, kamu telah jatuh cinta sama aku, Din!" kata Rico sambil tersenyum cerah. Ia mengambil tangan Dinda dan menggenggamnya dengan erat.
"Dan aku juga jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu, Din."
"Oh, begitu yah ko, terus gimana caranya biar aku nggak deg-degan terus saat ngeliat kamu? Nggak enak banget, ko. Diwajahku ini, rasanya panas gitu."
Rico tertawa mendengar kepolosanku.
"Aku nggak boleh pacaran sama orang lain, ko kata Dody. Dia cuma ijinin aku untuk ngerasain jatuh cinta, bukan untuk pacaran sama orang lain."
Rico jadi garuk-garuk kepala mendengar penjelasan Dinda.
"Dinda sayang, sekarang aku tanya, kamu cinta nggak sama Dodi?"
Aku menggeleng.
Rico langsung tersenyum lega. "Kamu sayang sama Dodi?" tanyanya lagi.
"Meski terkadang Dodi suka jahil tapi Dodi baik banget sama Dinda, jadi Dinda sayang sama Dodi."
"Kamu sayang Dodi sebagai apa? Pacar atau sahabat?"
__ADS_1
"Sahabat."
"Nah, lazimnya. Kalau sama sahabat itu, nggak boleh pacaran. Kalo pacaran itu, khusus kayak kita gini nih, aku cinta kamu, kamu cinta aku. Nah itu baru bener, kalo kita menjalin hubungan lebih dari sahabat."
Aku mengaruk-garuk kulit kepalaku yang tiba-tiba terasa gatal. Aku nggak ngerti apa yang Rico omongin ke aku. Rasanya kata-katanya, seperti dengungan lebah yang terasa mengganggu.
"Ngerti nggak, Din?"
"Dinda nggak tau ko. Tapi yang jelas Dinda nggak boleh punya dua pacar, dosa."
Rico ingin sekali memeluk Dinda yang polos banget. Tapi ia menahan diri. "Pacar Dinda itu cuma satu, yaitu Rico. Dinda harus putusin hubungan dengan Dodi. Karena Dinda nggak cinta sama Dodi."
"Dinda nggak bisa putusin Dodi. Kalau Dodi sedih gimana?! 'kan kasihan dianya."
Rico jadi ingin meremas rambutnya karena belum berhasil menyakinkan Dinda.
"Sekarang Rico tanya, kalau Rico dan Dodi jatuh kesungai, siapa yang mau Dinda selametin?!"
"Kalau hal itu terjadi, Dinda bakalan diem aja."
"Loh, kok begitu, Din!?"
"Habis Dinda 'kan nggak bisa berenang!"
Gubrak! Rico tertawa putus asa menghadapi kepolosan Dinda dalam berpikir.
Cici Lucy Ang, tolong berikan Dinda sedikit kepekaan akan cinta, jadi saya nggak gini-gini amat memberi penjelasan kepada Dinda. Rico menangis dalam hati. (tolong donk yang pinter gambar komik gambarin Rico yang lagi nangis wkwkwk) Dan dia langsung terduduk lemas saat Dinda buru-buru pergi untuk menyusul Dodi.
Tobat, tobat! Mesti sabar tingkat dewa ngadepin Dinda.Rico mengelus-elus dadanya.
__ADS_1