
Bab 18
Malam ini aneh, kenapa aku selalu terbayang kejadian tadi sore itu yah? gumamku tidak mengerti.
Aku berbalik ke kanan, ke kiri, mencoba untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur.
Akhirnya aku terduduk dengan kesal. Emangnya ada apa sih dengannya?! Perasaanya jadi nggak enak begini. Resah banget!
Kalian ngerti nggak sih, apa yang saat ini sedang aku alami!?
Aku bingung.
Bawaannya pengen marah gitu sama Dodi. Tapi, apa yang mau dimarahin yah, soalnya 'kan, Dodi nggak salah apa-apa. Malahan karena Dodi hari ini, aku bisa makan es krim yang enak. Tapi kenapa yah aku jadi resah gini?! Rasanya nggak enak banget bawaannya!
Biasanya, kalo liat penggemar-penggemar Dodi, aku biasa aja tapi kenapa yah tadi sore itu aku seperti mau marah gitu!?
Apa karena Dodi nggak ngakuin aku sebagai pacarnya di depan cewek-cewek itu yah? Tapi, yang Dodi lakukan itukan berdasarkan kemauanku. Jadi kenapa aku jadi marah gini yah?
Saat ini, aku merasa ada uap yang keluar dari kepalaku. Kesel gitu bawaannya.
Karena nggak bisa tidur, akhirnya aku bangun dan menghangatkan
segelas susu didapur.
Mami mendengar suara-suara aneh didapur. Otomatis, mami membangunkan papi yang sedang ngorok dengan merdunya. Melodi terpesona, aku terpesona wkkwk. Biar asyik bang goyangnya. Serrr eh kok jadi joget sih, harusnya kan panik yah hehehe.
__ADS_1
"Pi, pi bangun pi! Ada tikus kayaknya didapur pi!"
"Biarin aja mi, kan mami sudah pasang jebakan tikus. Udah sekarang kita tidur lagi yah, papi ngantuk. Besok mau dinas keluar kota."
"Kalau bukan tikus, gimana pi? Apa ada pencuri yang masuk yah!?"
Mata papi otomatis langsung melek dan seger tiba-tiba. Cepet-cepet papi bangun, sambil membawa tongkat kastinya!
Mami mengikuti dari belakang dengan perasaan cemas.
Lampu ruangan tamu masih gelap. Hanya lampu dapur yang menyala. Saat dipertengah jalan. Lampu dapur dimatikan. Papi dan mami menghentikan langkahnya dan berjalan hati-hati tanpa suara.
Tiba-tiba kilatan lampu, ngeblit-ngeblit gitu mulai keluar dari dapur. Papi dan mami, terdiam dan otomatis menghentikan langkah mereka.
"Hantu!!!!"
Otomatis aku juga teriak dan berlari kearah mami dan papi. Yang aku bingung, mereka malah berlari menjauhiku sambil masih teriak-teriak histeris.
Begitu sadar kondisi yang sebenarnya, aku segera menyalahkan anak lampu.
"Mami! Papi! Stop, ini Dinda."
"Aduh, kamu ini bikin mami papi kaget, tau nggak!? Untung nggak jantungan ini!" kata mami sambil jatuh terduduk disofa.
"Aku lagi manasin susu mi, didapur, aku juga kaget, mami papi teriak hantu! Kukira ada hantu beneran!"
__ADS_1
"Orang mah nyalahin lampu kenapa sayang, bikin kaget aja. Mami papi kira, ada pencuri yang masuk!" seru mami sambil berusaha menenangkan dirinya.
"Mami papi 'kan, selalu mengajarkan Dinda untuk hemat listrik. Jadi setelah Dinda selesai didapur, lampu dapur Dinda matiin, Dinda pake senter," kataku sambil memperlihatkan senter ditanganku, "Mana tau, bikin kaget mami papi. Maaf yah mami, maaf yah papi. Dinda nggak sengaja."
Aku menyondorkan 2 gelas air mineral buat mami papi minum.
Dalam sekejap, air mineral sudah diminum habis.
Digerbang depan, Dodi dan mami papinya dan juga beberapa tetangga heboh berdatangan dan memanggil-manggil kami.
Dengan cepat mami, papi dan aku keluar dan segera memberi penjelasan sambil memohon maaf karena telah mengganggu istirahat para tetangga.
"Aduh sayang, kukira ada apa tadi, syukurlah semua baik-baik aja!" kata Dodi sambil menarik napas lega.
Tiba-tiba emosiku memuncak mendengar kata-kata Dodi. "Semua ini gara-gara Dodi!" seruku dengan emosi.
Mami, papi, Dodi dan mami papinya sama-sama kaget mendengar seruanku yang penuh dengan emosi.
__ADS_1