
bab 42
Setelah sarapan, Dodi mengajak Dinda untuk berbelanja keperluan ibu dan bayi di mall.
"Repot bawanya, Dot. Ntar aja kalo udah sampe di Indonesia. Di sana geh banyak yang bagus-bagus. Dinda pikir nggak ada bedanya."
"Bukan begitu Din, bayi kita ini 'kan proses pembuatannya di hawai, jadi kita mesti beli beberapa baju dan perlengkapannya di sini, jadi dia percaya bahwa dia dibuatnya pas kita di sini."
"Emang ngaruh yah Dot?" tanya Dinda sambil garuk-garuk kepala memikirkan ucapan Dodi.
"Ngaruhlah, sayang. Yah udah pilih lagi. Yang ini lucu nggak?" tanya Dodi mengalihkan keraguan Dinda.
"Kita 'kan nggak tau anak kita nantinya cewek apa cowok, Dot. Ntar aja belinyalah."
"Yah udah, kita beli aja sepasang dan siapa tau anak kita kembar, Din!" Dodi berseru dengan gembira.
"Waduh kalo kembar anak kita langsung dua dong, Dot ntar cara ngelahirinnya gimana? Dinda takut Dot!" ucap Dinda dengan panik.
"Tenang, ntar sesar aja."
Dinda mengangguk-angguk.
Seorang pelayan wanita menghampiri mereka.
"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya. Kalau boleh saya bantu, mau cari buat kado atau buat anak sendiri."
Dodi dan Dinda mengelus-elus perut Dinda dengan bahagia. "Anak sendiri," jawab mereka kompak.
"Oh, selamat yah. Kalau boleh tahu jenis kelamin anaknya, apa sudah tahu."
"Kembar kak tapi belom tau cewek atau cowok," jawab Dinda dengan polos sambil memandangi Dodi.
Dodi mengangguk-angguk. "Iya kak, tolong cariin yg lucu-lucu yah, jadi mereka percaya kalo mereka itu dibuatnya di Hawai."
Pegawai wanita itu berusaha menyembunyikan senyuman gelinya mendengar ucapan Dodi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita perlu sepasang baju bayi perempuan dan sepasang baju bayi laki-laki, benar yah?!"
"Yah, benar."
Dodi dan Dinda menjawab kompak.
"Nyonya dan Tuan serasi sekali. Cantik dan ganteng, pasti anak-anak kalian nanti imut dan menggemaskan banget!"
Dinda tersipu malu.
Senyum Dodi mengembang merasa bangga!
Mereka juga membeli sepasang sepatu, topi, selimut dan berbagai model bertemakan bayi Hawai.
"Dinda haus, Dot!"
Dodi segera menjentikkan jarinya. Asistennya datang dengan menyerahkan susu hamil rasa stawberry.
"Enak Din?" tanya Dodi dengan penuh kasih sayang sambil menghapus peluh di kening Dinda.
"Sekarang kamu tanya anak kita, dia kepengen makan apa?" kata Dodi terus membangkitkan rasa keibuan Dinda agar Dinda tidak memikirkan cara meninggalkannya ntar begitu dia ingat.
"Dot, kok cuma dede kembarnya aja yang ditanya sih, Dindanya nggak ditanya mau makan apa!?" seru Dinda merasa tidak senang.
"'Kan dede yang mau juga kamu yang makan, Din!" sahut Dodi sambil tertawa dan mengelus rambut Dinda.
Dengan cepat Dinda menepis tangan Dodi sambil melotot. "Yah bedalah, Dot! Udahlah, Dinda nggak mau jadi istri Dodi lagi!"
"Aduh amit-amit, amit-amit jangan sampe dong Din. Selamanya kamu istrinya Dodi. Jangan ngambekan begitu yah. Sekarang Dodi tanya deh, maminya ade kembar mau makan apa nih?"
Cembetut Dinda langsung menghilang, digantikan dengan senyum yang lebar dan mata yang berbinar.
Dodi segera memeluk istrinya itu dengan perasaan lega dan bahagia. Mau copot jantungnya ia rasa saat tadi saat mendengar perkataan Dinda waktu ngambek. Dia harus benar-benar berhati-hati menghadapi Dinda yang agak sensitif.
"Pertama kita makan es krim dulu, Dot. Abis itu kita makan siomay, lomie,.."
__ADS_1
"Dinda sayang, itu makannya di Indonesia aja yah, inget sayang, kita sekarang lagi ada di mana."
Cari di mana coba makanan Cina di Hawai, pekik Dodi dengan galau dalam hati.
"Yah, udah kalo begitu nggak usah tanya Dinda dong! Cape-capein Dinda mikir aja!" seru Dinda kembali ke aksi ngambeknya.
Dodi garuk-garuk kepala melihat tingkah istrinya itu.
Dodi membuka hpnya dan mencari festival yang sedang diselenggarakan saat ini.
"Din, cocok nih! Ayo, buruan."
Dodi memperlihatkan ada festival kuliner dan hiburan di dekat tempat mereka berada saat ini.
Yang tadinya Dinda mengikutinya dengan perasaan bete, setelah sampai di lokasi matanya langsung terbelalak melihat kuliner yang digelar berbaris sepanjang tenda yang membentang luas.
Berbagai makanan dipajang. Para tamu berdesakkan untuk memesan makanan mereka.
Mata Dinda serasa menyala-nyala. Ia bermaksud menjajal semua menu yang ditawarkan di festival itu.
"Ini kayaknya enak, Dot."
"Yah, Din kamu bebas beli apa aja yang kamu mau."
"Pertama, kita beli yang nggak ada di Indonesia dulu Dot, abis itu kita jajalin semua yang ada di sini..."
Dodi hanya mengangguk-angguk karena merasa bahagia bisa mendengar celoteh Dinda lagi.
Dodi menggandeng tangan Dinda dan mulai mengajaknya berkeliling.
__ADS_1