Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 28 judul berasa tea pay


__ADS_3

Bab 28


     Hari ini, Wildy menjemputku untuk makan malam dengan kedua orang tuanya.


     Aku mengenakan pakaian yang sopan tapi modis, sesuai dengan karakter menantu idaman. Tugasku, agar orang tuanya menyetujui hubungan kami, jadi Wildy bisa terbebas dari ajang perjodohan. 


     Padahal maksud orang tua Wildy kan bagus. Agar anaknya ada yang perhatiin dan ngurusin. Dasar Wildy nggak tau diperhatiin orang tua.


     Di dalam mobil, kami saling menyatukan setiap pertanyaan yang kira-kira ditanyakan orang tua Wildy kepada mereka.


     Sesampainya kami direstoran, Wildy menggandeng mesra tanganku. 


     Aku hanya bisa pasrah, menjalankan peranku malam ini.


     Ternyata pertemuan itu bukan hanya pertemuan dengan orang tua Wildy tapi dengan keluarga besar Wildy. 


     Aku cepat-cepat menghentikan langkahku dan berniat kabur dari situ, tapi Wildy memaksaku masuk ke dalam ruangan VIP restoran itu.


     Sambil tersenyum kikuk aku menyapa mereka semua.


    "Duh, pacar kamu cantik sekali, Wil. Mama nggak nyangka kamu bisa dapet cewek secantik ini. Sini sayang, duduk di deket mama. Nama kamu siapa?"


     "Nama asli saya Dinda, tante. Nama modeling saya, Sherly."


     "Nama yang cantik, secantik orangnya. Tapi kok panggil tante sih, panggil mama dong. 'Kan kita keluarga."


     "Makasih yah ma. Ngomong-ngomong ini ada acara apaan yah, ma. Rame banget. Tadi kata Wildy cuma acara makan malem bareng orang tuanya aja. Tapi ini,..."

__ADS_1


     "Tadinya memang iya, tapi semua saudara pada mau kenalan juga sama kamu. Kamu adalah pacar pertama yang dibawa Wildy untuk dikenalkan sama kami. Mama kira dia cuma bohongan loh, eh taunya beneran nyata orangnya. Mana cantik lagi orangnya, Mama setuju pilihan kamu, Wil."


     Wildy mulai membawaku keliling untuk diperkenalkan kepada para tetua dan keluarga besarnya.


     Sesuai tradisi, aku diharuskan menyajikan teh buat para tetua dan keluarga besarnya. Masing-masing mereka memberikan hadiah penyambutan berupa uang dan perhiasan kepadaku.


     "Ini apaan sih, Wil? Ini kayak teapay aja."


(ps. Teapay itu tradisi orang cina ketika menikah. Pengantin memberikan penghormatan berupa teh kepada tetua. Dan para tetua memberikan mereka hadiah berupa uang maupun perhiasan.)


     "Udah, diterima aja. Ini udah tradisi dikeluargaku."


     Akupun menurut sambil tersenyum setiap kali keluarganya memuji-muji aku.


     Mama Wildy memberikan aku hadiah berupa gelang giok yang indah. Aku berniat menolaknya tapi lagi-lagi, mama Wildy membujukku dan memasangkan gelang itu ketanganku. "Cantik dan cocok sekali. Calon istrimu, mama suka sekali."


     Teh dalam mulutku langsung otomatis tersembur keluar. Aku buru-buru minta maaf dan mengelap mulutku.


     "Ini apa-apaan, Wil?!"


     "Nggak apa-apa kok, Din, ini hanya tradisi dikeluargaku aja. Pokoknya amanlah. Kamu tinggal nikmati aja."


     "Aman kepalamu! Aku..."


     "Wildy, Dinda hayo dong masuk. Kita makan sekarang."


     "Kalau sampai ada apa-apa kamu mesti tanggung jawab," bisikku cepat.

__ADS_1


     "Siap, tenang aja."


     Mama Wildy memperhatikan kecapi di dalam ruangan itu. 


     "Mama suka kecapi?"


     "Suka sekali, tapi sekarang sudah jarang orang yang bisa memainkannya."


     "Kalau mama bersedia, Dinda akan memainkan sebuah lagu untuk mama."


     "Kamu belajar kecapi juga, Din!?"


     "Sedikit ma, semoga nggak malu-maluin yah," kataku lalu duduk dibalik kecapi tradisional itu.


     Dengan lembut kubelai senarnya dan kututup mataku sebelum memainkan nada yang ingin kuperdengarkan. Lalu dengan sendirinya, jariku menari lincah di atas kecapi itu. Suaranya sangat indah, dan membuatku terlena untuk terus memainkannya.


     Aku begitu terhanyut dengan permainan kecapiku sendiri hingga tidak memperhatikan reaksi keluarga besar Wildy. Begitu selesai memainkan alat musik, aku membuka matanya dan tepuk tangan membahana di ruangan kami.


     Aku jadi tersipu malu sambil menatap Wildy yang hampir terperangah mendengar dan melihat bakat terpendamku.


     Aku membungkuk memberi hormat dan kembali ke tempat dudukku. "Semoga mama suka yah," kataku sambil tersenyum.


     Dengan mata berkaca-kaca Mama Wildy memelukku dengan perasaan bahagia. "Suka sekali. Mama suka! Besok ke rumah yah."


     "Maaf, ma besok Dinda ada shooting. Kami akan mencari waktu luang untuk ke rumah mama."


     Mama Wildy mengangguk-angguk sambil menepuk-nepuk tanganku.

__ADS_1


     Aku jadi garuk-garuk kepala. Apa sebagus itu permainan musikku?!


 


__ADS_2