Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 35 judul resah


__ADS_3

Bab 35


     Wildy begitu lega melihat kehadiran Dinda. "Kamu gimana, tidak apa-apa?" tanya Wildy dengan khawatir.


     "Tidak apa-apa. Belum mulai rapatnya?"


     "Iya, masih menunggu kedatangan CEO utama. Entah kemana dia. Sudah hampir 2 jam, kami menunggu."


     "Yah sudah, kita tunggu saja. Ambilkan aku minum, Wil. Aku haus." 


     Wildy mengambilkan Dinda minum dan mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka keringat dari wajah dan leher Dinda.


     Dodi beserta seluruh asistennya masuk ke dalam ruangan. Semua orang berdiri menyambut kedatangan Dodi.


     Wildy sangat terkejut melihat kehadiran Dodi di dalam ruangan. "Dia!"


     Dinda memberi isyarat untuk diam dan tidak melanjutkan kata-kata Wildy.


     "Selamat siang semuanya. Perkenalkan nama saya Dodi Darmawan. Saya adalah CEO utama di Raksasa Jaya. Saya mengharapkan kinerja yang baik dan terbuka dari semua kalangan. Khususnya para model di setiap anak agency karena mereka inilah tolak peluru perusahaan. Jadi semua fasilitas untuk mereka harus ditingkatkan."


     Dodi melihat sekilas ke arah Dinda dan menghela napasnya lalu melanjutkan kata-kata untuk menyemangati kinerja setiap orang.


     Dinda turut bangga melihat perkembangan bisnis Dodi tapi cepat-cepat dia mengusir rasa kagumnya itu. Dia tidak boleh jatuh cinta lagi pada Dodi! Pembohong besar!

__ADS_1


     Kalau saja perempuan itu tidak bicara padanya tentang laporan polisi palsu dan tes kesehatan, pastilah saat ini, Dinda sudah tertipu 2x.


     Dinda tidak tahu apa yang difikirkan Dodi! Apa dia berpikir bisa membohonginya dan dia akan melembutkan hati menerima perselingkuhan Dodi!? Tidak mungkin!


     Dinda tertawa sinis karena terngiang tingkah Dodi tadi. Hampir saja dia percaya dengan acting Dodi. 


     "Ada apa?"


     "Tidak ada apa-apa," jawab Dinda agar Wildy bisa kembali fokus mendengarkan pidato Dodi.


     Malamnya kami semua diundang untuk acara makan malam bersama. Sebenarnya Dinda sudah lelah dan ingin menolak ikut tapi semua orang membujuknya maka ia ikut juga bersama Wildy.


     Di dalam mobil Dinda menghentikan Wildy yang ingin menyalakan mobilnya. "Aku ingin bicara dulu."


     Dinda menghela napas sebelum bercerita. "Aku bertemu dengan Dodi di lift. Dia sempat membujukku untuk kembali padanya. Dia mengatakan, bahwa dia dijebak."


     "Dan kamu percaya?!" seru Wildy merasa frustrasi.


    "Hampir tapi dia mengeluarkan bukti surat laporan palsu dan surat kesehatannya. Aku sudah tahu semuanya itu dari wanita itu. Kami bertemu sesudah kejadian itu. Katanya Dodi merasa bersalah karena telah ketahuan berselingkuh. Untuk menutupi kejadian itu Dodi membuat surat laporan polisi  dan surat kesehatan palsu agar aku percaya, dia telah dijebak. Yang aku tidak mengerti kenapa Dodi harus memiliki aku kalau dia sudah mendapatkan wanita yang rela memberikan dia segalanya, termasuk keperawanannya!" seru Dinda merasa terbakar emosinya.


     "Jadi?"


     "Jadi aku bilang pada Dodi kalau aku sudah menikah dan mengandung bayimu."

__ADS_1


     Senyum Wildy merekah dengan lebarnya.


     Dinda menggaruk wajah Wildy karena sebal melihat reaksi Wildy.


     Wildy tertawa lagi. Bersorak penuh kemenangan. "Kalau begitu kita akan segera menikah iya 'kan!? Aku perlu mengatur semuanya itu bersama keluargaku ..."


     "Wil! Tidak akan ada pernikahan di antara kita! Itu hanya alasanku menolak Dodi. Kuharap kau tidak keberatan."


     Reaksi Wildy langsung bersedih. "Kau masih mencintainya?"


     Dinda mengangguk pelan.


     "Meskipun sudah tau kebenarannya!?"


     "Aku sudah bertekad melupakan Dodi Wil. Beri aku waktu lagi."


     "Baiklah, istriku. Tapi sebelumnya, ada yang harus kuberikan padamu." Wildy mengambil kotak perhiasan dari dalam dashbornya. "Tadinya, ini akan kuberikan saat kau setuju menikah denganku. Tapi kurasa sekarang, kau harus memakainya."


     Dinda membuka kotak perhiasan pemberian Wildy dan mendesah pelan melihat cincin bertabur berlian. "Indah sekali, Wil tapi maaf aku tidak bisa menerimanya."


     "Kau 'kan tidak mungkin menikah tanpa cincin. Apa kau mau sandiwaramu terbongkar?" Wildy tidak memberi kesempatan kepada Dinda untuk menolak cincinnya. Dia segera memasangkan cincin itu ke jari manis Dinda dan juga memasang cincin satunya dijari manisnya. "Bagaimana, cocok kan!?"


     Dinda tidak bisa berkomentar apa-apa.

__ADS_1


     


__ADS_2