Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 32 judul keraguan dalam hati


__ADS_3

bab 32


     Mami mengirimkan rekaman wawancara Dodi kepada Dinda.


     Tadinya Dinda tidak mau menontonnya, tapi maminya memaksa, mami bilang, jangan terlalu keras kepala sehingga tidak mau melihat kebenaran yang sesungguhnya.


     Pada waktu itu Dodi dijebak dan pelakunya belum tertangkap sampai saat ini.


     Perkataan mami terngiang di telinga Dinda, sambil menghela napas berat ia membuka video kiriman dari mami.


     Melihat sosok Dodi, segala kebenciannya tiba-tiba lenyap digantikan oleh rasa rindu. Ia menyentuh gambar Dodi dari balik layar handphonenya.


     Setelah menonton wawancara Dodi, Dinda merasa menemukan Dodi yang dulu. Dodi yang selalu memperhatikannya, Dodi yang selalu mencintainya. Tapi apa benar Dodi dijebak!? Apa itu bukan alasannya saja agar dia berubah pikiran dan kembali padanya?


     Dinda kembali menghela napas berat.


     "Nonton apa sih serius amat?" sapa Wildy sambil duduk disebelah Dinda.


     Dinda menyerahkan rekaman wawancara Dodi kepada Wildy. "Apa mungkin benar, Dodi dijebak yah Wil?"


     "Kau bertanya pada orang yang salah, My Lady, kami ini saingan dalam cinta."


     Dinda tertawa mendengar perkataan Wildy. "Sampai sekarang, aku belum terbiasa mendengar kata-kata seperti itu dari mulutmu."


     Wildy mengambil tangan Dinda dan mengecupnya lembut. "Kau berjanji, memberi kita kesempatan."

__ADS_1


     "Tapi Wil," ucap Dinda dengan ragu. Dia tahu, dia masih mencintai Dodi. Tapi dia juga merasa berhutang kesempatan kepada Wildy.


      "Jangan terlalu dipikirkan. Malam ini kita dinner di rumah mama, mau? Tadi dia meneleponku, untuk mengajakmu ke rumah."


     "Kurasa sebaiknya malam ini aku tidur cepat Wil. Besok pagi 'kan ada pertemuan dengan kantor pusat kan!?" kilah Dinda berharap Wildy tidak kecewa.


     Wildy mengerti maksud Dinda. Karenanya ia hanya mengangguk.


     "Aku mau mandi dulu yah, ada pemotretan sore ini."


     "Mandi di sini aja."


     "Di bawah aja, sama yang lainnya."


     "Nanti aku akan ikut bersamamu. Tunggu aku yah."


     "Dinda, apa kau menghindariku?"


     "Kau atasan, aku bawahan. Kau tidak tahu apa yang terjadi gara-gara kau menayangkan pertunjukan beberapa hari yang lalu. Kadang-kadang aku masih sebal dibuatnya."


     "Oh yah, ada apa!? Kenapa kau tidak menceritakannya padaku?"


     "Biasalah, gimana juga kau adalah idola di kantor ini. Aku paham perasaan mereka."


     "Tapi mereka juga harus paham posisimu, Din. Kau tidak sama seperti mereka. Kau adalah calon istriku. Suka ataupun tidak, mereka harus belajar menyukai kenyataan itu!"

__ADS_1


     Wildy berkeras menanyakan siapa-siapa saja yang mengucilkannya tapi Dinda menolak mengatakannya. 


     "Aku yang akan menyelesaikan masalah kecil ini. Nanti kalau keterlaluan, aku baru memberitahumu."


     "Kalau begitu, jangan menghindariku. Kau harus tambah mendekat padaku!"


     "Nanti kalau tidak ada jadwal yah, aku mau cepat beres untuk shooting sore ini. Aku lelah dan mau istirahat cepat."


     "Kurasa kalau mereka menghambat pekerjaanmu, kau perlu menyampaikannya padaku. Kenapa pengawalmu tidak memberitahu apapun kepadaku!? Biar kumarahi mereka."


     "Bukan salah mereka, Wil. Mereka tidak tahu apa yang terjadi sebenernya. Mereka 'kan tidak bisa masuk ke ruang ganti dan hanya berjaga di depan saja."


     Wildy menghela napas panjang sebelum memeluk Dinda. "Maafkan aku. Semua ini karena ketampananku sehingga membuatmu susah seperti ini."


     "Dih, memuji diri sendiri!" Dinda terkekeh.


     "Din, antara Dodi dan aku gantengan siapa?" tanya Wildy dengan percaya diri.


     "Gantengan Dodi."


     "Serius!?"


     Dinda terbahak menatap wajah sendu Wildy. "Tapi banyak 'kan kamu!"


     Wildy langsung bersorak senang! Dia mengangkat Dinda dalam pelukannya sambil berputar, Dinda merasa pusing dibuatnya tapi dia menikmati semuanya itu.

__ADS_1


     


__ADS_2