Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 6 judul hampir pingsan


__ADS_3

Bab 6


     Sambil berjinjit-jinjit dan melompat-lompat akhirnya aku bisa tau didepanku itu stand apa. Itu ternyata group musik toh. Aku berbalik tidak tertarik dengan group musik. Bukannya apa, aku sadar diri. Denger musik sih suka, cuma kalo nyanyi sendiri, kucing tetangga geh mungkin bisa mati, ngedenger suara cemprengku. 


     Tiba-tiba, entah rombongan dari mana langsung mengerubungi jalanku sehingga aku terhimpit berpelukan dengan cowok mana nggak tau.


     Aku mencoba keluar dari himpitan orang-orang itu.


"Permisi, permisi geser dikit, air panas mau lewat!" teriakku. Tapi tetep aja badanku nggak bisa bergerak malah hampir terjatuh.


     Sebuah tangan yang kokoh menangkap tubuhku dengan sigap.


     "Terima kasih yah," kataku sambil terengah-engah karena himpitan tadi. 


     Ketika kulihat siapa yang menolongku, yah ampunnnn, kalian tau nggak? Ternyata kak Rama yang menolongku. Dilihat dari deket begini, cakepnya makin keliatan! Tanpa sadar aku mendesah sambil menatapnya malu-malu.


     "Eh, kak Rama. Makasih ya sudah menolong saya."


     "Dinda! Dinda dimana kamu!?" teriak Dody dengan panik. Dinda nggak keliatan batang hidungnya ditengah lautan manusia.


     "Dody disini, Dot!" teriak Dinda merasa senang mendengar induk ayamnya itu. 


     Karena tubuhku berukuran mungil tentu cuma suaranya aja yang kedengeran. Lambaian tanganku tidak terlihat meski sudah mencoba melompat-lompat, itupun tetep nggak keliatan. Tiba-tiba tanganku ditarik kak Rama. 

__ADS_1


     Setelah keluar dari kerumunan, aku merasa sangat lega. Dan mencari-cari Aldo dan Dody tapi sayangnya, saat ini kondisi mereka sudah berbalik. Saat ini, Dody dan Aldo ada dilautan manusia sementara aku dan kak Rama sudah berada bebas diluar kerumunan orang-orang itu. Tanpa sadar, aku tertawa terbahak-bahak melihat tampang Dody yang cemberut dan berusaha untuk keluar dari kerumunan tapi tidak berhasil. 


     Aku mencoba kembali masuk kekerumunan untuk menolong Dody, tapi tangannya ditahan kak Rama. 


     "Aku ajak berkeliling yuk," ajak kak Rama, tidak menunggu jawabanku, langsung menarik tanganku menjauh dari tempat itu.


     Aku melepaskan tanganku dari genggaman kak Rama.


"Nanti aja kak. Kasihan sama Dody dan Aldo. Aku harus kembali dan menolong mereka."


     "Mereka sudah pasti bisa keluar dari kerumunan itu, tapi kalau kamu yang masuk kesana, pasti susah untuk keluar tanpa bantuan orang lain. Kamu mau pingsan disana?"


     Setelah menimbang kata-kata kak Rama. Dia merasa kata-katanya kak Rama ada benarnya juga. Tapi meninggalkan mereka berdua itu juga bukan hal yang benar.


     "Kita kelilingnya tunggu Dody dan Aldo aja yah kak," kataku sambil berbalik arah ke arah Dody dan Aldo yang belum berhasil menembus kerumunan orang-orang itu.


"Perhatian! Perhatian! Buat barisan, buat barisan!" teriaknya sambil mengatur orang-orang yang berkerumun itu.


     Aku lega karena satu persatu orang mendengarkan kata-kataku dan mulai membentuk beberapa barisan secara teratur. Akhirnya Dody dan Aldo berhasil keluar dengan selamat. Aldo tampaknya turun satu kilo karena keringatnya basah banget, betul-betul mirip kalo kita habis keluar dari sauna. 


     Dody yang akhirnya bisa keluar langsung berlari dan memelukku. Kami udah kayak teletabis yang sedang berpelukan. 


     Kak Rama menyondorkan tiga gelas air mineral buat kami. 

__ADS_1


     Dengan cepat Aldo menghabiskan air pemberian kak Rama. Dia seperti ikan yang baru saja terdampar didaratan. Karena kasihan aku memberikan minum bagianku.


     Dengan cepat Aldo menghabiskan minuman bagianku. Sementara Dody menyondorkan minuman bekasnya minum. Aku mengambilnya dan meminumnya karena kami memang sudah terbiasa berbagi. 


     "Apa kalian pacaran?" tanya kak Rama.


     Aku kaget dan tanpa sengaja menyemburkan air kearah kak Rama.


"Maaf kak, maaf nggak sengaja."


     Aku dan Dody saling berpandangan.


"Kami sahabatan kak. Selain sekolah kami yg selalu sama di tk, sd, smp kami juga tetanggaan. Jadi berbagi begini kami sudah terbiasa."


     Dody hanya diam dan hanya menghela napasnya, sedih.


     Rama tersenyum lebar dan menjadi semangat setelah mendengar jawaban Dinda. Kalau dilihat sepertinya cinta Dody masih bertepuk sebelah tangan. Rama menghela napas lega.


"Yuk, kita berkeliling sekarang."


     


 

__ADS_1


     


     


__ADS_2