
Bab 45
Dodi tersenyum puas melihat lembar kontrak yang sudah ditandatangani Dinda.
Ia menghela napas lega.
Dengan ini Dinda tidak bisa lari darinya lagi. Di saat-saat itu Dodi akan membujuk dan merayu Dinda agar kembali padanya.
"Semuanya sudah siap, Bos!" lapor asistennya.
"Ayo, kita berangkat sekarang!"
Dodi turun dengan perasaan senang dan langsung masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan asistennya.
Saat masuk ke dalam sanggar, Dinda melihat jajaran orang berjas hitam. Kening Dinda mengerut seakan merasakan dejavu. Kakinya lambat melangkah ragu. Jantungnya berdebar kencang tidak karuan.
Tidak mungkin, jangan sampai hal itu terjadi! pekiknya dalam hati. Dinda buru-buru membuang perasaan paniknya.
Ketika meletakkan tasnya ke dalam loker, Dinda mendengar kehebohan dari celoteh anak-anak didiknya.
Dinda menguping sekilas.
"Yah ampun, baru kali ini aku melihat secara nyata, yang namanya mahkluk Tuhan yang paling seksi, mana super tajir lagi!"
"Yah, yah kau benar. Beruntung banget tunangan pak Dodi yah, aku jadi iri mendengar kisah cinta mereka yang super romantis. Cinta masa kecil berkembang sampai saat ini, oh sungguh sangat romantis. Aku penasaran melihat wajah tunangan pak Dodi."
"Ini bukannya guru kita, Miss Sherly!?"
__ADS_1
"Ah, masa sih, sini coba kulihat."
"Yah ampun! Ternyata benar ini miss Sherly, guru kita."
"Tapi ada yang aneh di sini," sela Delima dengan cepat.
"Mengapa tunangan pak Dodi mau jadi guru di sanggar kecil seperti ini?! Rasanya tidak mungkin. Apa mereka sudah putus?"
"Oh, yah bisa jadi. Kalau begitu,..."
Dinda mendehem keras sehingga menyela percakapan seru di antara mereka.
Buru-buru para model didikannya menyapa Dinda.
"Kurangi bergosip dan banyaklah berlatih," kata Dinda sambil keluar dari ruangan ganti.
Dinda berupaya untuk bersikap setenang mungkin meski rata-rata para modelnya saat ini sedang menatapnya sambil berbisik-bisik yang sudah ia tebak isi pembicaraan mereka.
Dinda menepuk tangannya untuk meminta mereka agar berkonsentrasi latihan.
Dinda memberi beberapa kritisan dan memberikan contoh berjalan dan sikap tubuh yang benar kepada para model yang dirasa kurang.
Sambil memperhatikan para modelnya latihan ia mengambil air minum dan meminumnya. Tenggorokannya kering karena memberi pelatihan sedari pagi.
Tiba-tiba pekikan terdengar nyaring memenuhi aula. Ia berbalik dan melihat Dodi saat ini sedang berjalan kearahnya dengan gagahnya tapi dengan wajah yang penuh kemarahan.
Untuk sesaat Dinda merasa agak takut tapi kemudian dia berdehem dan menyiapkan dirinya untuk menghadapi Dodi.
__ADS_1
Ia mengerang dalam hati, kenapa Dodi bisa jadi mempesona seperti saat ini. Dinda menelan air ludahnya dengan susah payah.
Ia tiba-tiba begitu merindukan Dodi, meski hatinya perih karena Dodi telah menghianati dirinya tapi ia juga tidak dapat menampik dirinya sendiri bahwa ia masih sangat mencintai Dodi.
Tubuh Dodi yang tegap dan gagah, dihiasi dengan wajah yang rupawan membuat hati Dinda melambung dan terpesona melihat Dodi yang sedang mendekatinya saat ini.
Tanpa sadar, ia mendesah turut mengagumi Dodi. Begitu Dodi mendekatinya, buru-buru ia memasang wajah dingin dan bersiap menghadapi Dodi.
Ia segera memasang perisai pelindung pesona Dodi! Dan tidak berniat untuk jatuh ke dalam perangkap Dodi lagi.
"Halo istriku, sudah lelahkah kau bersembunyi dari suamimu ini?!" goda Dodi sambil tersenyum manis penuh ranjau yang berniat mengobrak-abrik sifat keras kepada Dinda.
__ADS_1