Kekasih Brengsekku

Kekasih Brengsekku
Kekasih Brengsekku by Lucy Ang bab 36 judul strategi Dodi


__ADS_3

Bab 36


     Setelah sampai di hall, Wildy menyuruh Dinda jangan turun dulu, kemudian keluar dari mobilnya dan berputar ke arah pintu Dinda dan membukakannya.


     Dinda tertawa melihat perlakuan sahabatnya itu. "Kau bertingkah sangat lucu, Wil. Normal sajalah, oke?!"


    Wildy berbisik di telinga Dinda. "Dodi sedang mengawasi. Jangan melihat. Pura-pura saja kita adalah pasangan suami istri yang sesungguhnya."


     Dinda mengangguk dengan gugup kemudian menerima uluran tangan Wildy dan berjalan masuk memasuki hall.


     "Ramai sekali!" seru Dinda ketika masuk ke dalam hall. 


     "Yah, inilah saat-saat untuk menjilat para petinggi."


     Dinda tertawa kecut. Memang benar, rata-rata orang-orang yang datang kesini, salah satunya untuk menjalin komunikasi yang baik dengan Dodi.


     Setaunya sangat jarang sekali, petinggi seperti Dodi bersedia mengunjungi kantor utama mereka. Bagi mereka bisnis begini mah seperti remahan rengginang.


     Dodi banyak dikerubungi wanita- wanita cantik yang tampaknya sangat tertarik untuk mendengar apapun yang Dodi katanya dan celotehnya selalu disambut dengan antusias yang berlebihan menurut Dinda. Tanpa sadar, ia sampai menabrak tubuh Wildy didepannya.


     "Harus kuakui, mantan tunanganmu memang memiliki kharisma yang berbeda. Sebagai lelaki aku tidak menampik kenyataan itu. Tapi lagi-lagi," Wildy menarik pinggang Dinda mendekat di pelukannya, "keberuntungan berpihak padaku!" timpal Wildy dengan bahagia.


     "Dasar!" sahut Dinda sambil tertawa kecil.


     Dalam hatinya, Dinda merasa sangat terganggu melihat keakraban Dodi dan para penggemar dadakannya itu.


    Wildy yang menyadari pandangan mata Dinda selalu memperhatikan gerak gerik Dodi, langsung mengalihkan perhatian Dinda untuk menikmati sajian makan malam yang tersedia malam itu.


     Begitu melahap satu persatu makanan yang disediakan, Dinda jadi sepenuhnya fokus dengan makanannya.

__ADS_1


     Wildy membantu Dinda memegangi rambutnya yang panjang agar jangan sampai terkena cream.


     Dinda mengucapkan terimakasih dan meneruskan aksinya itu.


     Wildy hanya tertawa-tawa melihat keasyikan Dinda menikmati berbagai sajian malam itu. 


     "Sehabis ini, aku harus joging keliling blok untuk menghilangkan lemak yang masuk."


     "Mau kutemani?"


     Dinda menggeleng, "Tidak perlu. Sudah terlalu malam."


     "Kalau begitu treadmill di apartement saja, jadi aku tidak khawatir."


     "Yah, kau benar."


    Lampu tiba-tiba dimatikan. Sorot lampu menyorot Dodi dan pasangan dansanya. Hati Dinda berdebar tidak karuan. Matanya tidak bisa lepas memandangi mereka. 


     "Kau tidak apa-apa?" tanya Wildy sambil berdehem.


     Dinda tidak bergeming. Matanya tajam memandangi Dodi yang tampak sangat menikmati kebersamaannya dengan gadis itu!


     "Dinda, ...Dinda!" tegur Wildy mengingatkan Dinda akan misinya.


     Dinda menghela napas berat lalu memandangi Wildy. 


     "Bagaimana kalau kita menari juga?"


     "Maaf Wil, kurasa aku lelah. Aku ingin pulang sekarang. Kalau kau masih mau di sini, tidak apa. Aku bisa memesan taxi."

__ADS_1


     "Aku akan mengantarmu."


     Wildy mengantar Dinda dan berniat untuk masuk ke apartement Dinda tapi Dinda segera menolak niat Wildy. "Maaf Wil, aku lelah. Aku ingin sendirian dan langsung tidur."


     "Tapi Din, apa kau tidak masalah kau sendirian? Aku bisa menemanimu tanpa mengganggumu."


     "Lain kali Wil. Sekarang aku mau sendiri dulu," kata Dinda sambil membuka cincin pemberian Wildy.


     Wildy segera menahan tangan Dinda. "Pakai saja. Kita 'kan sudah menikah," godanya mencoba membuat Dinda tersenyum.


     "Peganglah untuk sekarang," kata Dinda sambil menyerahkan cincin Wildy dan melangkah masuk ke apartementnya.


     "Suatu saat, aku berharap kau akan mencintai aku seperti kau mencintai Dodi, Din."


     Wildy segera melangkah masuk ke dalam mobilnya lalu pergi dari situ.


     Dari dalam mobil, Dodi memperhatikan semuanya itu. Dinda berbohong padanya! 


     Malam ini, Dodi sengaja memaksakan dirinya untuk bertingkah terbuka dengan para gadis-gadis itu untuk melihat reaksi Dinda.


     Tampaknya caranya berhasil. Dinda cemburu melihat kedekatannya dengan Tania, model yang baru saja dikenalkan oleh ketua agency.


     Begitu Dinda pergi. Dodi segera menyusulnya pergi. Para asistennya bertugas menghalau orang-orang yang berniat mengajaknya berbincang lagi dan disinilah dia, mengikuti Dinda dan Wildy. Dan sekarang dia tahu kebenarannya bahwa Dinda sudah berbohong padanya.


     Kenapa Dinda tidak mempercayai kata-katanya!? Apalagi dia sudah menunjukkan bukti-buktinya kepada Dinda bahwa ia telah dijebak. Mengapa dia tidak juga membuang segala prasangkanya!


     Cara satu-satunya agar Dinda kembali padanya hanyalah memancing kemarahan Dinda, tepat di depan matanya. Meskipun cara ini membuatnya merasa bersalah, tapi kalau tidak melakukannya, Dodi akan kalah telak dan akan kehilangan Dinda!


     Dia tidak mau hal itu sampai terjadi!

__ADS_1


    


__ADS_2