Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Bukan Waktunya Untuk Menyerah


__ADS_3

Sudah tiga hari tanpa kabar berita tentang Sean. Aku merasa hidupku benar-benar sudah berakhir. Duniaku hancur-hancuran. Tak ada lagi harapan yang tersisa karena hingga kini masih belum ada titik terangnya.


Saat putus asa seperti ini, Tante Seruni mengirim pesan padaku agar aku kuat. Kalau aku menyerah maka semuanya berakhir. Aku tak akan pernah bertemu Sean lagi. Namun kalau aku masih terus berusaha, harapan itu pun masih ada.


"Sekarang kita kemana?" aku bertanya pada mas Akbar. Ia kembali menjemput ke panti pagi-pagi sekali tanpa memberitahu akan kemana.


"Ikut saja dulu. Tapi aku harap hatimu kuat." kata mas Akbar. Ia lalu melajukan mobilnya, membelah pagi menuju suatu tempat yang entah dimana dan akan bertemu siapa.


Setengah jam kami di perjalanan hingga sampai di sebuah perumahan yang bisa dibilang cukup besar namun tak sebesar rumah kak Dira.


"Rumah siapa ini?" tanyaku pada mas Akbar.


"Yan, aku tak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk memberitahu kamu atau tidak. Tapi aku rasa kamu harus tahu semuanya. Aku sudah mencari tahu tentang suamimu dan mengetahui sebuah kenyataan yang mungkin akan membuat kamu terluka." ia menarik nafas dalam-dalam. "Ini adalah rumah Dani."


"Oh ya? Mas Dani tidak mengatakan apa-apa padaku. Apa ini juga bagian dari kejutan?" tanyaku.


"Ya ini kejutan. Lebih tepatnya sebuah pengkhianatan. Dani akan menikah dengan seseorang dan rumah ini akan menjadi rumah mereka." kata mas Akbar. Tentu saja membuatku tak paham.


"Akan menikah bagaimana? Kami sudah menikah." kataku.


"Ya. Dia akan menikah dengan kekasihnya."

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Dia sudah memiliki kekasih. Bahkan mereka sudah menjalin hubungan jauh sebelum menikah denganmu. Mereka akan meresmikan pernikahannya dua bulan lagi." mas Akbar mengambil sebuah undangan dari laci mobil dan memberikannya padaku. Tanganku langsung gemetaran saat membaca nama yang tertera di sana. Calon mempelai laki-laki adalah suamiku, mas Dani. "Bisa jadi dia mengantar kamu ke panti karena memang semuanya sudah usai. Ia akan melanjutkan kembali cintanya dengan kekasihnya."


"Nggak nggak nggak. Aku nggak paham. Kenapa mas Dani harus menikahi aku kalau ia mau menikahi perempuan lain? Ini bagaimana maksudnya? Aku benar-benar nggak paham." kataku.


"Untuk alasan itu aku juga tidak tahu. Tapi yang jelas ia akan menikah dengan perempuan bernama Niki. Mereka sudah menjalin hubungan selama hampir delapan tahun. Bahkan saat masih menikah denganmu hubungan mereka masih berlangsung."


"Apa, delapan tahun? Saat masih bersamaku juga masih lanjut?" aku benar-benar tak bisa berpikir lagi dengan tenang. Kepalaku rasanya berdenyut hebat memikirkan semua ini. Apalagi saat mas Akbar menunjukkan bukti-bukti tentang jalinan asmara mas Dani dan perempuan bernama Niki. Jadi siapa yang jadi selingkuhan mas Dani sebenarnya? Aku atau Niki? Sebab kami menjalin hubungan mereka pun masih menjalani hubungan. Tapi kenapa?


"Untuk lebih jelasnya kamu bisa bertemu Dani di dalam itu. Dari Intel yang aku krim, mereka menginap di sini sejak semalam."


Empat kali ketukan. Dari dalam terdengar langkah kaki seseorang. Entah siapa itu. Aku hanya berdoa semoga semuanya tak benar. Begitu pintu terbuka, tampaklah mas Dani berdiri di hadapanku. Ia mengenakan celana pendek dan kaus oblong.


"Yana?" katanya. Ekspresi wajahnya terkejut. "Kamu ... bagaimana ada di sini?"


"Siapa Yang?" tanya seorang perempuan yang bisa ku tebak adalah Niki dari dalam rumah. Saat ia mengintip, hanya memperlihatkan kepalanya saja, kami beradu pandang.


Pemandangan ini sudah sangat cukup menjelaskan padaku bagaimana hubungan mereka. Dua orang manusia beda jenis berada dalam satu rumah dengan pakaian teramat minim. Aku meyakini semua keterangan mas Akbar benar.


Tak seperti sebagian istri-istri di media sosial yang mengamuk begitu melihat pasangannya berselingkuh. Aku memilih tenang. Bertanya dengan suara pelan nyaris tak terdengar dimana keberadaan Sean. Hanya itu yang terpenting saat ini sebab aku sadar aku sudah kehilangan mas Dani.

__ADS_1


"Kamu bagaimana bisa disini?" tanya Mas Dani yang tampak panik. Ia melihat ke kiri dan kanan, begitu menyadari ada mas Akbar. Ia langsung mempertanyakan. "Siapa itu? apa ia yang mengantar Kamu ke sini?" tanyanya.


"Mana Sean!" aku setengah berteriak. Amarahku benar-benar memuncak, tapi tak ingin mempertanyakan dirinya. Aku hanya ingin putraku.


"Mana aku tahu." jawabnya.


"Jangan bohong kamu mas, Sean ada di rumah besar itu dan sampai sekarang aku tak bisa menemukannya. Kalian yang sudah menyembunyikan putraku. Kembalikan dia padaku. Kembalikan mas!" kataku sambil menari kausnya.


"Eh lepas," sekali sentak aku langsung terlempar. Namun dengan sigap mas Akbar menangkap hingga aku tak jadi jatuh. "Heh kamu ... Akbar, kan? mau apa kamu di sini? Kenapa pegang-pegang istri saya, hah? Lepaskan dia!" bentak mas Dani sambil berusaha melepaskan pegangan mas Akbar dari tanganku.


"Sayang!" perempuan di dalam sana memanggil mas Dani. Ia sepertinya tak suka jika mas Dani mempedulikan aku. "Kenapa ia bisa ada di sini? Bukannya kamu yang mengatakan bahwa hubungan kalian sudah berakhir. Jadi untuk apa meladeninya. Sudah, ceraikan saja ia sekarang sayang." pinta perempuan itu dengan tanpa perasaan hingga membuatku tak bisa berkata apa-apa.


"Maaf sayang karena sudah membuatmu terganggu. Masuklah ke dalam aku akan menyelesaikan semuanya sekarang juga. Aku akan mengakhirinya agar ia tak muncul lagi di hadapan kita." kata Mas Dani pada perempuan itu.


"Ya, baiklah. Selesaikan semuanya ya sayang sebab aku tak mau lagi kamu dekat-dekat dengannya!" ungkapnya sambil mengusap lembut pipi mas Dani Sementara matanya tertuju padaku.


Pemandangan ini membuatku muak. Apa maksudnya? Kenapa juga dia yang harus mengakhiri. Sungguh mas Dani tak tahu malu, lebih memilih perempuan itu dari aku istri sahnya.


"Mana anakku!" kataku lagi. Tak peduli dengan drama ini. aku hanya ingin anakku. "Kembalikan anakku atau aku akan memenjarakan kamu dan keluargamu karena sudah memisahkan aku dari putraku!" kataku


"Apa? heh Yana, sadar diri. Siapa kamu, seenaknya saja mau memenjarakan aku. Memang kamu pikir kamu punya kekuatan untuk melakukannya. Bila dibandingkan aku Kamu itu tak akan bisa melakukan apa-apa. Sudah, sebaiknya sekarang pulanglah ke panti. Lebih baik kamu habiskan waktumu di sana karena mulai sekarang hubungan kita sudah berakhir. Kamu bukan lagi istriku, Yana. Aku menceraikan kamu!" katanya dengan entengnya.

__ADS_1


__ADS_2