
[Benarkah saya bisa bercerita pada ibu?] aku memberanikan diri mengirimkan pesan pada ibunya mas Akbar. Namanya tante Seruni. Keputusan itu ku ambil sebab benar-benar butuh teman bicara. Beratnya ujian ini membuatku bimbang. Bukannya aku tak mengadu pada Tuhan, tapi kadang juga butuh manusia yang bisa memberikan tanggapan. [Maaf kalau saya lancang, jika ibu tak berkenan dan pesan ini mengganggu, mohon abaikan saja. Setelah ini saya tidak akan mengirimkan pesan lagi.]
Tak sampai satu menit masuk pesan balasan dari Tante Seruni. [Ini pasti Yana. Temannya Akbar, kan? Tidak apa-apa mengirimkan pesan pada Tante. Tante paham kamu saat ini pasti sedang sedih. Apa yang bisa Tante lakukan? Katakan saja, tidak usah sungkan-sungkan. Anggap Tante seperti ibu kamu sendiri.]
Pesan balasan itu langsung membuat mataku berkaca-kaca. Andai masih ada ayah dan ibu, mungkin rasanya tak akan seperti ini. [Beratnya ujian, membuat saya tak mampu berpikir jernih. Rasanya sangat sangat sakit sekali sebab tak bisa bertemu anak sendiri.] Kataku.
[Akbar sudah ceritakan masalah ini pada Tante. Ia berjanji akan membantu, jadi tolong percaya padanya ya. Ia juga sedang berusaha keras, meski terlihat santai dan tetap tenang. Kamu wanita yang kuat, jadi harus bertahan. Jangan berpikir yang macam-macam. Badai ini pasti akan berlalu.] balasan Tante Seruni.
[Benarkah Tante? Sungguh saya sangat berterima kasih sekali pada Tante dan mas Akbar. Saat ini saya benar-benar sendirian, keberadaan Tante benar-benar menjadi penyemangat untuk saya. Sekali lagi terima kasih banyak Tante. Mohon doakan agar saya bisa segera bertemu dengan putra saya.] balasku.
[Ya Yana, pasti.]
Aku menutup pembicaraan dengan Tante Seruni, rasanya hatinya sudah lebih tenang. Meski Sean belum diketahui keberadaannya namun setidaknya sudah ada yang bersedia membantu itu sudah seperti mendapatkan air di gunung Sahara.
***
__ADS_1
Sudah ku putuskan untuk kembali ke kantor polisi sebab mas Akbar ingin bertemu. Ada yang ingin disampaikan terkait Sean. Aku sangat ingin segera ke sana namun terkendala dengan uang untuk ongkos taksi atau bis. Saat pergi kemarin hanya Hp ini yang aku bawa, selebihnya tertinggal di kamar.
Makanya ku beranikan diri meminjam sejumlah uang pada Bu Tari. Aku berjanji akan mengembalikan nanti saat mas Dani sudah kembali. Sebenarnya tak enak meminta uang seperti ini pada ibu asuhku tersebut, namun tak ada pilihan lain. Aku harus pergi dan itu membutuhkan uang.
"Tak perlu sungkan-sungkan, Yan. Aku ini ibumu. Meski kamu bukan lahir dariku namun kamu ini anak dari sahabatku, pertemanan kami sudah seperti saudara sendiri, jadi kamu sudah seperti anakku sendiri. Rasa sayangku tak ubah dengan orang tuamu " Ia mengusap pelan kepalaku. "Tapi saran ibu, sebaiknya kamu pergi dengan Wisnu. Ia akan mengantar kamu pulang pergi. Setidaknya ada yang menjaga kamu sehingga ibu bisa tenang. Ibu hanya khawatir tentang tanggung jawab pada nak Dani. Meski kami gak bertemu saat mengantar kamu tapi ia sudah menitipkan kamu pada ibu jadi bagaimanapun kondisi kamu selama di sini kelak akan ibu pertanggungjawabkan pada nak Dani." kata Bu Tari.
Tak ada pilihan lain, aku terpaksa menurut agar diizinkan ke kantor polisi. Sepanjang jalan aku menghindari pembicaraan dengan Wisnu karena tak mau berdebat, namun lelaki itu terus mencecarku.
"Apa kamu sudah mempersiapkan diri jika kenyataan pahit itu benar-benar terjadi." tanya Wisnu. Tapi aku abai. "Jangan pura-pura tidak dengar ya Yana!"
"Aku sudah bilang tak ingin berprasangka buruk dulu Nu. Lagipula kenapa sih kamu harus menggiring aku untuk tak percaya pada mas Wisnu!"
"Hingga sekarang kamu juga belum bisa memastikan bagaimana perasaannya padamu, kan? Atau jangan-jangan kamu tahu ia hanya mempermainkan kamu dan kamu tak peduli padahal tahun in
tu bisa selesai.
__ADS_1
Aku cukup tersinggung dengan tebakan Wisnu yang menurutku terlalu sok tahu dan terkesan ingin ikut campur urusan rumah tanggaku dengan mas Dani. Ia tak berhak tahu semuanya. Apalagi tentang perasaan suamiku. Kami sudah menikah, pastilah ia mencintai aku. Kalau tidak kenapa juga ia menikahi aku. Bukan aku yang mendekatinya tapi mas Dani lah yang mendekati aku.
"Cukup Nu, kamu tak perlu mencari tahu terlalu banyak. Aku tak suka hubungan ku dengan suamiku dicampuri!" aku menegaskan padanya. "Kalau kamu mau membantu cukup bantu sesuai batasannya saja, setelah itu tak perlu ikut campur tangan!"
"Yan, aku hanya kasihan padamu. Kita tumbuh besar di panti ini bersama-sama, kalaupun kamu tak mau membalas cintaku tapi paling tidak kita dipersaudarakan di sini jadi aku mohon kamu harus benar-benar memikirkannya. Ini bukan sekedar ia menghilang dan anak kamu tak bisa ditemui, tapi lebih Yan. Aku yakin itu. Aku tak mau kamu harus menderita lagi setelah ujian hidup dimasa kecil yang cukup berat." kata Wisnu, membuatku sedikit tergugah.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku tapi sekarang bukan waktunya membicarakan itu semua, biarkan aku menemukan bayiku dulu. Entah dimana ia sekarang dan bagaimana kondisinya. Aku hanya ingin bertemu dengannya. itu saja." kataku, berusaha menahan air mata namun pada akhirnya jatuh juga.
Seorang perempuan bergelar ibu, baginya, kehilangan anak adalah siksaan yang sangat besar. Ia bisa mati jika tak bisa menemukan anaknya. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa memikirkan hal lain saat ini. Hanya putraku yang terpenting.
"Baiklah, aku akan membantumu menemukan Sean. Tapi jika ia terlibat dalam hal ini, kau tak boleh melarangku menghancurkan wajahnya hingga babak belur. Ia tak bisa bersikap sesuka hatinya padamu karena aku akan menjagamu seperti janjiku saat kecil dulu."
"Ya, terima kasih Nu. Lakukan apapun yang kamu mau kalau itu benar." kataku.
Kami melanjutkan perjalanan menuju kantor polisi. Di sana kami bertemu dengan mas Akbar. Ia menjelaskan padaku tentang tempat tinggal mbak Dira yang lain. Ada beberapa rumah, kemungkinan mereka ke sana. Ia sedang meminta anak buahnya untuk mencari tahu agar mempermudah mencari Sean. Rasanya tak mungkin mereka tak tahu dimana bayiku berada mengingat mereka berada di rumah yang sama dengan tempat Sean ku tinggalkan.
__ADS_1
"Tolong bawa aku ke sana, mas" pintaku.
"Ya kamu sabar dulu, kami sedang mengecek dimana kira-kira mereka pindah. Sepertinya ini adalah rencana terselubung." jelas Akbar yang diaminkan oleh Wisnu.