
Kami baru saja menyelesaikan pembuatan laporan. Saat aku hendak pulang bersama Wisnu, tiba-tiba taksi yang kami tumpangi diserempet oleh empat motor besar. Orang-orang itu memukul kaca mobil saat berhenti. Apa yang dilakukan itu tentu saja membuat kami panik, tiba-tiba diserang seperti itu. Kemudian supir taksi sampai meminta agar kami turun saja.
"Jangan begitu, pak. Kami baru saja naik, belum juga jalan beberapa meter. Masa mau turun saja. Rugi dong saya." Kata Wisnu, tak terima diturunkan dijalan.
"Ahhh saya nggak peduli, kalian turun saja. Saya nggak mau taksi saya lebih hancur lagi dari ini. Bagaimana kalau preman-preman itu datang lagi dan membalik taksi saya, kerugiannya bisa lebih besar lagi. Kalau nggak mau bayar ya nggak apa-apa, tapi yang penting turun saja!" tegas supir taksi tersebut.
"Yah pak, kalau preman itu datang lagi kami bisa bahaya. Sudah deh, bapak tancap gas saja. Nggak bakal ada apa-apa." pinta Wisnu yang masih bertahan tak mau turun.
"Ehhh kalian ya, kalau preman-preman itu datang lagi bisa-bisa taksi saya dibalik sampai hancur. Saya nggak mau. pokoknya kalian harus turun sekarang juga. Paham!" bapak supir taksi itu mulai naik pitam.
Aku memahami kekhawatiran bapak itu. Ia hanya orang kecil yang berusaha mempertahankan harta tahta dimilikinya. Lagipula semua orang pasti maunya cari aman. Makanya aku membujuk Wisnu agar mau keluar. Begitu kami turun, supir taksi itu langsung tancap gas.
"Ahhh elah, pergi kan taksinya." Wisnu ngomel.
"Biarkan saja. Kasihan bapaknya. Sudah untung dia membiarkan kita turun tanpa meminta ganti rugi atas kerusakan kaca mobilnya. Lagian kasihan, bapaknya hanya orang kecil. Jangan dipersulit." kataku, berusaha tenang meski sebenarnya hatinya deg-degan.
"Lalu sekarang bagaimana kita pulangnya? Mana taksi jarang lagi. Terus kalau preman itu kembali bagaimana? aku sangat yakin itu orang suruhan mantan kakak ipar kamu. Benar-benar jahat dia!" Wisnu ngomel. "Ahhh, apa kita panggil mas Akbar saja?"
"Nggak usah, jangan merepotkan ...." belum selesai aku bicara, Wisnu sudah memencet nomor mas Akbar, ia meminta kakak kelasku itu untuk datang ke sini.
__ADS_1
Seperti permintaan Wisnu, mas Akbar menyusul kami. Ia tampak khawatir dengan kondisi kami usai diserang oleh preman-preman tadi.
"Lain kali kalau ada teror seperti itu kalian harus berusaha merekamnya untuk bukti." kata mas Akbar, ia menyerahkan sebuah kamera kecil yang bisa kami bawa-bawa. Selain itu mas Akbar juga men-share rekaman di hotel tadi yang divideokan oleh orang suruhannya. "Ini akan jadi bukti kuat kecurangan mereka." kata mas Akbar lagi.
Aku benar-benar bersyukur ada mas Akbar yang pikirannya panjang ke depan. Mungkin kalau tak ada dia, aku tak akan berani berharap bisa ketemu lagi dengan Sean. Tapi ia bisa memikirkan cara untuk mendapatkan senjata menghadapi mas Dani dan keluarganya.
"Kalau cara hukum gagal, aku sudah memikirkan sebuah cara untuk menang." kata mas Akbar sambil menjelaskan rencana yang ia maksud. Kami berdua lagi-lagi mengangguk, senang bisa mendapatkan teman satu tim sepertinya yang paham banyak hal.
Setelah mendiskusikan hal tersebut, mas Akbar mengantarkan aku dan Wisnu ke panti asuhan.
***
"Maksudnya?" aku masih ogah-ogahan. Banyak hal yang mengganggu pikiranku, makanya diajak ngobrol tak terlalu menanggapi.
"Yan, apa kamu suka sama mas Akbar?" pertanyaan Wisnu membuatku tak bisa berkata-kata. Kenapa dengannya kenapa tiba-tiba bicara begitu? Saat seperti ini bagaimana mungkin aku memikirkan cinta-cintaan. Putraku diambil dariku. Rasanya sangat luar biasa menderita. Aku tak punya waktu memikirkan masalah hati sendiri yang sudah semrawut oleh masalah Sean. "Kamu beruntung dia membersamai kamu. Awalnya aku mau ikhlas Yan, melepaskan kamu untuknya karena ia orang baik. Tapi makin ke sini kenapa rasanya makin sakit. Aku kok nggak sanggup." kata Wisnu lagi.
"Kamu itu bicara apa sih? anakku itu hilang. Aku sudah lama tak bertemu dengannya. Dalam situasi seperti ini ya nggak bisa membahas masalah cinta cintaan!" aku menegaskan, lalu memilih pergi meninggalkan rumah.
"Ya maaf sih Yan, aku manusia biasa, masih punya rasa sakit dan sedih." ungkap Wisnu.
__ADS_1
"Ya tapi nggak perlu harus bahas itu juga, kamu nggak paham bagaimana rasanya kehilangan anak. Pikiranku hanya untuk Sean, bukan yang lain Nu!" aku memutuskan masuk ke dalam, menghindari Wisnu untuk sementara waktu demi kebaikan kami berdua.
***
Prang. Suara kaca pecah. Aku yang tidur di kamar tamu langsung terbangun, menyambar kerudung lalu menuju sumber suara di ruang tamu. Rupanya di sana sudah ada ibu pengasuh dan anak-anak. mereka sama seperti aku, terbangun karena suara ledakan. Anak-anak nampak takut karena sadar yang melempar adalah preman.
"Ada apa bi?" tanyaku pada bi Wina yang sudah ada di sana lebih awal.
"Ada yang melempar kaca, Yan. Ini pertama kalinya ada yang meneror panti. Entah apa tujuan mereka." bi Wina tampak khawatir sekali.
"Bibi lebih baik ajak anak-anak tidur saja, akan saya laporkan kejadian ini ke kantor polisi." kataku.
Aku mengirim Mas Akbar pesan dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mas Akbar awalnya mau meluncur ke sini tapi ku larang karena yakin orang-orang yang meneror itu tak akan kembali. Mereka hanya ingin menakuti kami. Di sini banyak anak-anak, kalau tujuannya seperti tadi siang justru akan memakan korban dan bisa menambah masalah baru karena berkaitan dengan anak-anak panti. Makanya aku yakin terornya hanya sebatas itu. Tak lupa aku mengirim bukti-bukti dalam bentuk foto dan video. Setelah itu kami kembali tidur. Untuk menjaga keamanan, aku dan bibi Wina tidur di ruang tamu.
***
Wisnu begitu marah saat tahu semalam panti di teror. Meski aku mengatakan semua akan baik-baik saja, tetapi ia sudah menghubungi beberapa anak panti lainnya untuk membantu jaga-jaga di malam hari. Supaya tak perlu berdebat, aku mengikuti saja keinginan Wisnu, anggap saja untuk jaga-jaga demi keselamatan anak-anak. Jangan sampai karena masalahku maka mereka terkena imbasnya.
"Lain kali kalau ada apa-apa itu kabari aku juga Yan. Meski aku tak sehebat mas Akbar tapi ada juga hal yang bisa aku lakukan untuk membantu kamu meski itu kecil." kata Wisnu.
__ADS_1
"Iya, maaf Nu. Semalam aku suntuk sekali. Lagipula aku tak mau merepotkan kamu terus karena hari ini aku berencana merepotkan kamu lagi. Sementara mas Akbar kan dia polisi. Ini tugasnya." kataku, sambil tersenyum untuk menghindari perselisihan lagi.