Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Memohon Belas Kasih Kak Dira!


__ADS_3

"Kak!" aku mengejar kak Dira, tak peduli mas Alex, manager hotel serta para satpam menghalangi namun aku memohon belas kasih kak Dira agar mau menyerahkan Sean kepangkuanku. "Aku ini ibunya, kak. Aku yang mengandung dan melahirkannya. Aku berhak atas Sean. Di dunia ini tak ada lagi yang aku miliki selain putraku. Tolong kak, kasihanilah aku. Kasihanilah seorang ibu yang benar-benar merindukan putranya. Kakak tahu aku gak pernah bisa berpisah dari Sean. Aku sangat mencintai putraku. Ia hidup dan matiku. Bagaimana bisa aku kembali berpisah dengannya. Sekali saja kasihani aku, kak." Aku berlutut di hadapannya, berharap, perempuan yang pernah menjadi kakak iparku itu iba dan menyerahkan Sean padaku.


Bayiku itu pasti juga merasakan keberadaan ibunya. Makanya ia menangis. Padahal Sean bukanlah tipe anak yang rewel. Ia anak yang sangat tenang. Jarang sekali menangis kecuali haus atau sedang basah. Tapi kali ini ia kembali menangis. Aku tahu, Sean pun merindukan aku. Meski sebenarnya aku sangat marah dipisahkan seperti ini, tapi aku berjanji jika saat ini mereka mengembalikan Sean padaku maka aku tak akan mempermasalahkan hal ini lagi.


Hubunganku dengan kak Dira selama ini baik-baik saja. Meski kami tak terlalu akrab, namun juga tidak terlalu kaku. Kami pernah menghabiskan waktu bersama. Sekedar makan bersama di luar, jalan-jalan ke mall, bahkan kak Dira salah satu orang yang paling rajin menemaniku chek-up ketika aku masih hamil Sean. Aku masih memiliki keyakinan ia akan iba padaku. Paling tidak kami sama-sama perempuan jadi bisa sama-sama merasakan perasaan satu sama lain.


"Pak, singkirkan dia!" kata kak Dira oada dua orang berbadan besar yang aku tahu adalah pengawalnya. Kak Dira memang seorang pengusaha sukses, sejak dulu ia selalu menggunakan jasa pengawalan untuk menjaganya. Minimal ada dua body guard dan seorang asisten yang menemani.


Mendengar perintah kak Dira tentu saja membuatku kaget. Teganya ia menyuruh orang suruhannya untuk menyingkirkan aku. Padahal ia mengambil anakku.


"Heh, lepaskan Yana. Awas ya kalian kalau berani menyentuhnya akan saya adukan kalian pada polisi!" Teriak Wisnu sambil berusaha melepaskan cengkraman dua orang suruhan kak Dira. Ia juga melirik mas Akbar yang seorang polisi untuk melakukan tindakan karena usahanya sia-sia. Memang tak mudah menghadapi dua orang sekaligus.


Kak Dira dan bang Alex langsung lari menuju lobi hotel sementara aku tertahan.


"Kak ... Kakak ... jangan bawa anakku, kak. kembalikan Sean. Kembalikan, kak. Kasihanilah aku!" Aku berteriak sambil berusaha melepaskan cengkraman orang suruhannya kak Dira.

__ADS_1


"Lepas!" kata mas Akbar pada mereka. Ia juga menyatakan bahwa dirinya adalah polisi, makanya dua orang itu akhirnya pergi.


"Bagaimana ini, kak Dira membawa Sean. Kemana mereka pergi? Ayo kita cari!" pintaku.


"Yan, tenanglah. Kita laporkan mereka berdua, ya." kata mas Akbar lagi.


Aku menggeleng. Kenapa juga harus melakukan semua itu. Sudah jelas-jelas Sean ada pada mereka, kenapa tidak mengembalikannya padaku saja? Kenapa harus kembali melewati rangkaian laporan lalu pemeriksaan. Sudah jelas-jelas Sean di sini.


Tapi tetap saja, mas Akbar tidak bisa melakukan apapun. Ia tetap mengajakku untuk pergi.


"Mbak, maaf kalau saya ikut campur. Tapi apa yang dikatakan bapak ini benar, sebaiknya mbak pergi saja, laporkan pada pihak yang berwajib karena kalau mbak melawan pun akan sangat sulit. Mereka punya uang dan kekuasaan, mbak akan kalah. Melawan dua pengawalnya saja mbak nggak sanggup apalagi melawan bosnya." kata Manager hotel tersebut.


"Iya, saya tahu mbak. Saya juga bersimpati pada mbak. Tapi lagi-lagi, kita orang kecil ini enggak akan mampu melawan mereka. Jadi ayo laporkan saja. Untuk masalah anak, mbak. Selama mereka masih di sini, saya yang akan bantu mbak mengawasinya. Kalau mereka pergi saya akan laporkan pada mbak. Saya melakukannya karena saya iba pada mbak. Saya juga punya anak, tahu bagaimana rasanya dipisahkan dengan darah daging sendiri, pasti sedih!"


"Bagaimana?" tanya mas Akbar. "Justru kalau kita bertahan di sini hanya akan buang-buang waktu saja. Kamu harus bergerak cepat Yan, kamu juga harus kuat, jangan cengeng karena lawan kamu bukan orang biasa. Mereka banyak dan kamu ...." ia diam. "Ingat, harus gerak cepat!" kata mas Akbar lagi.

__ADS_1


Berat rasanya meninggalkan tempat ini karena di sini ada Sean, bayiku. Tapi benar kata mereka, aku tak boleh bertahan sebab sama saja menyerah. Tak akan membuahkan hasil apapun. Kak Dira tak mau berdamai, ia justru menantangku.


"Memang benar-benar jahat perempuan itu. Tak punya hati. Lagian bagaimana dia bisa bersimpati lha punya anak saja tidak, makanya dia merebut bayi kamu Yan!" kata Wisnu.


Deg. Kata-kata Wisnu itu membuatku tersadar. Ada sesuatu yang salah selama ini. Apa jangan-jangan mereka memang merencanakan semua itu. Sengaja mengambil Sean agar bisa dimiliki oleh kak Dira yang memang tidak memiliki keturunan.


Mas Dani pernah berceloteh kalau kak Dira tak akan bisa memiliki anak, ia sudah tak punya rahim. Diangkat beberapa tahun lalu karena mengalami infeksi akibat menunda keturunan. Mereka memang sudah lima belas tahun menikah.


Sejak tahu aku hamil, kak Dira adalah salah satu orang yang paling bahagia. Bahkan aku merasa ia jauh lebih bahagia dibanding mas Dani. Ia sangat perhatian kepadaku. Selalu menanyakan bagaimana kondisiku, bahkan ia juga selalu ada untukku.


Kala itu aku benar-benar bersyukur saat kak Dira menemaniku ketika mas Dani tak ada. Ia bahkan membantuku menguatkan jadwal untuk kebutuhan bayi, mulai dari belajar bayi dalam kandungan, menyediakan buku bacaan untukku, memastikan aku makan-makanan bergizi dan cukup. Ia juga selalu marah kalau tahu aku kelelahan atau melakukan hal-hal yang membahayakan seolah bayi yang ku kandung adalah anaknya sendiri.


"Apa jangan-jangan ....?" aku menggigit bibir kuat-kuat. Jujur saat ini malah merasa takut, tak berani membayangkan apa yang saat ini ada dalam pikiranku.


"Kenapa Yan?" tanya Wisnu.

__ADS_1


Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut ini, apalagi saat mataku beradu pandang dengan mata mas Akbar. Ia menatap lama seolah paham apa yang sedang aku pikirkan.


Mobil terus melaju menuju kantor polisi. Kami akan membuat laporan. Sepanjang jalan aku terus membaca doa, memohon agar Tuhan memudahkan jalanku bertemu dengan Putraku. Ini memang tak akan mudah, seperti yang dikatakan mas Akbar bahwa perjalanan masih panjang, namun aku yakin bisa menang. Aku akan mendapatkan Sean kembali. Ia anakku, akulah yang berhak atasnya.


__ADS_2