
Berdasarkan hukum yang berlaku di negara ini bahwa anak yang lahir dari pernikahan siri maka hak asuhnya jatuh pada ibu ataupun Keluarga ibunya, yaitu aku. Namun hingga sekarang putraku tak kunjung bisa aku temui. Dimana ia berada saja aku belum tahu.
Pengadilan menolak memberi hak asuh padaku dengan alasan aku tak pantas merawat Sean. Aku dinyatakan secara kesehatan mengalami gangguan mental dengan mengkonsumsi obat penenang tiga bulan terakhir. Ini seperti petir di siang hari. Aku tak merasa sakit sama sekali namun mas Dani tega memfitnah sekeji itu. Tiga bulan lalu ia memang rutin memberikan vitamin padaku dengan alasan itu adalah vitamin untuk dopping ibu menyusui, namun ternyata aku masuk ke dalam jebakannya. Vitamin itu adalah obat untuk orang yang mengalami depresi.
Lalu, kesehatan mental itu juga yang menjadi alasan mereka memisahkan aku dari putraku hingga sekarang karena mereka menyatakan takut jika aku menyakiti putraku sendiri. Kejadian itu sudah pernah terjadi sebanyak tiga kali makanya mereka tak mau lagi kecolongan untuk keempat kalinya. Itu juga yang jadi alasan mas Dani menjatuhkan talak padaku. ia tak bisa lagi menjadi suamiku karena menyadari bahwa aku tak akan pernah bisa sembuh. Penyakit mental itu sudah ada sejak aku kecil turunan dari salah satu orang tuaku.
"Fitnah. Itu tidak benar. Aku nggak punya penyakit mental apapun. Aku juga enggak pernah mengkonsumsi obat sebelumnya. Kalaupun tiga bulan terakhir ada obat, itu juga tanpa sepengetahuan aku sendiri." Kataku, mengajukan protes pada hakim. "Orang tuaku, ayah dan ibuku, tidak sakit sama sekali. Mereka sehat, baik-baik saja!" aku menegaskan pada pak hakim.
"Saya bisa mengajukan saksi yang bisa menyatakan bahwa Bu Yana memang mengalami gangguan mental sejak kecil " kata mas Dani. Atas persetujuan hakim, ia menghadirkan seseorang yang tak pernah ku sangka-sangak akan menjadi penyerang ku. Seseorang yang aku percaya sejak aku kehilangan ayah dan ibuku. Seseorang itu adalah Bu Tari. Ibu asuhku di panti asuhan sekaligus sahabat ayah dan ibuku. Seorang yang sudah ku anggap sebagai pengganti ibuku sendiri.
"Bu?" Kataku.
"Maafkan ibu Yana, tapi ibu harus mengungkapkan semua kebenaran ini bahwa memang sejak kecil kamu terkena gangguan mental." Kata Bu Tari dihadapan majelis hakim.
Dadaku sesak mendengarnya. Aku seperti dihajar dari segala sisi. Mereka semua mengkhianati aku. Mereka sudah menjebakku. Aku tak biasa menahan emosi, tanpa sadar masuk ke dalam pancingan mereka. Di persidangan aku mengamuk sejadi-jadinya. Menangis sekuat mungkin sambil memaki mantan suami dan ibu yang sudah mengasuhku.
"Tega kalian melakukan semua ini padaku. Tega! Apa salahku? Kenapa aku? Kalau kamu gak mencintai aku jangan pernah bawa aku dalam pernikahan itu. Jangan pisahkan aku dari anakku. Kembalikan ia kepadaku. Ibu juga jahat, ibu tega berbohong. Kenapa ibu lakukan semua ini? Apa salahku? Aku sayang sama ibu tapi ini yang ibu lakukan padaku!" Kataku dengan suara tinggi.
__ADS_1
"Bu Yana tolong tenang dulu," kata hakim.
Sayangnya aku tak bisa melakukan itu. Ibu mana yang bisa diam jika dipisahkan dari anaknya. Aku harus berjuang meski ternyata caraku salah. Terpancing hingga akhirnya aku memberontak, memaki mereka yang telah mengkhianati hidupku.
Ujungnya, putusan bahwa hak asuh Sean jatuh ke tangan mas Dani sebab aku dianggap tidak layak. Emosiku tidak stabil dan itu akan sangat buruk untuk perkembangan anakku.
"Kenapa ... kenapa kamu lakukan semua ini padaku!" kataku pada mas Dani sesaat setelah majelis hakim meninggalkan ruangan. Bukannya menjawab, lelaki itu malah mengibas tanganku yang memegang tangannya dengan kuat hingga aku terpental ke lantai. "Mas ... jangan pergi!" kataku. Saat aku berusaha hendak pergi, mas Akbar melarangku. Marah-marah hanya akan membuat posisiku semakin buruk.
"Benar kata mas Akbar, Yan. Kamu harus tenang. Lihatlah kalau kamu enggak nurut, pada akhirnya kamu kehilangan hak asuh Sean, kan?" kata Wisnu.
"Kita banding." kata mas Akbar.
"Apakah masih ada kesempatan?" aku menatap penuh harap.
"Kamu pasti akan mendapatkan hak asuhnya, Yan. Kamu itu ibu kandungnya. Sean ya pantasnya dengan kamu meski sekarang mereka memainkan sandiwara tapi yang namanya kebusukan suatu saat akan terbongkar juga. Tuhan akan membalas dengan balasan yang sangat pedih. Betul kan Bu Tari?" Wisnu mengalihkan pandangannya pada Bu Tari yang ternyata masih berada di ruangan yang sama dengan kami. Ia yang duduk tenang di pojok ruangan sehingga terhalang dari perhatianku.
Mendengar nama itu disebut, darahku rasanya langsung naik ke ubun-ubun. Perempuan itu ikut andil membuatku kehilangan anakku.
__ADS_1
"Kenapa ibu lakukan itu padaku?" aku berdiri menghadap Bu Tari. Perempuan itu sungguh melukaiku hingga aku kehilangan kepercayaan padanya. "Tega ibu mengkhianati aku dengan ikut ambil bagian dalam drama yang dibuat mas Dani hingga aku kehilangan putraku. Ibu tahu tidak bagaimana rasanya jadi saya saat ini? Hancur, Bu! Saya teramat hancur!" kataku. "Aku menghormati dan menyayangi ibu layaknya ibu kandung sendiri tapi ibu tega menikam aku. apa salahku!" aku kembali terpancing emosi. Ingin sekali menyerangnya namun tak bisa karena sejujurnya aku menyayangi Bu Tari. Ia sudah seperti ibu kandungku sendiri.
"Jawab Bu, kenapa ibu tega pada Yana? kenapa? Apa salah Yana? Selama ini Yana sangat berbakti pada ibu. Kenapa?" Wisnu ikut marah.
Perempuan itu masih tetap diam. Saat ia hendak pergi, aku menarik tangannya, tak memberinya ruang untuk melarikan diri.
"Lepas Yana lepas. Sekarang kamu sudah tahu kan, aku memang sengaja bekerja sama dengan Dani, lalu kamu mau apa, hah?" tanya Bu Tari.
Sikapnya ini benar-benar berbeda dengan sikap Bu Tari biasanya. Entah kenapa ia berubah seperti ini. Aku sampai nggak bisa berkata-kata, diam mematung mencoba mencerna kata-katanya.
"Bu, tapi kenapa? Apa salah Yana?" Wisnu belum melepaskan Bu Tari. "Ibu tahu, ibu bisa kami tuntut karena melakukan kebohongan, mengarang cerita Yana punya depresi padahal itu semua tidak benar. Ibu bisa dipenjara. Ibu mau?" tanya Wisnu lagi.
"Penjarakan saja saya. Silakan. Lakukan saja apa yang kalian mau. Terserah. Saya tidak peduli. Sekarang lepaskan saya atau saya akan teriak dan menuduh kalian berdua mau mengeroyok saya!" tantang Bu Tari.
Mendengar itu, mas Akbar memberi isyarat pada Wisnu untuk melepaskan Bu Tari. Sebagai orang hukum ia tahu apa resiko ancaman itu untuk kami berdua.
Mas Akbar sengaja memegangi Wisnu agar tak mengejar Bu Tari. Meski Wisnu belum puas karena tak mendapatkan jawaban. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1