Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Bagaimana Ini?


__ADS_3

Aku benar-benar dirundung gelisah. Meski mas Akbar menyatakan akan terus memperjuangkan aku di hadapan ibu dan keluarga besarnya, tapi bukan hanya itu yang aku harapkan.


Mimpi di terima dikeluarga besar suami adalah yang aku idam-idamkan selama ini. Bukan diterima palsu seperti yang dilakukan keluarga mas Dani. Tapi kenyataannya yang kedua inipun palsu. Sedih, membayangkan tak dianggap lagi. Padahal besar sekali harapanku bisa mendapatkan keluarga besar sesungguhnya lewat pernikahan kedua ini.


"Sayang," mas Akbar menyusulku ke kamar. "Mama ada di hotel Ann Syariah. Bagaimana, kamu mau ke sana atau aku yang duluan?" tanyanya.


"Mau diundur sampai kapan, mas? Apalagi mama wh maksud aku Tante Seruni sudah ada di sini, kenapa harus diundur lagi. Ini semakin menjelaskan kalau aku membawa dampak buruk untukmu. Persis seperti apa yang dikatakan beliau." kataku yang semakin uring-uringan. Mau marah tapi sudah terlanjur janji nggak akan marah, tapi hati sangat kesal makanya kecewa berat. Kenapa hal yang baik harus dimulai dengan kebohongan. Itu sama saja dengan menjadikannya buruk. Kenapa sejak awal nggak ngomong jujur saja agar akupun bisa mempersiapkan mental untuk mengahadapi ini semua


"Maaf ya sayang, aku hanya takut kehilanganmu." kata mas Akbar lagi.


"Huuhhh," aku membuang wajah. "Jadi kapan kita temui ibumu, mas?" tanyaku


"Bagiamana kalau nanti sore? Kata mama sekarang mau istirahat dulu."


"Oh ya. Baiklah. Akupun harus mempersiapkan mental." jawabku sambil berbaring membelakangi mas Akbar.


***


Kami berdua datang ke hotel dimana kita Bu mertua menginap. Sean sengaja ku titipkan pada bibi Wina karena untuk mengkondisikan nya masih belum maksimal.


Sebelum ke sini, aku memerlukan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan diri. Memilih pakaian dan aksesoris agar disukai ibu mertua. Termasuk membelikannya buah tangan. Semua demi menarik simpatinya. Siapa tahu ini bisa mempermulus jalanku menjadi menantu yang disukai meski aku merasa sepertinya harus berjuang lebih.


Sampai di lobi hotel, nyaliku ciut. Ku minta maaf Akbar menemui ibu dulu. Aku menunggu di resto hotel. Berharap dengan mereka bicara dahulu suasana hati ibunya sudah tenang.


"Kamu yakin enggak apa-apa aku tinggal masuk?" tanya mas Akbar. Aku mengangguk, barulah ia pergi menuju kamar Tante Seruni.


Sampai di resto, aku memesan minuman untuk menunggu. Tapi sampai minuman habis mas Akbar belum juga keluar. Akhirnya aku memesan satu gelas lagi dengan nasi goreng dan puding. Sama seperti sebelumnya, sampai makanan dan minuman habis, belum juga ada tanda-tanda mereka akan keluar.

__ADS_1


Sudah dua jam aku menunggu. Entah apa yang dibicarakan. Aku sendiri belum berani menghubungi mas Akbar, hanya menunggu.


Akhirnya penantian ku menemukan ujungnya juga. Mas Akbar datang, sendiri..Dari raut wajahnya tampak tidak baik-baik saja.


"Tante Seruni mana?" tanyaku.


Ia masih diam. Makanya aku memesankan minuman supaya ia bisa lebih tenang.


"Mama mau tinggal di sini." kata mas Akbar.


"Bagus dong." kataku juga dengan senyum lebar. Menyambut semangat ide ibu mertua karena yang terpikir olehku, berarti beliau ingin dekat dengan anak mantunya. Aku jadi enteng sudah menunggu lama sebab hasilnya begini.


"Tapi ... mama mau tinggal di rumahku, sayang. Kamu tahu kan rumah itu sudah dikontrakkan. Enggak mungkin juga ngusir pengontraknya. Nggak sopan banget. Mana mereka sudah nyewa untuk tiga tahun kedepan dan baru jalan dua bulanan."


"Kenapa nggak tawarkan tinggal di rumah aku saja, mas. Itu kan rumah kita juga. Sama saja tinggal di sana atau ditempat kita."


"Mama nggak mau. Dia ingin tinggal di rumahku, Yan."


"Yan," kata mas Akbar lagi. "Mama ... tetap bersikeras atau hubungan kami berakhir."


"Ya Tuhan," kataku.


"Mama ingin bicara dengan kamu."


"Kapan?"


"Kalau kamu bisa sekarang,"

__ADS_1


"Baiklah." aku mengikuti mas Akbar menuju kamar ibunya. Langkah ini sebenarnya berat, namun ku paksakan.


Kami masuk ke kamar 104, dimana di sana sudah ada Tante Seruni menunggu. Waktu melihatku, ia hanya melengos.Akbar itu


"Aku tinggal ya. Aku tunggu di lobi bawah." kata mas Akbar.


Jantungku makin berdegup kencang sebab kini hanya tinggal kami berdua. aku dan ibu mertua yang belum merestui.


"Duduklah." katanya. "Saya tidak tahu siapa kamu sebenarnya, tapi kenyataannya kamu sudah menikah dengan anakku. Akbar itu satu-satunya putraku. Anak yang aku besarkan susah payah sendiri sebab ayahnya telah meninggal dunia sejak lama. Kami hanya berdua. Ia tumbuh jadi anak yang penurut. Anak yang selalu membayangkan saya sebagai ibunya, hingga ia dewasa, ia tak pernah mengecewakan saya.


Lalu ia menikah denganmu. Seperti yang ceritakan padamu, begitulah sikap saya hingga sekarang!


Akbar juga sudah menceritakan pada saya apa yang terjadi padamu. Bahwa kamu kehilangan putramu. Bagaimana rasanya? Sakit, kan? Ya, sama. Seperti itu juga rasanya kehilangan putra satu-satunya yang amat saya sayangi.


Anak itu kini seperti orang asing untuk saya. Ia benar-benar berubah. Tak lagi mendahulukan ibunya. Entah apa yang kamu lakukan padanya.


Sebagai ibu yang pernah kehilangan anaknya, kamu pasti selalu berharap bisa menemukan putramu kembali, kan? begitu juga dengan saya. Sebagai ibunya, sebelum saya meninggal, saya ingin menemukan putra saya kembali.


Kamu ... melakukan segala hal untuk mendapatkan anakmu kembali, kan? Saya pun begitu. Ingin melakukan apapun untuk mendapatkan anak saya kembali. Sebab melahirkan, membesarkan anak itu rasanya tak mudah. Butuh pengorbanan besar.


Saya sempat ingin menyerah, namun karena kamu akhirnya saya kembali menaruh harapan. Kamu saja bisa mendapatkan putramu kembali, kenapa saya tak boleh berharap hal yang sama.


Kamu ... bisakah kamu membantu saya mendapatkan putra saya kembali setelah apa yahh dilakukan putra saya untuk kamu selama ini. Bisakah kamu membantu saya?" ia menatapku penuh harap.


Perlahan, butir-butir bening itu turun dengan derasnya tanpa permisi. Mengalir membasahi pipiku. Sesak sekali rasanya. Aku diam mematung menyaksikan seorang ibu kini menangkupkan kedua tangannya di hadapanku. Ia memohon, meminta aku untuk mengembalikan putranya dengan air mata juga.


Ya Tuhan ... apa ini? kenapa semuanya jadi begini? Perih. Aku mencintai mas Akbar namun bukan berarti aku ingin memisahkan ia dari ibunya. Aku menyayanginya tetapi tak ingin menguasai dirinya seorang diri karena aku tahu, anak laki-laki akan selamanya menjadi milik ibunya.

__ADS_1


Tante Seruni masih terus menangkupkan kedua tangannya, kami berdua sama-sama menangis hingga akhirnya aku mengangguk.


"Anda akan mendapatkan putra anda kembali. Aku janji itu!" kataku, dengan hati patah berkeping-keping.


__ADS_2