Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Ibu Mertua Datang


__ADS_3

Aku dan Sean sedang sibuk dengan mainan bis baru miliknya. Meski belum terlalu akrab betul layaknya ibu dan anak, namun kami sudah mulai dekat. Sudah banyak berbincang juga bercanda. Ia pun selalu memanggilku Mama, seperti yang aku sapakan kepadanya.


Namun kami harus jeda bermain sejenak karena bel rumah berbunyi. Karena di rumah hanya ada aku dan Sean, makanya aku yang membukakan pintu. Yang datang seorang perempuan paruh baya. Wajahnya amat mirip dengan mas Akbar, makanya aku menduga itu ibunya.


"Saya mamanya Akbar." Katanya. Tebakanku benar, makanya aku buru-buru hendak menyalami tapi perempuan itu agak mengelak.


"Tante ini saya Yana, yang sering ngirim wa ke Tante. Tante apa kabar? Kapan datang dari Jogja? Maaf kalau kami nggak sempat menjemput karena kami nggak tau Tante datang, kami kita Tante ke sini pekan depan." Kataku, masih berusaha mengakrabkan diri karena sebelumnya sudah ada komunikasi kami meski lewat pesan.


"Wa apa?" Ia menatap heran. "Saya ke sini cuma mau ketemu Akbar. Putra saya yang nggak pulang-pulang sejak sibuk ngurusin orang lain." Ujarnya.


"Oh, maaf Tante." Aku jadi canggung karena rasanya seperti di tolak oleh Tante Seruni, tapi aku mencoba membesarkan hati, mungkin mertuaku itu marah karena kami belum mendatanginya padahal sudah menikah cukup lama. Seharusnya sebelum menikah, saat akan melangsungkan pernikahan dan sesudah menikah kami berdua harusnya datang untuk memberitahu, minta izin dan silaturahim. Sebagai seorang ibu, aku bisa memahami kemarahan Tante Seruni, makanya aku menerima dengan lapang dada sikapnya yang tak bersahabat. "Mas Akbar masih kerja. Tante masuk saja dulu, akan saya telpon supaya pulang sekarang." Kataku dengan niat agar mertuaku bisa ketemu dengan anaknya segera.


Tetapi, keputusanku tersebut malah salah bagi Tante Seruni. Ia malah mengomel, menganggap aku tak sopan menyuruh -nyuruh suami.


"Paham saya sekarang kenapa Akbar berubah. Anak yang dahulunya nurut ternyata kalau dapat pasangan seperti ini jadi abai pada ibunya." Tante Seruni pergi meninggalkan rumah kami tanpa pamit padaku. Ia rupanya datang naik taksi.


Aku tak tahu Tante Seruni akan keman karena rumah lama mas Akbar dikontrakkan. Setelah kami menikah, sesuai dengan kesepakatan kami berdua, ia tinggal denganku sebab klinik usahaku berada di sebelah rumah dan aku juga punya tanggung jawab mengontrol anak-anak panti.


[Mas, mama datang ke rumah.] Pesan ku kirimkan pada mas Akbar. Cukup lama aku menunggu, tak ada balasan padahal ia sudah membaca pesannya.

__ADS_1


Ternyata tiga puluh menit kemudian mas Akbar pulang. Ia tampak khawatir. Tergesa -gesa menghampiri aku


"Apa kata mama?" Tanyanya.


"Enggak apa-apa. Cuma marah saja." Jawabku. "Setelah itu pergi. Enggak tahu perginya kemana. Naik taksi sendiri. Sebaiknya mas hubungi mama, aku takut kenapa-napa."


"Hah, marah? Bagaimana?" Mas Akbar langsung mendekat. Ia terlihat makin panik. Bukannya mempedulikan mama yang pergi sendiri.


"Ya kayak nggak akrab seperti biasanya, mas. Kalau di wa kan mama hangat sama aku, tapi tadi seperti orang asing. Tapi aku paham sih, mungkin mama masih marah karena sejak awal hendak menikah hingga sekarang kita nggak pernah datang pada mama. Kita selalu menunda-nunda. Makanya aku pikir sebaiknya mas menghubungi mama, tanyakan dimana mama sekarang lalu kita samperin untuk minta maaf."


"Yan, ada yang ingin aku sampaikan. Tapi aku mohon kamu jangan marah atau salah paham. Aku nggak bermaksud untuk membohongi kamu. Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Hanya itu jalan yang terpikir olehku saat itu."


"Mama ... Nomor yang kamu kirim pesan selama ini bukanlah nomor mama." Kata mas Akbar dengan suara pelan. Ia tampak sangat menyesal.


"Maksudnya?"


"Itu ... aku Yan."


"Sebentar, maksudnya bagaimana sih? Aku nggak paham. Kamu bilang itu nomor mama, tapi sekarang kamu bilang itu bukan mama. Lalu kamu. Tolong jelaskan padaku. Kamu bohongi aku?"

__ADS_1


"Aku sudah jatuh cinta padamu sejak kita masih jadi mahasiswa."


"Lalu kenapa tidak kamu katakan?" Tanyaku. Sebab ternyata perasaan kami saat itu sama. Hanya saja aku tak berani mengatakan sebab aku hanyalah anak yatim piatu yang bisa kuliah dengan beasiswa. Sementara mas Akbar, yang aku tahu ia adalah seorang anak pengusaha batik dari Jogja. Ia begitu terpandang. Lagipula bukannya kebiasaan laki-laki yang harus maju duluan.


"Aku ... sudah minta izin pada ibu kala itu, tapi ibu tak mengizinkan sebab beliau sudah menjodohkan aku Dengan seorang yang masih ada hubungan kerabat dengan kami. Ibu ingin aku menikah dengannya. Karena ditolak seperti itu, ditambah tiba-tiba kamu menikah dengan Dani, akhirnnya aku patah hati. Aku berhenti kuliah satu tahun dan masuk polisi. Ku kira aku bisa melupakan kamu seiring berjalannya waktu, tapi ternyata aku salah. Perasaanku tak bisa teralihkan pada siapapun.


Aku sudah berusaha hingga akhirnya kita bertemu lagi. Aku mengira inilah jawaban untuk doa-doa yang ku panjatkan selama dua tahun itu.


Yan, kala itu aku takut kehilanganmu lagi. Makanya aku berusaha mengikat agar kita punya ikatan emosional. Status kamu yang masih istri orang saat itu membuatku sangat yakin kamu tak akan mau bercerita banyak padaku. Makanya aku menjadikan ibu sebagai tempat untuk kamu curhat. Aku sengaja membeli Hp baru untuk diatas namakan ibu.


Yan, saat kita akan menikah pun aku sudah bicara pada ibu, tapi beliau tetap tak setuju. Makanya beliau tak datang di hari pernikahan kita. Akupun tak mengajak kamu sebab kala itu selain tak ingin mengganggu konsentrasi kamu dalam pencarian Sean, akupun masih ragu mempertemukan kalian berdua. hanya saja aku tahu itu salah. Harusnya aku tetap mengajak kamu bertemu ibu dan aku berkata jujur padamu. Bahwa ibuku belum mengenal kamu."


"Ya Allah ..." Aku terduduk lemas, ternyata masih ada PR besar yang harus aku hadapi. Harusnya dari awal aku curiga, kenapa saat kami sudah menikah pun ibu tak pernah lagi menghubungi aku lewat WA seperti sebelumnya. Bukankah kami sudah sangat akrab. sekarang aku paham. Mas Akbar membohongiku. Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur terjadi.


"Maafkan aku Yan, tapi aku janji, bagaimanapun sikapnya mama nanti. Aku akan menjadi tameng untuk kamu. Kalian adalah prioritas utamaku saat ini." ungkap mas Akbar.


Tentu saja aku menolak sebab bagaimanapun harusnya ia juga peduli pada ibunya, satu-satunya keluarga kandung yang masih ia miliki..Apalagi selama ini ibunya sudah banyak berjuang untuknya.


"Harusnya kamu tak membohongi aku!" kataku, lalu berlalu ke kamar.

__ADS_1


__ADS_2