
"Buka pintu itu!" kataku, ketika menyadari ada sebuah ruangan yang terabaikan karena benar-benar menyatu dengan warna dinding sekitar. Namum kalau diamati dengan teliti maka akan tampak jelas bahwa itu adalah sebuah ruangan, adavdaun pintunya.
"Ruangan apa? sudahlah, sekarang tinggalkan tempat ini. Kami tidak mengizinkan siapapun untuk masuk ke sini sebab banyak jejak almarhum Sean di sini!" mas Alex menegaskan.
Aku tak peduli, langsung berjalan menuju pintu yang ku maksud, namun dengan sigap mas Alex menepisku begitu kuat hingga aku nyaris terpental. Untungnya ada mas Akbar yang dengan sigap menangkap tubuhku hingga tak jadi jatuh.
"Hei, jangan kasar dengan perempuan!" kata mas Akbar dengan nada tinggi.
"Istrimu sudah terlalu lancang. Harusnya sebagai orang yang waras kau tak mengikuti semua kehaluannya. Kalau sakit itu bawa berobat, bukan diikuti kehendaknya!" ejek mas Alex.
Aku kembali maju, hingga antara kami sempat terjadi dorong-dorongan. RT setempat sempat meminta agar aku mundur saja namun aku bersikeras bahwa ini adalah terakhir. Kalau sudah memeriksakan ruangan itu dan tak ada, aku siap menyerah.
"Aghhhh!" mas Alex menggerutu. Aku tak peduli.
Mas Akbar dan beberapa orang personil polisi kembali membuka paksa usai diminta baik-baik membuka namun mas Alex menolak.
Prak. Pintu terbuka. Terpampanglah sebuah pemandangan yang membuatku berlinang air mata. Di hadapanku terlihat kak Dira tengah mendekap seorang anak laki-laki. Bayiku, yang sudah hampir tiga tahun tak pernah kutemui. Ia juga membekap mulutnya agar tak bersuara. Mereka duduk jongkok dibalik bathtub.
"Sean!" kataku.
Aku menerobos, mendekati putraku, namun kak Dira menghalangi. Ia berteriak histeris hingga Sean ikut berteriak. Menangis sekencang-kencangnya.
"Jangan ambil anakku, jangan!" kak Dira mundur hingga ia benar-benar tersudut, reflek ia memegang leher Sean, mengancam akan mencekik anak itu jika kami tetap memaksakan untuk mengambilnya.
"Jangan, jangan sakiti anakku!" aku memekik histeris. Tak mau hal buruk menimpa buah hatiku. Sudah cukup kami dibuat menderita dengan dipisahkan selama ini, jadi jangan ditambah lagi.
__ADS_1
"Pergi kalian semua. Biarkan aku dengan anakku!" kata kak Dira.
"Itu anakku!" kataku.
"Ini anakku!" aku dan kak Dira saling adu argumen hingga tanpa ia sadari mas Akbar berhasil merebut Sean dari belakang meski sempat ditarik kembali oleh kak Dira, namun sekali sentakan, tarikan kak Dira langsung terlepas.
"Aaaaa anakku. Jangan ambil anakku!" kak Dira sangat histeris, ia berusaha merebut kembali namun polisi dengan sigap memegangnya.
Sean masih menangis, tak kalah histeris dibandingkan kak Dira. Mas Akbar langsung memberikan padaku. Akhirnya anak itu berada dalam pelukanku lagi. Aku memeluknya erat, menimang sambil berusaha mendiamkan meski tangisnya tak kunjung reda.
"Hahahaha, lihatlah, bahkan anak itu tahu mana yang pantas jadi ibunya dengan tidak. Dia tak mau diam denganmu karena dia tahu kamu bukan ibu yang baik untuknya." ejek mas Alex yang sudah diamankan oleh polisi.
Aku terus mendekap Sean, berusaha menenangkan meski tangisnya tak kunjung reda.
Sementara itu, polisi mengamankan kak Dira, mas Alex, mama Vio dan papa Farid. Mereka dibawa ke kantor polisi karena sudah menyembunyikan putraku.
***
Hatiku sebenarnya hancur, aku paham Sean seperti itu mungkin karena tidak nyaman. Sejak awal ia sudah dibekap oleh kak Dira, diperlakukan tidak baik. Kemudian ia harus berada di tanganku yang selama hampir tiga tahun ini tak pernah dilihatnya. Ia pasti tak mengenali aku lagi meski aku berharap naluri kami bisa membuat hubunganku dan Sean membaik.
"Bagiamana?" tanya mas Akbar, setelah aku menyelimutinya.
"Ia kelelahan, makanya tidur. Padahal seharian tidak makan. Aku benar-benar khawatir." kataku. "Besok InshaAllah akan ku bawa ia ke dokter anak untuk dicek semuanya apakah ia baik-baik saja. Aku sangat khawatir terjadi hal buruk padanya." kataku
"Semoga saja tidak." kata mas Akbar. "Tapi sayang, sepertinya besok aku tak bisa menemani karena masih ada pekerjaan." kata mas Akbar lagi.
__ADS_1
"Tak mengapa. Ada bibi Wina yang bisa menemani." aku paham, selama ini waktunya tersita hanya untukku.
"Oh ya, satu lagi. Mama ... kapan kita bisa ketemu mama?" tanyanya.
Aku memang belum pernah bertemu mertuaku. Ibunya mas Akbar karena memang pernikahan kami dadakan dan fokus ku hanya tertuju pada Sean. Aku menikah pun karena berharap mas Akbar bisa membantu mempercepat menemukan Sean. Lagipula selama ini aku berkomunikasi dengan mertuaku sehingga aku sangat yakin ia akan memahami kondisiku.
"Bagaimana kalau akhir pekan ini, setelah semua urusan Sean selesai?" tanyaku. "Maaf ya mas, aku harap mas nggak tersinggung atau berpikir buruk."
"Tentu saja tidak." ia tersenyum. "Hanya saja ... mama," ia agak ragu. "Tapi nanti saja aku ceritakan sebelum kita ketemu mama. Kamu fokus sama Sean saja dulu. semoga hasil screeningnya bagus." mas Akbar mengusap kepalaku.
***
Pukul dua malam, saat mata ini benar-benar mengantuk dan tubuh begitu lelah. Tiba -tuba saja Sean menjerit. Ia terbangun dari tidurnya. Mungkin mimpi buruk atau karena lapar.
"Sayang, kamu mau apa nak?" tanyaku, sambil berusaha meraihnya dalam pelukan. Tapi ia menolak, menjauh sambil terus menangis. "Sean mau ke kamar mandi?" aku menawarkan, ia tetap menangis. "Mau makan? Atau mau minum?" tanyaku lagi. Ia tetap menangis.
Mas Akbar sampai ikut terbangun. Ia membantu membujuk Sean namun bocah itu tak mempedulikan kami berdua. Ia terus menangis
"Nak, ayolah katakan. Kamu mau apa?" tanyaku, yang sudah sangat lelah.
"Sabar sayang, dia pasti masih bingung karena tiba-tiba bersama kita. Beri dia waktu untuk mengenali kamu lagi." mas Akbar menasihati agar aku tetap ingat bahwa Sean itu berpisah denganku di usia belum genap satu tahun. Ia pasti belum mengingat apapun. Jadi aku harus sabar. "Sudah, sekarang kamu tidur saja. Aku yang akan menggendong sambil menenangkan." kata mas Akbar.
Aku menurut karena memang terlalu lelah. Begitu berbaring, mataku langsung terpejam. Meski begitu aku masih bisa mendengar perbincangan mas Akbar. Ia membujuk Sean hingga akhirnya tangis anak itu reda. Setelah itu aku terlelap. Tak lagi bisa mendengar suara apapun sebab sudah terlanjur lelap di alam mimpi.
***
__ADS_1
Azan Subuh berkumandang, aku terbangun, melihat mas Akbar tengah memangku Sean di sofa kamar kami. Pemandangan yang sangat indaj. Melihat itu aku sangat bersyukur memiliki suami sepertinya. Ia benar-benar bisa menerima putraku. Rasa sayangnya tak bisa diragukan. Ialah yang paling berjasa hingga aku dan Sean bisa berkumpul lagi.