Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Perjalanan Mencari Putraku


__ADS_3

Perjalanan ini dimulai, kami terbang dari Jakarta menuju New York selama dua puluh dua jam sepuluh menit. Perjalanan yang sangat melelahkan namun penuh antusias karena aku ditemani suami baru dan untuk mencari anakku.


Besar sekali harapanku ini adalah akhir dari pencarian itu. Aku bisa ketemu dengan Sean.


Sampai di sana, aku yang sudah tak sabar meminta agar mencari hari itu juga. Mas Akbar sempat menawarkan untuk istirahat sejenak sebab perjalanan yang kami tempuh cukup jauh, tentunya sangatlah melelahkan, ditambah ada jetleg juga karena perbedaan waktu. Tapi rasa rindu yang begitu besar membuatku tak peduli. Aku tak mau mengundur waktu terus.


Mas Akbar dibantu teman-teman dari pemerintahan mencari rumah kak Dira. Untungnya link mas Akbar cukup banyak hingga dengan mudah Kami menemukan alamat yang diberikan mantan ibu mertuaku.


Sebuah rumah yang cukup sederhana, namun terlihat eksklusif karena pemiliknya punya banyak uang. Ia pengusaha hotel dan restoran, meski beberapa sudah tutup namun tetap saja tabungan kak Dira cukup banyak. Apalagi menurut informasi salah seorang link mas Akbar, selama di sini ia pun aktif memulai usaha barunya dibidang kuliner. Meski tak sesukses di ibukota namun tetap saja menambah pundi-pundi kekayaannya.


"Kak ... kakak. buka pintunya!" aku tak sabar, mulai menggedor pintu rumahnya usai beberapa kali mengetuk dengan sopan namun tak ada jawaban.


"Permisi, apa kalian mencari tuan Alex dan nyonya Dira? Ia sudah pergi sejak tiga hari lalu dan tak kembali." kata tetangga rumah kak Dira dengan bahasa Inggris.


Tubuhku langsung lemas. apakah mereka selicin ini hingga tak bisa ditangkap? lagi-lagi lolos.


Namun mas Akbar meyakinkan bahwa mereka akan tertangkap.


"Sekarang kita kembali ke hotel ya." ajak mas Akbar. "Kepolisian di sini sudah mencekalnya, tak mungkin kemana-mana selain ke Jakarta. Kita akan kembali besok dan menemukan mereka." kata mas Akbar lagi.


Tetap saja, aku tak bisa tenang. Malah semakin gelisah. Takut kalau benar-benar tak bisa ketemu Sean lagi.


"Entah berapa lama lagi aku akan dipisahkan dari anakku!" tangisku mulai pecah setelah kami sampai di hotel. Rasa lelah yang sempat hilang kini kembali berkali lipat rasanya. Aku benar-benar takut tak bisa ketemu. "Ayolah mas, pertemukan aku dengan Sean. Bukankah kamu sudah berjanji?"

__ADS_1


Hari ini aku benar-benar kacau. Terus menangis sambil meracau, memintanya untuk mempertemukan aku dengan Sean. Mas Akbar sampai kewalahan menangani aku hingga akhirnya apa yang kami hindari untuk sementara waktu sesuai kesepakatan kami akhirnya terjadi. Ketika hati benar-benar gundah gulana, kadang nyanyian cinta bisa mengobatinya. Untuk pertama kalinya setelah sah menjadi suami istri akhirnya tugas sebagai istri ku tunaikan juga.


Aku terbaring Subuh waktu setempat. Dengan rasa lebih segar dari sebelumnya. Bangkit menuju kamar mandi untuk mensucikan diri. Usai mandi, mas Akbar yang sudah bangun sejak awal mengajakku salat bersama. Dalam sujud kami berdoa panjang untuk Sean.


***


Seperti janji mas Akbar, ia membawaku kembali ke tanah air usai mendapatkan kabar bahwa kak Dira, suaminya dan Sean sudah kembali ke Jakarta. Ia tak dapat ke negara lain sebab sudah dicekal.


Sampai di Jakarta, aku langsung membuat janji dengan mantan ibu mertua agar mempertemukan aku dengan kak Dira atau kasusnya akan bertambah panjang. Mama Vio awalnya mengelak, namun setelah kukatakan bahwa aku mengetahui keberadaannya dan polisi ikut memantau sambil mengingatkan hukuman mas Dani, akhirnya ia buka suara juga.


[Sepekan lagi aku akan membawa Sean bertemu.] pesan dari mama Vio.


[Kenapa begitu lama? Sekarang saja atau polisi akan menciduk kalian. Ingat, kalau polisi sudah ikut campur tangan maka sudah tak ada istilah damai!] aku terus mengancam sembari memberikan tekanan.


"Kenapa begitu sulit?" aku tak tahan untuk tak


melupakan emosi.


"sabar sayang, sedikit lagi." pintanya.


Sebagai jaminan, mama Vio dan papa Farid ditahan sampai kak Dira dan mas Alex menyerahkan diri.


Esok harinya mas Alex menyuruh kami datang ke rumah sakit. Ia mengatakan akan menyerahkan Sean.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, aku langsung menghampiri ruang IGD dimana Sean dirawat. Hatiku was-was saat tahu anakku masuk rumah sakit. Khawatir dengan kondisinya.


"Sean ... Sean ... Sean. Kamu dimana, ini mama?" aku membuka tirai dimana Sean dirawat. Berapa terkejutnya mendapati seorang anak tengah terbaring dengan tubuh sudah ditutup kain. "Apa ini?" tanyaku dengan suara gemetaran.


"Sean sudah meninggal." kata mas Alex.


"Meninggal? maksudnya bagaimana? Jangan sembarangan bicara. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan anakku meninggal. Anakku sehat -sehat saja. Mana anakku?" aku kembali marah, hendak mencakar mas Alex tapi dihalangi oleh mas Akbar. "Biarkan aku memberinya pelajaran. Dia sudah mengatakan anakku meninggal. Sungguh tega sekali!" aku terus berceloteh.


"Yan, selama ini Sean sedang sakit, aku dan Dira berusaha semaksimal untuk menyembuhkannya. Kami berobat kesana-kemari, tapi kamu terus menghalangi usaha kami. Dengan melakukan pencekalan kami tak bisa membawa Sean ke Cina. Makanya jadi begini!" kata mas Alex.


"Jangan bohong kamu. Jadi sekarang kamu mau menyalahkan aku? Kalian yang salah, memisahkan aku dari anakku. Lagian dimana istrimu? Kenapa ia tak ada disini kalau memang benar ia berusaha untuk Sean?" tanyaku.


"Ia frustasi, makanya memilih menepi. Pergi entah kemana. Akupun tak tahu " jawab mas Alex.


Mas Akbar memeriksa Sean, tentunya dibantu oleh dokter dan perawat di sini. Berdasarkan hasil pemeriksaan, anak itu sudah meninggal sekitar empat jam lalu, kemungkinan ia sesak nafas.


"Yan, lihatlah Sean." kata mas Akbar, membujukku melihat anak yang begitu aku rindukan namun kembali dalam kondisi seperti ini. Sebagai ibu mana sanggup aku. "Peluk Sean untuk terakhir kalinya " kata mas Akbar sambil menggandeng tanganku mendekat.


"Ini bukan Sean!" kataku, saat menyadari bahwa anak ini bukanlah Sean. Wajahnya berbeda dari Sean saat masih bayi


"Kamu bicara apa? Masa sama anak sendiri nggak ngakuin." kata mas Alex


"Ya, anak itu bukan Sean, mas. Aku tahu anakku." kataku pada mas Akbar.

__ADS_1


Semua orang melihat padaku yang terus meyakinkan semua orang bahwa anak itu bukanlah anakku. Tapi mas Alex tak mau kalah, ia menyatakan inilah anakku. Wajahnya memang bisa saja berubah setelah bayi, tapi masih sangat mirip.. Ditambah golongan darah kami sama.


__ADS_2