
Sudah dua puluh empat jam berlalu, namun belum juga ada kabar dari Sean. Sepanjang malam aku tak bisa memejamkan mata, terus terbayang wajah bayi enam bulanku itu. Perasaan khawatir terus menghantui. Bagiamana ia semalaman tanpa aku, tanpa ada asi. padahal Sean masih minum asi dariku. Apakah ia bisa tidur dengan nyenyak, siapa yang menjaganya? Kata pembantu di rumah besar, seseorang membawa Sean. Bukan mertua atau kakak iparku. Lalu siapa? Apakah Sean di culik, juga mas Dani? Ya Tuhan, aku semakin penasaran. Takut hal buruk itu benar-benar terjadi.
Namun, saat hal itu aku utarakan, Bu Tari hanya menyuruhku untuk menunggu saja. Menunggu entah sampai kapan. Kalau ada jaminan mereka baik-baik saja, mungkin aku bisa sedikit tenang meski tetap saja rindu pada bayiku. Apalagi kalau tak ada kabar berita sama sekali. Bagaimana mungkin aku bisa diam menunggu?
"Sudahi kebodohanmu, Yana. Sudah waktunya kamu membuka matamu lebar-lebar. Ini semua bukan hanya kebetulan saja. Jangan terus berpikir positif pada mereka dan jangan berharap anakmu akan di kembalikan. Mereka sedang merencanakan sesuatu yang entah apa. Tapi percayalah, selama ini mereka hanya memanfaatkan kamu." kata Wisnu, saat ia kembali bertandang ke panti.
"Apa maksudmu? Kenapa sejak kemarin kamu terus berkata seperti itu seolah-olah keluarga suamiku adalah orang jahat. Dua tahun aku menjadi bagian dari keluarga itu dan semuanya baik-baik saja. Semua normal. Tak ada hal yang ganjal bahkan aku merasa mereka tak hanya sekedar mertua dan ipar tapi sudah seperti saudara kandung sendiri saking baiknya padaku. Lalu, pada orang-orang seperti itu aku harus curiga? Harus berprasangka buruk?" kataku.
"Ya Tuhan Yana. Kenapa ada manusia seperti kamu!" ia tampak gemas. "Kamu tahu, kita berada di sebuah kota yang tak terlalu besar. Ia pulang untuk menjemput anakmu tapi sampai sekarang tak ada kabar. Jika terjadi hal buruk, anggaplah kecelakaan, pasti ada jejaknya. Tapi ini semua benar-benar licin. Lalu bagaimana kamu bisa terus berprasangka baik pada laki-laki seperti itu yang tega memisahkan ibu dari anaknya."
"Cukup Wisnu. Pembicara kamu mulai tidak jelas. Kamu tidak tahu apa-apa tentang suamiku jadi jangan sembarang menilai. Ia lelaki yang sangat baik." aku membela mas Dani.
"Oh ya? Kamu gak harus menjawab, tapi coba renungkan Yan. Tanya hatimu baik-baik apa ia benar-benar baik dan mencintai kamu. Catat ya Yan, mencintai kamu!"
Apa yang dikatakan Wisnu langsung terpikirkan olehku. Mas Dani, ia, ia mencintai aku. Aku sangat yakin itu.
__ADS_1
Dua tahun lalu, saat aku masih menjadi mahasiswa baru di fakultas kedokteran. di semester pertama, ia masuk ke kehidupanku. Dengan gentleman memperkenalkan diri dan menyatakan bahwa ia menyukaiku. Aku yang tak pernah jatuh cinta atau berinteraksi lebih dengan lawan jenis sangat terkesima dengan caranya tersebut. Ia menyatakan ingin menikah muda makanya tak mau main-main. Kalau aku setuju ia akan melamar ke ibu panti, namun jika tidak maka ia akan segera menghilang dari kehidupan ku.
Mas Dani juga berjanji kala itu, usai menikah maka aku boleh melanjutkan kuliah. Kami bahkan akan menunda keturunan hingga aku jadi dokter. Ia benar-benar jatuh cinta padaku dan tak menemukan cara terhormat lainnya untuk perasaan cintanya itu.
Aku menyambut lamaran itu setelah mencari tahu segala hal tentangnya. Awalnya ragu saat tahu bahwa ia berasal dari keluarga terpandang. Tetapi keluarganya sangat terbuka padaku. Menerimaku apa adanya, tak masalah jika aku hanyalah anak panti. Hanya saja, orang tuanya berharap agar kami menikah siri saja dahulu dengan alasan bahwa anaknya akan mengikuti tes kepegawaian lulus kuliah nanti dan salah satu syaratnya belum menikah.
Alasan itu sangat masuk akal menurutku, makanya aku setuju saja demi masa depan kami berdua.
Pernikahan yang sangat sederhana digelar. Hanya ada keluarga mas Dani dan orang-orang panti.
Usai menikah, mas Dani memboyongku ke rumah besarnya. Kami tinggal bersama mertua dan kakak iparku dengan alasan di rumah besar itu sepi dan juga mas Dani masih berusaha membuatkan rumah untuk keluarga kecil kami.
Meski begitu aku menurut saja. Mengikuti semua aturan yang dibuat mas Dani tanpa membantah sedikitpun sebab aku meyakini bahwa ia melakukan semua demi kebaikan kami ditambah beberapa bulan kemudian aku hamil Sean. Jadilah aku menikmati hari-hariku di rumah besar itu. Termasuk ke panti pun aku tak pernah bisa. Semuanya dijaga ketat oleh Mas Dani.
Lalu, apakah benar semua yang dilakukan mas Dani cinta?
__ADS_1
Lelaki itu memang tak pernah lagi menyatakan cinta padaku. Ia hanya manis di awal ketika mwlamarku, setelah itu menjadi pria dingin yang kaku. Namun Kami tetap bersama tanpa pernah bertengkar sekalipun dan menurutku itu sudah lebih dari cukup.
"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Bu Tari yang entah kapan muncul di antara kami.I
"Aku tengah membuka otaknya agar tak bodoh lagi!" kata Wisnu.
"Yan, kamu tetap sabar ya." kata Bu Tari. "Ibu tahu ini ujian yang sangat berat."
"Ujian itu harus dihadapi dengan gagah, bukannya sibuk sendiri saja. Merasa orang lain gak sejahat itu hanya karena tampilan luar,saja. Ingat Yan, kalau ia berani menelantarkan kamu dua puluh empat jam seperti ini maka sudah bisa dipastikan ia tak mencinta kamu..Ngerti!"..
"Nah kenapa langsung berpikir seperti itu, sih? Siapa tahu mas Dani juga lagi sedih atau jangan-jangan ia ada dalam bahaya.' Bu Tari masuk ke dalam pembicaraan kami. "Siapa ya siapa mempermudah saudaranya nanti juga akan dijadikan bahan candaan.
"Itu juga yang aku pikir, tapi Wisnu terus saja mengarahkan bahwa mas Dani itu bersalah dan sudah melakukan kejahatan padaku. Itu jelas-jelas sangat tidak mungkin sekali. Sean itu anakku, anak kami berdua. terjadi sesuatu pada Sean, kami berdua yang paling merasa sedih. Jadi jangan sembarang bicara lagi. Ngerti!" aku sedikit emosi.
"Aku sudah jabarkan semuanya, Yan..Tapi aku sangat yakin laki-laki itu tak seperti yang kamu kira. Sepertinya kamu belum mengenalnya lebih dekat.' kata mas Wisnim
__ADS_1
Lelah dengan perdebatan bersama Wisnu, aku memutuskan kembali ke kamar. Rasanya ingin menyendiri saja dari pada dipaksa memikirkan semua tuduhan Wisnu yang rasanya tak masuk akal.
***