Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Di Rumah Sakit


__ADS_3

Waktu terus berlalu, aku belum juga menemukan jalan keluar untuk panti asuhan. Anak-anak ini harus dikemanakan padahal besok pagi panti akan digusur. Mau mengungsi di rumahnya Wisnu juga tak mungkin. Ada seratus anak, sementara tempat tinggalnya hanya terdiri dari dua kamar tidur. Tak mungkin mereka dijejer di sana. Sementara mengalah pada mas Dani juga tak akan pernah aku lakukan. Meski aku berasal dari panti ini dan sangat menyayangi anak-anak yang ada di sini, tapi aku juga tak mungkin mengorbankan anak kandungku sendiri. Sekarang saja aku tak diizinkan bertemu Sean, apalagi kalau nanti hak asuhnya benar-benar diambil kak Dira. Bisa-bisa aku benar-benar tak dipertemukan lagi dengan Sean.


***


Paginya, mas Dani benar-benar menyuruh orang-orangnya untuk menghancurkan panti asuhan. Aku, bibi Wina dan anak-anak berusaha menahan namun kami kalah karena mereka menggunakan alat-alat berat. Hanya sekali jalan saja maka bangunan yang sudah menampung anak yatim piatu itu mulai hancur.


Aku yang semula sudah pasrah pada akhirnya harus kembali maju ketika melihat salah satu adik panti berlari kencang menuju puing-puing kamarnya. Sayangnya bersamaan dengan itu buldozer menghancurkan puing-puing sehingga ia terkena runtuhan bata.


"Kalian benar-benar keterlaluan, anak-anak ini tak bersalah kenapa begitu tega. Mereka tak punya apa-apa lagi di muka bumi ini selain tempat ini. Tapi tega kalian hancurkan. Sampai kapanpun aku tak akan pernah memaafkan kesalahan kalian!" kataku yang sudah kehabisan kesabaran. Apalagi saat melihat Sigit, anak berusia delapan tahun yang terkena runtuhan. Kepalanya sampai bocor.


Usai memuntahkan kemarahan, aku meminta bibi Wina menuju rumah Wisnu membawa anak-anak. Biarlah mereka di sana dulu mengungsi, sementara aku dengan ojek segera ke rumah sakit untuk mengobati luka di kepalanya.


Luka Sigit harus dijahit. Dua jahitan kata dokter. Aku menunggu di depan IGD sambil menghubungi mas Akbar. Sebenarnya tak ingin menyusahkan dia lagi, tapi aku benar-benar buntu, makanya hanya bisa minta bantuan padanya.


Sejak menikah dengan mas Dani, aku tak punya teman lainnya lagi. Semua terputus. Selama dua tahun itu ia tak mengizinkan aku berkomunikasi dengan siapapun. Hanya ia satu-satunya teman yang aku miliki. Bahkan dengan pihak panti tempat aku dibesarkan pun ia tak mengizinkan untuk berhubungan lagi. Meski ternyata ia dan Bu Tari sudah punya kesepakatan sebelumnya.


Sedang menunggu balasan dari mas Akbar, tiba-tiba aku melihat sosok yang tak asing. Kak Dira berlari menuju ke arahku bersama mas Alex. Aku baru menyadari bahwa ia menggendong seorang anak kecil. Sean. Mereka melewati aku tanpa menyadari keberadaanku. Sementara itu, aku yang melihat Sean seperti terhipnotis, ingin segera mendekati anak tersebut, namun saat itu aku sadar, kalau ia melihatku di sini maka aku tak akan bisa mendekati Sean. Mereka pasti akan menghalangi aku.

__ADS_1


Dengan tubuh bergetar, aku berusaha mencari posisi aman namun dekat dengan Sean. Di balik tiang, aku bisa mendengar jelas percakapan kak Dira dengan seorang perawat.


"Putra saya kejang, entah kenapa. Kami hanya memberinya susu formula seperti biasa, tapi tiba-tiba ia seperti ini." kata kak Dira.


Aku sempat mengintip dan melihat Sean dalam dekapan mas Alex. Putraku tampak pucat, badannya bergetar, ia juga jauh lebih kurus dari ia yang sebelumnya.


"Ya Allah, nak," aku tak kuasa menahan air mata. Membekap erat mulutku agar tak mengeluarkan suara yang membuat kak Dira dan mas Alex menyadari keberadaanku.


"Namanya siapa?" tanya perawat itu.


"Aldi Putra Aleksander." jawab kak Dira.


Kak Dira membawa Sean masuk ke tempat pemeriksaan. Ia berada tepat di sebelah kasur Sigit. Setelah mereka masuk dan menutup kordennya, akupun ikut masuk. Pelan-pelan aku pun masuk, melintas ke tempat Sigit. Adik asuhku itu masih terbaring lemas usai dijahit.


"Sigit, dengar kakak. kamu tunggu di sini, nanti om Wisnu akan menjemput." kataku. Sambil terus mengawasi bagian sebelah lewat kaki mereka.


Dokter keluar bersama mas Alex. Hanya tinggal kak Dira dan Sean. Aku bisa mendengar suaranya menyebut putraku dengan nama lain.

__ADS_1


Pelan aku mengirim pesan pada Wisnu dan mas Akbar, berharap mereka bisa menyusul dan membantu mendapatkan Sean. Namun, sebelum balasan itu datang, aku melihat kak Dira keluar menuju kamar mandi.


Apakah ini waktunya? Dengan tangan gemetaran aku menyingkap tirai sebelah dan kini terlihat Sean terbaring di sana. Ia tertidur.


Pelan, aku mendekat. Tangan masih bergetar, aku menggendong Sean. Tak tahu harus melakukan apa, yang jelas aku hanya ingin membawa anakku pergi.


Namun, aku melihat kaki mas Alex berjalan menuju tempat Sean, makanya aku buru-buru melintas ke tempat Sigit. Begitu ia masuk, aku keluar, berjalan cepat sambil merapalkan doa-doa.


"Tuhan, aku tahu begitu banyak dosa-dosaku. Aku pun bukan hamba-Mu yang taat, namun aku benar-benar berserah. Tolong bantu aku agar bisa membawa putraku. Aku hanya ingin bersama anakku." kataku.


Entah karena doa atau tenaga kesehatan yang ada di IGD sudah teramat lelah, makanya saat salah seorang berpapasan denganku, sejenak ia melihat aku dan Sean, lalu berlalu begitu saja. Namun aku yakin ini adalah pertolongan Allah hingga akhirnya aku lolos dari IGD.


Sampai di luar, aku berlari melewati koridor menuju halaman luar. Kini yang ada dipikiran ku hanyalah bisa membawa Sean sejauh mungkin agar tak ada lagi yang bisa mengambilnya dariku.


Sayangnya, baru saja aku melewati gerbang rumah sakit, dari IGD terdengar heboh-heboh yang ku yakini mereka sudah menyadari hilangnya Sean.


Asal, aku menyetop taksi, meminta mengantar ke rumahnya Wisnu. Sebenarnya aku tak mau ke sana karena takut ditemukan, tapi aku tak punya tempat pelarian lainnya. Hanya di sana tempat satu-satunya yang aku tahu, makanya aku segera pulang.

__ADS_1


"Sean ... Sean anakku." rindu, rindu sekali..Setelah nyaris dua bulan tak bertemu akhirnya aku bisa bertemu putra semata wayangku. Bayi itu kini yebenagun, sepasang mata bulatnya menatapku. Anak itu benar-benar tenang, tak menangis sama sekali. Dengan segala keterbatasan, aku mencoba memberikan asi padanya, hak Sean yang dua bulan ini tak lagi didapat olehnya.


__ADS_2