Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Bertemu Mas Dani


__ADS_3

"Memang kita mau kemana, Yan?" Wisnu masih bertanya kemana kami akan pergi. Aku hanya menunjukkan jalan, akhirnya ia paham siapa yang akan aku temui sebab ia tahu siapa yang tinggal di sana. "Kalau ini biar aku yang hadapi!" Katanya.


"Enggak perlu Nu, ini urusanku. Aku ke sini bukan sekedar melabrak tapi ada tujuan lain. Jadi aku mohon kamu sabar nunggu di mobil. Kalau bahaya maka kamu boleh datang " aku menunjukkan kamera kecil yang diberikan mas Akbar.


"Oh oke. Aku paham!" Wisnu mengangguk-angguk. Ia tak lagi protes, membiarkan aku turun sendiri dan berjalan menuju rumah mas Dani. "Aku akan selalu mengawasi gerak-gerik kamu dari sini, Yan. Jadi jangan khawatir, kalau ada apa-apa aku akan langsung turun!" Tegas Wisnu.


Sebenarnya perasaan saat ini tidak baik-baik saja. Khawatir, marah, juga sedih bercampur menjadi satu. Membayangkan tentang jawaban mas Dani nantinya. Apa benar aku sudah siap? Entahlah. Tapi yang jelas aku harus segera mengetahuinya untuk segera menata hatiku.


Saat pintu rumah diketuk. Perempuan yang diakui sebagai calon istrinya yang membuka. Sebagai orang yang pernah mencintai mas Dani dan sampai sekarang masih ada rasa itu sejujurnya aku kecewa berat. Ada apa dengan mantan suamiku itu? Kenapa ia berubah begitu cepat? Apa yang membuatnya seperti ini?


Perempuan itu tampak malas melihatku. Dengan sinis ia menyuruhku pergi.


"Aku tak suka melihat perempuan seperti kamu ada disini, jadi sekarang pergilah atau aku panggil satpam agar kamu di seret dari sini!" ucapannya teramat sadis, dengan lancarnya menghinaku. "Kamu itu bukan level kami, jadi pergilah."


"Terserah kamu anggap kita tidak level tapi yang jelas aku pernah menikah dengan mas Dani dan kami memiliki anak!" kataku.


"Hah, kamu kira dengan dia menikahi kamu maka kamu istimewa? Tidak! Satu-satunya perempuan yang ia cintai dari dulu sampai sekarang dan untuk selamanya hanya aku!" ia berkata dengan penuh percaya diri.


"Tapi aku yang dinikahinya!" balasku


"Heh perempuan bodoh. Dani menikahi kamu hanya untuk mendapatkan anak dari kamu. Hanya sebatas itu. Dia sama sekali tak punya perasaan apapun padamu. Jadi jangan terlalu percaya diri atau kamu yang akan kecewa!" ia tertawa mengejek. "Aku kenal Dani itu orang yang seperti apa. Kami sudah dekat sejak kami kecil dan berjanji akan hidup bersama selamanya. Paham kamu!"


"Terserah apa yang kamu katakan, toh kenyataannya ia mendapatkan keturunan dariku!" kataku, mencoba memancingnya.

__ADS_1


"Heh perempuan nggak guna. Kamu tahu kenapa ia menikahi kamu dan punya anak darimu? Karena aku nggak mau melahirkan anak untuknya. Aku nggak mau melewati rasa sakit saat hamil dan melahirkan anak, lagipula aku ini model terkenal, kalau aku punya anak maka badanku akan rusak. Makanya aku menolak. Sementara Dani harus bisa memberi keturunan untuk kak Dira sebab ia tak bisa memiliki keturunan. Nama besar keluarga harus ada penerusnya dan kamu hanya dijadikan alat untuk melahirkan penerus keluarga besar Dani. Jadi dia tak mencintai kamu tapi hanya memanfaatkan kamu yang bodoh itu. Paham kamu!"


Deg. Rasanya bagai disambar petir mendengar penjelasan perempuan ini. Meski ia adalah musuhku tapi aku percaya dengan keterangan yang ia berikan.


Jadi mas Dani menikahi aku agar melahirkan anak untuk kak Dira?


Duniaku benar-benar hancur. Aku menyerahkan hidupku untuknya sebab ia menawarkan kehidupan baru yang begitu indah untukku tapi begini akhirnya. Kalau hanya menjadi alat untuk mendapatkan keturunan harusnya ia jujur di awal. Bukan pura-pura mencintai aku tapi kenyataannya malah begini.


"Bagaimana? Kamu kaget?" perempuan itu tertawa kecil. "Makanya jangan terlalu PD. Hanya aku perempuan yang dicintai Dani!" jelasnya sambil mencibir padaku.


Tak berapa lama Mas Dani keluar, sepertinya ia mendengar suara ribut calon istrinya itu denganku.


"Untuk apa lagi kamu ke sini, hah?" tanya mas Dani.


"Heh, kamu kenapa?" tanya mas Dani yang melihatku menangis.


"Biasalah, dia baru sadar kalau kamu nggak mencintainya. Aku mengatakan kalau kamu menikahinya hanya agar ia melahirkan anak untuk kak Dira." jawab kekasihnya dengan santai.


"Hah?" mas Dani begitu kaget sebab perempuan itu membuka rahasianya.


"Nggak usah ditutup -tutupi. Biar saja ia paham posisinya itu seperti apa biar nggak sok cantik. Perempuan miskin dan kampungan sepertinya mana pantas bersanding dengan kamu. Iya kan sayang?" katanya pada mas Dani.


"Pergilah!" kata mas Dani padaku.

__ADS_1


"Kenapa kamu tega melakukan semua itu padaku? Apa salahku? Kalau kamu enggak mencintai aku harusnya jangan menikahi aku!" kataku


"Heh dengar baik-baik. Harusnya kamu bersyukur pernah masuk ke keluarga besar Dani. Pernah merasa hidup enak seperti putri. Kamu tahu kenapa kamu dipilih? Karena kamu dianggap bisa menghasilkan bibit unggul. Anak yang cerdas dan berparas rupawan!" tegas perempuan itu yang lagi-lagi membuat luka di hatiku


"Aku menghancurkan masa depanku tapi kamu tega melakukan ini semua!" kataku


"Pergilah!" kata mas Dani.


"Aku tak akan pernah memaafkan kamu. Suatu hari kamu akan menyesal!" kataku.


Hati ini benar-benar hancur saat tahu mas Dani memilih aku sebagai istrinya bukan karena ia mencintai aku.


Aku adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Tapi wajahku dianggap cantik. Aku juga pintar karena berhasil masuk fakultas kedokteran jalur beasiswa karena otakku yang cerdas. Mereka menilai, jika aku melahirkan anak maka anaknya akan mewarisi kecerdasan dan kecantikan ku. Selain itu, aku yang yatim piatu tak akan ada yang membelaku. Jadi akan sangat mudah bagi mereka untuk menghancurkan aku!


"Bagaimana Yan?" tanya Wisnu saat aku kembali ke mobil.


"Lelaki itu benar-benar jahat!" kataku


"Ya, aku tahu itu. Saat ku beritahu kamu malah ngeyel, menganggap laki-laki itu bisa membahagiakan kamu, tapi nyatanya enggak kan!" jawab Wisnu.


"Nu, aku sedang sedih, jangan marahi aku dulu ya, aku tak kuat kalau dimarahi sekarang." pintaku dengan wajah memelas.


"Ahhh Yan, ya sudah. Maafkan aku. Lain kali menurut lah padaku!" kata Wisnu.

__ADS_1


Dua tahun lalu, ia mengajakku menikah. Mas Dani juga menjanjikan kehidupan yang bahagia bersamaku. Tapi ternyata itu hanya tipu muslihat dia saja. Toh nyatanya ia tak mencintaiku padahal aku sudah memberikan segalanya. Aku bahkan rela tak melanjutkan kuliah, melepaskan beasiswa tapi ini yang ia berikan padaku. Sebuah kebohongan dan pengkhianatan. Aku benar-benar membencinya, menyesali semuanya kecuali kehadiran putraku Sean. Hanya bayi itu kini sumber kebahagiaanku.


__ADS_2