
Tiga, dua, satu. Lampu menyala. Aku duduk menghadap kamera.
"Namaku Yana, seorang perempuan biasa yang sudah menjadi yatim piatu sejak masih bayi. Aku besar di sebuah panti asuhan.
Hari-hari hidupku, dijalani mengalir saja. Suatu hari, aku yang ingin merasa bahagia berani membuat sebuah mimpi, menjadi seorang dokter. Tak mudah untuk bisa tembus universitas dan mendapatkan beasiswa penuh, tapi karena kegigihanku makanya aku bisa menjadi mahasiswa kedokteran.
Suatu hari, seseorang datang kepadaku, menawarkan sebuah keluarga yang hangat. Keluarga yang penuh cinta, yang akan membuat hatiku yang kosong penuh dengan kasih sayang. Aku yang memang haus akan cinta ini akhirnya tergiur, menerima tawaran itu. Namun siapa sangka, dua tahun kemudian, setelah aku melahirkan seorang putra, ia mencampakkan aku, mengambil anakku, memisahkan kami tanpa bicara apapun juga. Aku hancur sehancur-hancurnya. Tak bisa melakukan apapun sebab aku yak punya kuasa. Aku hanya ingin putraku, tak menginginkan apapun lagi sebab ialah hidupku. Harapanku, kebahagiaanku!
Tolong, siapapun, aku mengetuk pintu hati kalian, tolong bantu aku untuk menemukan putraku. Terimakasih, semoga Allah membalas kebaikan kalian."
Klik. Lampu kembali normal seperti semula, mas Akbar mematikan kamera. Ia memerintahkan orangnya untuk meng-upload video tersebut disertai bukti-bukti dan foto Sean.
Bukti-bukti ketika bersama mas Dani, mertuaku dan kak Dira.
"Sekarang kita hanya menunggu, semoga saja ini viral karena biasanya kekuatan netizen bisa mengalahkan orang yang berkuasa seperti Bu Dira." kata mas Akbar.
Aku yang semulanya tak terlalu percaya akhirnya mengikuti saja. Yang terpenting berusaha untuk Sean. Apalagi sebentar lagi akan dilakukan pembacaan putusan untuk gugatanku pada mas Dani yang sudah menyerahkan Sean pada kakaknya tanpa membicarakan apapun padaku, padahal aku ibunya.
***
__ADS_1
Seperti yang dijanjikan mas Akbar, video itu viral. Ditonton banyak orang, dishare, mendapatkan banyak komen dan like. Mereka ramai-ramai memberikan dukungan. Bahkan bersatu untuk melakukan perlawanan dengan memboikot hotel sab restoran milik kak Dira. Membaca komen-komen yang mereka tulis, aku yang semula merasa sendiri pada akhirnya merasakan semangat lagi. Seolah semua orang memeluk dan menguatkan aku. Rasanya energinya kembali bertambah berkali-kali lipat.
"Aku benar-benar merasa dicintai banyak orang. Kemarin-kemarin aku merasa hanya ada Sean, namun sekarang aku merasa masih banyak orang baik yang akan membantuku mendapatkan anakku." kataku.
***
Perempuan itu kaget melihatku berada di depannya. Bu Tari. Aku sengaja menemuinya di rumah salah satu keluarganya hanya untuk memberitahu agar ia bersiap karena akan ada kasus hukum yang menjeratnya.
"Selama ini kami anak-anak panti mengira kalau ibu itu adalah malaikat yang diutus oleh Allah untuk membantu kami. Ibu tahu betapa besarnya cinta kami untuk ibu? Sama seperti cinta kami pada orang tua yang tak pernah bisa kami temui. Tapi ternyata ibu gak tulus, ibu begitu jahat, tega menjadikan anak-anak sebagai ladang untuk mendapatkan kekayaan. Saya tahu rumah ini bukanlah milik keluarga ibu, tapi atas nama ibu sendiri, kan? Tega! Juga pondok yang rela ibu jual pada mantan suami saya untuk menghancurkan saya padahal ada anak-anak yang tak berdosa harus menanggung akibatnya..Ibu benar-benar jahat. Sekarang saya tak berhutang apapun lagi pada ibu. Makanya saya berani datang ke sini untuk memberitahu bahwa kami akan melaporkan ibu!" kataku.
"Laporkan saja, terserah kamu. Kamu kira aku takut? enggak Yana. Sejak ayahmu meninggal, hidupku pun sudah berakhir. Aku bertahan hanya untuk melihat kamu hancur. Setelah semuanya terwujud, aku tak punya alasan lagi untuk bertahan di sini. Mau di penjara atau tidak, sama saja untukku!" kata Bu Tari dengan sangat santai.
"Kadang hidup memang begitu Yana. Seperti yang kamu katakan, harusnya aku menghancurkan hidup ibumu saja, tapi sebelum aku melakukannya, ia sudah menghancurkan duniaku. Makanya aku membalaskan padamu." ia tersenyum miring.
"Jangan begitu!" aku tak kuasa menahan luka di hati ini. Kenapa harus anak-anak yang tak berdosa. Kenapa? "Sampai kemarin, kami selalu berpikir kamu orang baik. Kamu adalah ibu untuk kami yang kasih sayangnya tak pernah habis. Bahkan kami selalu menghadirkan kamu dalam doa-doa kami, tapi kenapa begitu jahat pada mereka." aku tak sanggup lagi.
Mas Akbar yang menemani segera menjemputku sebab ia menyadari suasana sudah memanas. Ia mengajakku pergi.
"Aku tak bisa melaporkan dirinya." kataku. "Aku sangat menyayanginya."
__ADS_1
"Lakukan apapun yang membuat kamu tenang." kata mas Akbar.
"Tapi aku begitu marah. Ia sudah mengkhianati aku dan anak-anak lain. Ia tega melakukan semua ini padahal kami begitu tulus menyayangi dirinya. Kenapa takdirnya harus begini? Ku kira ia benar-benar ibu pengganti untukku dan anak-anak lainnya."
"Yan, jangan menyalahkan takdir karena semua yang sudah Tuhan tetapkan itulah yang terbaik. Ada hikmah untuk ujian ini." kata mas Akbar lagi.
Lelaki ini, kenapa ia begitu baik padaku? Apakah ia juga begini pada semua perempuan yang meminta bantuan polisi?
Aku memutuskan menghentikan mengingat kebaikannya sebab takut malah terbawa perasaan. Saat ini bukan waktunya memikirkan yang lain selain Sean. Lagian siapa aku sampai berani berharap pada polisi baik seperti mas Akbar.
***
Dua hari setelah kejadian itu, mas Akbar menyampaikan padaku bahwa Bu Tari sudah menyerahkan dirinya ke kantor polisi, ia menyesal sudah menjual tanah wakaf dimana panti didirikan pada mas Dani.
"Ia juga menyerahkan uang ini agar kamu bisa membeli bangunan Baru untuk anak-anak nantinya." kata mas Akbar sambil menyerahkan amplop coklat besar berisi uang. "Bu Tari juga janji akan bersaksi di pengadilan bahwa ia sudah membuat kesepakatan di awal sebelum kalian menikah dengan mas Dani. Juga tentang penjualan tanah wakaf ini yang memang tujuannya untuk mengancam kamu." mas Akbar menjelaskan pesan yang disampaikan Bu Tari.
"Mas, apa aku bisa bertemu dengannya? Aku ingin bicara empat mata. Antara kami saat ini memang ada banyak kemarahan dan kebencian namun aku sangat yakin ia tak sejahat itu." kataku.
"Maaf Yan, tapi Bu Tari tak ingin bertemu siapapun. Bahkan dibantu pengacara pun ia tak mau." kata mas Akbar.
__ADS_1
Harusnya, kalau ia bisa menerima semua suratan takdir, ini semua tak perlu terjadi. Ia hanya harus menyimpan semua aib yang sudah dibuatnya bersama ayahku. Namun jalan lain yang ia pilih.