
Aku kembali mendesak mantan mertuaku untuk memberitahu dimana putraku berada saat ini. Mereka pun masih sama seperti sebelumnya, mencoba menawar, bahkan sampai mengungkit -ungkit kebaikan mas Dani yang menurutku itu semua hanya omong kosong belaka. Wajar jika suami memberikan kehidupan yang terbaik untuk istrinya, yang jelas ia melakukan itu bukan untuk aku, sebab ia mengharapkan anakku untuk diberikan pada kakaknya. Anaknya sendiri, darah dagingnya ia tukar dengan uang. Itu hal yang paling memalukan sekaligus rendah menurutku.
"Baiklah, sepertinya kita tak perlu bicara banyak lagi. Aku akan serahkan semua bukti-buktinya pada pengadilan saat aku bersaksi besok agar kalian bisa merasakan sakit yang aku rasakan. Kehilangan anak sendiri!" kataku, dengan senyum sinis.
Luka rasanya hati ini. Jantung ini pun berdebar tak karuan. Takut mereka melepaskan begitu saja, tetap tak mau buka mulut. Lalu dengan apa lagi aku harus menekan?
Tapi, aku berusaha membungkus semuanya dengan sangat santai seolah aku punya banyak senjata.
"Oh ya, setelah mas Dani dihukum mati, bersiap ya. Papa Mama juga harus menyiapkan mental karena aku punya kejutan untuk menantu kesayangan kalian. Mas Alex. Akan ada kejutan untuk menantu tak berguna itu. Setelah itu baru kak Dira!" aku melambaikan tangan, pura-pura pergi sambil berzikir, berharap ditahan dan aku bisa bernafas lega ketika akhirnya mama Vio memanggil.
"Yana, apa yang mau kamu lakukan pada Alex dan Dira? tidak bisakah ini semua disudahi? Tolong lepaskan juga Dani. Tolonglah." pinta mama Vio.
Tiba-tiba ia berlutut, sesuatu hal yang sebenarnya sangat tidak aku inginkan. Untuk apa? aku hanya menginginkan anakku.
"Berdirilah. Bahkan kalian bunuh diri pun aku tak peduli!" kataku dengan tegas karena kesabaranku kembali dipermainkan. Tiga tahun bukan waktu yang sebentar dan mereka masih mau mengulur waktu? "Katakan dimana anakku atau hari ini terakhir anak kalian hidup!" kataku
"Bicaralah. Orang-orang kami sudah menuju pengadilan. Mereka akan bertemu jaksa dan hakim agar tuntutan maksimal diberikan kepada putra kalian. Masa masih mau ngulur-ngulur waktu juga!" Wisnu yang menemaniku ikut mengancam.
"Mereka di Amerika." kata mama Vio, tentu saja membuat papa Farid langsung melotot.
"Hei, jangan beritahu apapun. Kau mau Dira marah dan mengentikan uang bulanan untuk kita?" kata Papa Farid.
__ADS_1
"Anak kita dalam bahaya bisa-bisanya kamu hanya memikirkan uang." mama Vio marah.
"Itu kesalahannya sendiri. Biar ia menanggung karmanya!" kata Papa Farid.
Sebelum ibu mertuaku berubah pikiran, aku dan Wisnu cepat-cepat menunjukkan sebuah bukti baru agar mereka berdua pecah. Bukti perselingkuhan mantan ayah mertuaku. Ya, ia bermain di belakang mama Vio. Mungkin karena itu juga ia terlihat legowo kalau mas Dani di hukum.
Sebenarnya aku tak mau ikut campur dengan urusan mantan ayah mertuaku tersebut. Apalagi ini gak ada kaitannya denganku. Tapi aku perlu sesuatu hal yang bisa membuat mereka terpecah.
"Apa ini?" mama Vio melorot melihat bukti-bukti yang aku dan Wisnu kumpulkan dari orang-orang suruhan kami.
"Jadi begitulah, mama mertua, papa mertua sudah bermain api di belakang mama. Ia memang tak lagi peduli dengan mas Dani karena ia sendiri sedang mempersiapkan kehidupan baru dengan kekasih gelapnya ini." kataku. "Jadi bagaimana, mama masih mau bertahan. Tutup mulut. Maka mama akan kehilangan mas Dani dan sebentar lagi juga suami mama. Dounle rugi!" kataku.
"Pa, apa ini benar?" mama Vio menuju suaminya. Lelaki paruh baya itu tampak panik, namun untuk menutupi kesalahannya ia sengaja balik marah, menuduh aku mengadu domba padahal jelas-jelas ia sudah main curang.
Dalam posisi seperti ini sebenarnya aku Kasihan pada mantan ibu mertuaku tersebut, namun ia pun ikut andil atas hilangnya putraku. Ia ikut bersekongkol bahkan ia juga yang menawarkan uang agar aku melepas Sean.
Tuhan pasti akan membalas kejahatan manusia, meski sekecil apapun.
"Kamu jangan bodoh, jangan termakan kata-kata perempuan ini. Ia ingin menghancurkan kita." kata papa Farid.
"Apa bedanya dengan anda? Anda juga menghancurkan rumah tangga anda sendiri..Bahkan setelah anak anda mengirimkan uang banyak maka anda akan menyingkirkan istri anda, iya kan?" kataku. Sembari menunjukkan bukti rekaman pembicaraan ia dan kekasih gelapnya.
__ADS_1
[Kamu tenang saja manis, kalau uangnya sudah aku dapatkan. Kita akan hidup bahagia. Perempuan tua Bangka itu akan aku singkirkan dengan cara halus hingga ia tak sadar. Setelah itu kamulah satu-satunya yang akan jadi nyonya Farid] rekaman kemudian aku matikan.
"Jadi, bagaimana ibu mertua?" kataku. "Kalau anda bersikeras, maka anda akan kehilangan semuanya. Anak, suami dan rumah tangga." kataku lagi. "Lebih baik kuasai semua uang dari kak Dira. Kalau anda tak melakukannya, lelaki ini yang akan menghilangkan anda. Oh ya, kak Dira pun akan saya singkirkan, sama seperti mas Dani." aku memastikan mereka kalau aku tak main-main. Orang suruhanku sudah sampai di pengadilan untuk memberikan semua bukti-bukti.
"Baiklah baiklah." mama Vio langsung menyebutkan alamat kak Dira. Sementara itu suaminya langsung meradang, berusaha menghentikan istrinya namun Wisnu membatasi hingga ia hanya bisa berteriak -teriak.
"Kau tahu, kau baru saja membuat uang kita hilang. Dasar perempuan bodoh!" papa Farid mencoba menyerang istrinya, namun Kami menghalangi dengan mengancam akan melaporkan pada polisi.
Karena tak juga berhasil menghentikan istrinya, lelaki itu akhirnya pergi membawa kemarahan yang amat besar.
***
Aku dan mas Akbar akhirnya melangsungkan pernikahan..Sebuah acara akad yang jauh dari kata mewah. Benar-benar sangat sederhana. Demi mengejar halal saja.
Pernikahan itu sengaja dilangsungkan agar ia bisa menemaniku ke Amerika. Ya, ini pertama kalinya aku akan keluar negeri, jadi harus ada teman yahh paham jalan dan pernah ke sana. Untungnya mas Akbar sudah pernah ke sana, jadi aku punya jaminan aman selama melakukan perjalanan.
Tidak bisa aku pungkiri bahwa perasaan ini campur aduk. Senang karena akhirnya ada titik temu dimana Sean berada. Takut kalau-kalau kembali kecewa sebab tak menemukan putraku. Namun aku tak peduli, aku harus terbang sekarang juga.
"Kamu siap?" tanya mas Akbar yang baru satu jam ini resmi menjadi suamiku. Kami menikah secara agama, rencananya baru akan disahkan setelah kembali dari menjemput Sean.
"Ya, sangat siap bertemu Sean!" kataku, penuh semangat.
__ADS_1
Mas Akbar adalah salah satu obat untuk luka hati ini, meski lukanya belum sembuh. Mungkin kalau tak ada dirinya, aku gak bisa berangkat secepat ini mengingat tak punya paspor. Tapi mas Akbar dengan cekatan menggunakan linknya pada akhirnya bisa membuatku berangkat cepat