Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Tantangan-tantangan Untuk Bertemu


__ADS_3

Aku diantar kembali ke panti asuhan. Mas Akbar menjanjikan akan mengurus semuanya agar hak asuh Sean ku dapatkan. Aku hanya diminta untuk menunggu dengan tenang. Jangan pernah terpancing oleh permainan apapun yang mereka mainkan, sebab salah-salah langkah maka hal buruk seperti ini, bahkan bisa lebih buruk lagi akan terjadi.


Mereka benar-benar licik, segala cara dilakukan demi bisa mewujudkan keinginannya.


Sebenarnya aku tak ingin kembali lagi ke panti ini sebab sudah terlanjur benci pada Bu Tari. Kemarahan membakar semua kebaikannya padaku. Yang tersisa hanya rasa sakit dan kecewa saja. Entah kenapa ia melakukan semuanya. Wisnu mengatakan agar aku bertahan di sini saja sampai semuanya selesai, toh aku juga tak punya tempat tinggal.


Rasanya sangat tersiksa, kembali memasuki bangunan penuh kenangan indah namun sekarang kebaikan itu seperti racun yang perlahan siap membunuhku.


Entah apa salahku hingga Bu Tari tega melakukan semua itu. Bukankah ia mengatakan menganggap aku seperti anak sendiri. Ia bahkan membedakan aku dari anak yang lain sebab aku anak sahabatnya.


"Tenang saja Yan, bibi sangat yakin Bu Tari tak akan kembali dalam waktu dekat." Kata bibi Wina, saat kami hanya tinggal bertiga. Usai kepergian mas Akbar. Aku, Wisnu dan bibi Wina.


"Memangnya Bu Tari kemana?" Tanyaku. Setahuku ia sudah tidak punya saudara yang lain, sama seperti aku. Panti ini satu-satunya tempat yang ia miliki. Kalaupun ia keluar dari sini hanya untuk kepentingan panti. Sekedar berbelanja, mencari donasi atau mengadakan pertemuan.


"Ia akan Menghilang, entah sampai kapan. Yang jelas apa yang jadi tujuan hidupnya sudah tercapai. Jadi ada kemungkinan ia tak akan pernah kembali ke sini lagi." Bibi Wina memperlihatkan kunci-kunci panti yang selama ini tak pernah ditinggalkan namun sekarang dibiarkan begitu saja di kantor.


"Tujuan apa, bi?" Aku mengerutkan kening. Tak paham dengan apa yang dikatakan bibi Wina.

__ADS_1


Perempuan paruh baya yang biasanya membantu mengurus panti atau bahkan bisa dikatakan ialah yang mengurus semua urusan domestik itu tampak ragu-ragu. Tapi karena aku terus mendesak akhirnya bibi Wina buka mulut juga. "Sebenarnya ini adalah sebuah rahasia." Bibi Wina masuk sebentar menuju kantor, lalu keluar membawa satu tas sedang. Ia membuka dan memperlihatkan isinya padaku.


Ada gambar ayah dan ibuku. Gambar yang aku kenali karena ada di liontin kalungku. Bibi Wina menceritakan bagaimana ia meragukan Bu Tari selama ini hingga akhirnya tadi pagi semua keraguannya itu akhirnya terjawab.


"Sudah lama bibi memendam semuanya. Bu Tari itu adalah ibu tirimu, Yan." kata bibi Wina. Sebuah pernyataan yang membuatku nyaris melonjak kaget. Meski beberapa waktu belakangan ini menemukan banyak kejutan, tapi tetap saja aku kaget dengan kejutan yang ini.


Dahulu, ibu dan Bu Tari adalah dua orang sahabat. Namun, pernikahan Bu Tari tidak seberuntung ibu dan ayah. Ia sering bertengkar dengan suaminya dengan berbagai alasan. Ibu khawatir sekaligus iba melihat Bu Tari yang selalu jadi bulan-bulanan suaminya, apalagi kala itu Bu Tari keguguran usai dipukuli suaminya. Makanya ibu mengajak Bu Tari yang kembali kabur dari rumahnya untuk mengungsi di rumah kami saja.


Petaka itu bermula sejak saat itu. Bu Tari dan ayah bermain api. Mereka berselingkuh dengan ibu hingga akhirnya ibu mengetahui semuanya. Karena kecewa, ibu hendak pergi dari rumah, tapi ayah mencegah dengan menjemput ibu. Sayangnya, karena terus terlibat pertengkaran, di jalan, ayah dan ibu mengalami kecelakaan yang berakibat mereka kehilangan nyawanya.


Aku yang sebatang kara diambil oleh Bu Tari. Sebenarnya keluarga ibu keberatan namun Bu Tari beralibi bahwa ia adalah istri siri Ayah, jadi ia juga berhak untuk merawat aku.


Kematian ayah membuat bu Tari dendam. Ia membenciku, menjadikan aku sebagai pelampiasan kemarahannya pada ibu. Ia bahkan berjanji akan membuat hidupku tak kalah menderitanya dari hidupnya dahulu sebab ibu sudah membuatnya kehilangan ayah yang memperlakukan Bu Tari dengan sangat baik.


"Sebaiknya sekarang kamlu mengambil alih apa yang harusnya menjadi hak kamu, Yan." Kata Bibi Wina.


"Ya Yan, apa yang dikatakan bibi Wina benar. Kamu harus mengambil alih panti ini agar Bu Tari tak bisa lagi menguasainya. Panti ini adalah hak kamu, bukan haknya." Kata Wisnu yang ikut mengaminkan. "Kami janji akan selalu mendukung kamu dan berada di barisan terdepan agar tak memberatkan kamj

__ADS_1


***


Seperti kata bibi Wina, Bu Tari belum juga kembali setelah dua puluh empat jam menghilang. Entah dimana ia, namun kapanpun waktunya aku ingin bicara padanya. Sebesar itukah dendamnya hingga menghancurkan hidupku.


Dibantu bi Wina dan Wisnu, aku mulai menghandle panti asuhan. Sebenarnya cukup kewalahan karena ini baru untukku, tapi karena menikmatinya, apalagi saat anak-anak dengan percaya diri berbaur dengan masyarakat tanpa canggung sebab mereka miskin dan tak punya orang tua.


Sementara itu, mas Akbar masih berusaha menemukan pengacara yang cocok denganku. Ia juga mencari tahu dimana Sean anakku berada. Namun tak banyak hasilnya karena semuanya benar-benar disusun serapat mungkin.


Pagi ini setelah dua hari akhirnya mas Akbar datang juga. Ia mengabarkan kalau Intel suruhannya berhasil menemukan dimana Sean berada. Mendapatkan kabar itu membuatku girang. Aku gak sabar bertemu Sean, makanya sampai merengek minta diantarkan.


"Sabarlah Yan, kita berangkat besok ya." Kata mas Akbar.


"Besok? Kenapa harus besok? Kenapa enggak sekarang saja? Aku benar-benar sudah rindu pada Sean," pintaku.


"Sekarang kita ke psikolog dulu." Mas Akbar menjelaskan bahwa kami harus punya surat -surat yang menyatakan bahwa segala tuduhan Bu Tari dan mas Dani itu tidak benar. Aku baik-baik saja agar bisa mendapatkan Sean sebab kalau datang begitu saja dengan tuduhan mereka maka sampai kapanpun aku tak akan pernah diizinkan untuk bertemu dengan Sean karena mereka memakai senjata bahwa aku mengalami gangguan mental yang mungkin bisa menyakiti anakku sendiri.


"Kenapa terlalu banyak aturan yang menyulitkan aku?" Kataku yang kembali terbawa emosi. Aku adalah seorang ibu yang dipisahkan dari anaknya, harusnya semua orang berpihak padaku bukannya malah mempersulit aku dengan tuduhan yang tak benar.

__ADS_1


"Ya kadang memang begitu Yan, menghadapi orang berduit memang sangat sulit. Mereka punya seribu satu cara untuk menjatuhkan kita. Makanya kamu harus sabar ya." Bujuk Wisnu.


Sulit sekali menerima ini, namun seperti yang dikatakan mas Akbar dan Wisnu, aku tak punya pukul lain selain mengikuti saran mereka. Semua demi anakku, Sean.


__ADS_2