Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Sidang Putusan


__ADS_3

Dukungan terus mengalir untukku, namun begitu juga tekanan dari keluarga mas Dani. Tak hanya aku, anak-anak panti juga masih kena imbasnya sampai saat ini. Namun, dengan dibantu pengawasan dari Wisnu, anak-anak berada di tempat yang aman.


Meski begitu, aku tak menyerah, terus melakukan perlawanan demi anakku. Aku akan terus berjuang hingga mereka mengembalikan Sean padaku.


Bu Tari, seperti yang dikatakan mas Akbar, ia pun ikut bersaksi tentang kecurangan mas Dani dan keluarganya sehingga mantan suamiku itu semakin terpojok. Sayangnya, Bu Tari belum berkenan untuk bertemu denganku. Usai sidang, ia lebih memilih untuk cepat-cepat pergi sebab sekarang Bu Tari sudah keluar dari penjara. Tak ada pengaduan atasnya, makanya ia tak bisa ditahan lama-lama. Aku sendiri tak masalah jika ia dilepaskan. Meski Bu Tari sudah melakukan hal yang fatal sehingga membuat aku terpisah dari Sean, tapi tetap saja ia pun sudah berjasa atas aku fan anak-anak lainnya.


Hari ini, sebelum putusan mas Dani mendatangi aku. Ia meminta agar aku mengakhiri semua perseteruan ini.


"Aku tahu kamu sangat mencintaiku, makanya aku ke sini menawarkan kembali perdamaian denganmu. Kita mulai semuanya dari awal lagi. Bagaimana?" tanya mas Dani.


"Kembalikan saja anakku!" kataku.


"Yan, kita masih muda, kita bisa punya anak lebih banyak lagi nantinya. Jadi, biarkan saja Sean di rawat oleh Kak Dira. Ia akan jauh lebih bahagia dibanding bersama kita. Kamu tahu, kak Dira itu kaya raya. Ia akan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik dari kita. Pendidikan, kesehatan, bahkan harta yang banyak sebab kata kak Dira ia akan membuat Sean sebagai ahli warisnya. Itu berarti hidup Sean akan jauh lebih baik. Jadi aku mohon biarkan ya Sean dengan kak Dira." pinta mas Dani.


"Apa? Aku ini ibu kandungnya. Sean tak butuh uang, saat ini yang ia butuhkan adalah kasih sayang ibunya. Jadi kembalikan anakku!" kataku.


"Yan, kenapa kamu tak bisa dibilang sih. Sejak kapan kamu jadi keras kepala seperti ini? Oh pasti karena pengaruh polisi dan anak panti itu, kan?"

__ADS_1


"Aku sudah muak karena kamu terus mengulur-ulur waktu. Sekarang kembalikan Sean. Lagipula kenapa kak Dira tidak mengambil anak dari panti asuhan saja kalau ia memang belum bisa memiliki keturunan? Kenapa harus merebut anakku?"


"Karena dia mau punya anak yang sama darahnya dengannya. Paham! Sudahlah Yana, sekarang ayo kita akhiri pertengkaran ini dan mulai lagi dari awal. Kak Dira sudah memberikan uang yang cukup banyak untukku. Kau ingin tinggal di rumah sendiri, kan? Kita bisa beli rumah sendiri sekarang. Bagiamana?" mas Dani masih terus melakukan penawaran, tetapi aku menolak keras.


Aku ini seorang ibu, begitu menyayangi anakku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah menukarkan anakku dengan uang. Seberapa banyakpun yang ia berikan. Sean sangat berharga.


"Katakan saja pada kakakmu untuk mengembalikan aku atau aku akan terus melakukan perlawanan!" kataku


"Dasar perempuan keras kepala. Kenapa kamh sekarang susah sekali dikatakan? Apa kamu tahu, kalau bukan karena uang aku juga tak akan sudi punya anak darimu!" ia nyaris mencekik leherku karena begitu kesalnya. Untungnya di sana ada Wisnu yang selalu mengawasi, makanya segera menolong saat Mas Dani hendak menyakiti aku.


"Dasar laki-laki pengecut, beraninya sama perempuan. Sini, kalau kamu beraniawan aku!" kata Wisnu yang begitu kesal melihat ulah mas Dani. "Kalau bukan karena Yana, kau sudah ku habisi sejak lama. Sampai kapanpun aku akan mengawasi kamu. Aku tak akan pernah membiarkan kamu menyakiti Yana lagi." kata Wisnu.


"Lihat, laki-laki seperti itu yang kamu pilih. Ia bahkan tak punya harga diri. Beraninya menjual anaknya sendiri demi uang. Lain kali jangan bodoh lagi. Mengetu!" kata Wisnu sambil berlalu meninggalkan aku.


***


Ruangan pengadilan ini terasa mencekam ketika hakim bersiap membacakan putusan. Aku tak berhenti berzikir. Di rumah pun anak-anak panti ikut mendoakan bersama bibi Wina.

__ADS_1


Sebenarnya aku merasa malu, saat ada masalah seperti ini baru datang pada Tuhan dengan penuh harap doa akan dikabulkan, tetapi kala senang benar-benar lupa. Astagfirullah.


Di pengadilan, dari pihakku ditemani oleh mas Akbar dan Wisnu. Sementara dari pihak mas Dani, ada ia dan kekasihnya, juga pengacara yang mendampingi kak Dira. Sayangnya salah satu orang yang aku gugat tak datang. Padahal hari ini aku begitu berharap bisa bertemu dengan Sean.


"Pengadilan memutuskan bahwa hak asuh atas Sean Putra Dana jatuh pada ibunya, Bu Yana. Demikian sidang pada hari ini, jika ada yang keberatan dipersilahkan mengajukan banding." kata hakim sambil menutup sidang dengan tiga kali ketukan.


Air mataku tak bisa dibendung lagi saat mendengar putusan tersebut. Akhirnya aku menang. Aku berhasil mendapatkan hakku mengasuh Sean.


"Kembalikan anakku!" kataku pada mas Dani setelah majlis hakim keluar dari ruang sidang.


"Hahaha," tawa mas Dani melengking di ruang sidang yang sudah kosong. Hanya ada kami berlima; aku, mas Akbar, Wisnu, mas Dani dan kekasihnya. "Siapa bilang ini sudah berakhir Yana. Kami belum menyerah, dan tak akan pernah menyerahkan Sean. Kamu tahu, kak Dira akan mengajukan banding. Lagipula percuma kamu mencak-mencak di sini, meminta anakmu sementara ia sudah terbang jauh!" mas Dani memperagakan tangannya seperti pesawat terbang.


"Apa maksud kamu?" tak bisa ku pungkiri hatiku saat ini begitu cemas dan takut terjadi sesuatu pada Sean anakku.


"Ya, Sean sudah pergi jauh dan sampai kapanpun ia tak akan pernah kembali ke sini. Jadi menangislah karena kau tak akan bisa melihat anakmu lagi sampai kapanpun. Silakan lanjutkan acara aduan-aduan ini karena nggak akan memberi efek apapun. Paham!" ia kembali tertawa.


"Jahat!" Plak. Sebuah tamparan mendarat di wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku aku melakukan perbuatan seperti ini. Menampar seseorang yang pernah menjadi laki-laki yang paling aku cintai namun ternyata aku salah sebab ia tak menyukai aku. Dan yang lebih menyedihkan, ia membawa pergi putraku. "Kembalikan anakku. Sampai kapanpun aku tak akan pernah melepaskan kalian. Aku bahkan tak takut dengan kakakmu yang kau bilang punya harta dan kekuasaan itu. Aku nggak takut!" kataku.

__ADS_1


Hancur, hancur sekali rasanya hati ini. Aku benar-benar lelah. Sean anakku, entah kemana mereka membawanya. Entah kenapa mendengarnya aku semakin takut tak bisa lagi bertemu dengan cahaya hatiku.


"Kembalikan anakku!" kataku, sambil mengambil kerah baju mas Dani. Tak peduli ia lebih tinggi dan kuat dariku. Namun aku berhasil membuatnya kewalahan dengan tarikan dan jambakan di kerah bajunya hingga sobek.


__ADS_2