Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Kenyataan Dibolak-balik


__ADS_3

Aku masih berada di rumah sakit. Dokter baru saja selesai membersihkan luka di wajahku. Rasa sakitnya masih terasa. Meski ingin menangis, tapi aku berusaha sekuat mungkin untuk tegar. Perjalanan ini masih sangat panjang. Kalau aku menyerah sekarang maka kesempatan bertemu Sean akan hilang. Meski belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, setidaknya sekarang sudah ada kejelasan kalau mas Dani yang menyembunyikan Sean.


Mengingat nama lelaki itu, tak sadar air mataku jatuh. Ingat dua tahun lalu saat ia mendekatiku yang masih berstatus mahasiswi baru di fakultas kedokteran. Aku yang awalnya tak ada niat menikah muda dibuatnya yakin bahwa pernikahan ini adalah yang aku inginkan.


Mas Dani terus berusaha mendekatiku hingga akhirnya aku luluh juga. Ia janji, setelah menikah maka aku bisa melanjutkan kuliah kembali dan ia yang akan menanggung biayanya meski aku tak meminta.


Awal pernikahan, mas Dani memintaku untuk cuti dulu satu semester sebab ia ingin kami lebih mengenal satu sama lain dengan waktu kebersamaan yang lebih banyak lagi. Aku menurut saja, lagipula tak salah jika harus mengalah. Sebagai pasangan baru yang saling kenal dengan waktu teramat sempit, sejujurnya aku benar-benar butuh waktu lebih lagi untuk mengenalnya. Makanya permintaan itu aku terima.


Selama enam bulan kami intens menghabiskan waktu bersama. Mas Dani berkata jujur bahwa ia ingin memiliki keturunan lebih cepat atau tidak mengundur -undur. Aku sempat mengajukan keberatan mengingat usai enam bulan ini harus kembali kuliah, tetapi ia berhasil meyakinkan bahwa punya anak tak akan mengganggu kuliahku. Ia akan menyediakan pembantu dan baby sitter untuk membantuku, ditambah ada ibu dan kakaknya juga.


Selain menghabiskan waktu di rumah, mas Dani sangat suka mengajakku ke puncak. Kami liburan bersama. Lepas dari enam bulan, saat aku ingin mengajukan izin agar bisa kembali kuliah, ia cuek, tak pernah mau menanggapi kalau aku bertanya. Hingga akhirnya satu tahun pernikahan aku hamil. Seluruh anggota keluarga amat bahagia, mereka menjadi sangat perhatian melebihi sebelumnya. Kandunganku benar-bemar dijaga sebaik mungkin. Bahkan, kak Dira menyediakan dua perawat untuk memastikan kondisiku baik-baik saja.


Proses kehamilan itu benar-benar aku jalani dengan sangat bahagia. Semua kemudahan diberikan oleh suami, mertua dan iparku. Mereka tak pernah lelah memberikan masukan agar aku merasa nyaman menjalani masa ini.


Tibalah saat kelahiran sang bayi yang kemudian Kami beri nama Sean. Bayi itu disambut dengan suka cita. Di awal, mama mertua sempat menyarankan agar aku tak menyusui Sean supaya nanti kalau aku mau lanjut kuliah maka ia tak akan menjadi penghambat.


Aku yang semula ingin kuliah pada akhirnya memilih cuti saja dulu setidaknya hingga Sean lepas asi. Aku ingin membersamai dirinya. Hingga akhirnya Sean berusia enam bulan, tiba-tiba saja ia hilang dariku.

__ADS_1


Mas Dani juga berubah. Ia yang dahulu sangat mencintai aku kini seperti orang asing. Kami saling marah dan juga berkata kasar. Benar -benar tidak seperti ia yang aku kenal. Entah apa yang terjadi padanya.


Air mataku tumpah ketika ingat ia menjatuhkan talak padaku. Kini ia bukan lagi suamiku karena kami menikah secara agama, kami sudah sah bercerai.


Semudah itu ia menceraikan aku padahal dahulu untuk mendapatkan aku bukanlah sesuatu yang mudah. Ia berjuang hampir dua bulan hingga akhirnya aku luluh juga. Tak ingatkah ia semua kenangan itu?


Air mata ini semakin banyak berjatuham, hingga tiba-tiba mas Akbar dan Wisnu masuk ke tempat ku. Mereka memang memintaku untuk membuat laporan atas pemukulan yang dilakukan Niki. Barangkali ini bisa jadi penyebab aku bertemu dengan Sean.


"Bagaimana? Sudah bisa ke kantor polisi sekarang?" tanya Wisnu. "Semoga dengan laporan ini bisa jadi senjata mendapatkan Seqn. " kata Wisnu sehingga aku langsung bersemangat.


Tak peduli betapa hancurnya hati ini sebab diceraikan begitu saja oleh suami sendiri hanya demi perempuan lain, sekarang aku harus terus berdiri tegap demi putra semata wayangku.


***


Lelah sekali rasanya saat harus pulang balik ke kantor polisi. Meski ditemani oleh mas Akbar dan Wisnu.


Namun sayangnya, tak semudah itu melawan mas Dani dan Niki. Mereka sangat pintar memutar balikkan kenyataan. Aku yang tak punya bukti apa-apa selain luka-luka di wajah hanya bisa bersabar sebab kini mereka yang mengancam balik kalau aku tak mengakhiri laporan pemukulan ini maka mereka yang akan membuat laporan balik tentang perbuatan tidak menyenangkan yang aku lakukan yaitu mendatangi rumah mereka dan membuat kegaduhan.

__ADS_1


"Jahat sekali." kataku. "Dia yang salah tapi sekarang melemparnya padaku!" kataku dengan geram. Aku ingin mengamuk tapi mas Akbar menenangkan, ia mengingatkan agar aku tak terpancing apalagi sampai menyerang kembali Niki sebab itulah yang mereka inginkan. Agar aku brutal lalu dibuatlah laporan polisi hingga aku harus mendapatkan hukuman. "Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku


"Kita tak punya bukti apa-apa jadi tak bisa maju." kata mas Akbar.


Rasanya ingin marah. Tak terima dengan apa yang mereka lakukan. Tapi aku bisa apa? Mereka punya kekuasaan seperti yang dikatakan Mas Dani dan mertuaku berulang kali.


"Aku hanya takut tak bisa bertemu putraku, tak mengapa jika harus mati sekalipun asal mereka mengembalikan Sean padaku." pintaku sambil berurai air mata. Rasanya hati ini teramat sesak saat ingat mas Dani dengan santainya memeluk kekasihnya itu Sementara Perempuan itu sudah menyakiti aku.


Aku masih mencintainya. Perasaan itu tak bisa dibohongi. Selain sakit hati aku juga cemburu dengan kedekatan mereka. Sebegitu tidak berartikah aku hingga akhirnya diabaikan seperti ini?


"Kita akan cari jalan lain. Kamu bersabar ya. Laporan tentang Sean akan terus diproses. Tetapi mulai sekarang tolong, semarah apapun kamu jangan pernah datang ke rumah itu lagi, apalagi mendatangi mereka sendirian, ya?" kata mas Akbar.


Aku mengangguk.


Aku dan mas Akbar kembali berdiskusi dengan pengacara yang ditunjuk mas Akbar untuk mempermudah proses pengambilan Sean. Menurut hukum, anak yang lahir dari pernikahan siri hak asuhnya akan jatuh ke tanganku sebagai ibunya.


"Lalu kapan aku bisa ketemu anakku?" kataku, rasanya bahagia sekali mendengar keterangan pak pengacara.

__ADS_1


"Kita tunggu putusan nanti ya." kata pengacara tersebut sebab sampai saat ini saja kami gak tahu dimana Sean berada.


"Apa tidak bisa direbut saja, pak? Tolong jangan terlalu lama, anak saya masih asi. ini sudah beberapa pekan kami berpisah. Saya sudah nggak sanggup pak." pintaku, memohon agar pengacara mengusahakan lebih cepat lagi. Aku sudah tak sabar berjauhan dengan anakku sendiri.


__ADS_2