
Aku beranjak meninggalkan kamar Tante Seruni dengan hati teramat hancur. Di lobi, aku sengaja mengendap-endap agar tak terlihat oleh mas Akbar, lalu berlalu secepatnya menuju rumah dengan taksi.
Sampai di rumah, aku mempersiapkan sebuah koper besar yang diisi pakaianku dan pakaian Sean. Kemudian mengambil satu tas ransel yang kuisi dengan laptop dan beberapa map pekerjaanku.
Setelah semuanya selesai, buru-buru semuanya ku masukkan dalam mobil merah yang biasa menemaniku beraktivitas kalau tidak diantar mas Akbar, lalu aku menjemput Sean di panti yang berada di sebelah rumah kami.
"Memang mau kemana Yan? Sudah jadi ketemu ibunya mas Akbar?" tanya bibi Wina.
"Bi, maaf, aku nggak bisa cerita sekarang. Tapi yang jelas aku harus pergi untuk beberapa lama. Oh ya, tolong titip anak-anak ya. Kalau ada apa-apa beritahu aku lewat WA. Aku juga akan minta tolong Wisnu untuk membantu bibi mengurus anak-anak." kataku, lalu segera berlalu sambil menggendong Sean yang agak sedikit menolak diajak pergi.
"Aldi nggak mau ikut. Aldi mau main sama teman-teman." ia mulai merengek saat mobil mulai melaju.
"Sayang, kita harus pergi sebentar. Mama tadi nemu toko mainan yang sangat bagus. Mama mau ngajak kamu belanja di sana. Mau ya?" aku menggunakan jurus merayu dengan mainan yang biasanya selalu berhasil meluluhkan anak-anak.
"Tapi beli mainanya yang banyak ya. Supaya bisa dikasih sama Tono, Ical dan Dede juga." katanya.
"Siap. Nanti Aldi yang pilih ya." kataku.
Mobil terus melaju, tak sadar kami sudah berkendara cukup jauh, Aldi sampai tertidur karena sudah jalan sejauh tiga puluh menitan. Sementara itu Hp ku terus berdering. Rupanya telfon dari mas Akbar. Entah ia sudah tahu atau belum, tapi yang jelas aku belum bisa mengangkatnya sekarang.
Akhirnnya, setelah melewati perjalanan selama satu jam, kami sampai juga di tempat yang aku tuju. Tempat dimana aku yakin mas Akbar tak akan bisa menemukanku. Tak lupa Hp juga ku matikan agar ia tak bisa melacak GPS di telepon seluler milikku yang biasanya selalu diaktifkan.
__ADS_1
"Sayang, kita sudah sampai." kataku, saat mata Sean terbuka begitu mobil berhenti.
"Mana toko mainannya?" tanya Sean, ia melihat ke kiri kanan, namun yang terlihat hanyalah hamparan perkebunan yang berwarna hijau. Sean sampai mengucek matanya, bertanya kembali dimana toko mainannya.
"Maaf ya nak, kita ke tokonya besok saja karena sekarang kita harus ke sini dulu " kataku, sambil mengajaknya turun.
Sean menggelengkan kepalanya. Ia menolak. Kalau tak ada toko mainan, ia minta diantar pulang saja ke panti agar bisa melanjutkan main bersama teman-temannya.
"Nanti kita pulang, sekarang turun dulu ya." aku menggendongnya agar ia mau turun. Anak itu untungnya sudah mulai terbiasa denganku, meski belum terlalu dekat tapi ia sudah mau berinteraksi banyak denganku. Bahkan sudah mau diurus langsung olehku.
"Yana?" seseorang memanggilku. Bu Tari, ibu panti yang dahulu mengasuh dan membesarkan aku dan anak-anak panti lainnya. Namun ternyata orang yang punya masa lalu kelam dengan ayahku. Ia juga yang membantu hingga aku sampai masuk dalam jebakan mas Dani.
"Bu," kataku. Sejak memutuskan menepi sejenak, menghilang dari hidup mas Akbar sampai menemukan solusi untuk masalah kami, hanya nama Bu Tari yang muncul di benakku. Karena hanya ia yang aku tahu satu-satunya keluarga yang aku punya selain panti asuhan, meski ia sudah mengkhianati aku. "Maaf kalau kedatanganku membuat anda tidak nyaman. Tapi aku tak tahu lagi harus kemana. Lagipula aku berhak atas rumah ini, kan?" tanyaku, sambil menunjuk rumah yang kini ia tempati.
Bu Tari menyuruhku masuk. Sikap kami masih sama-sama canggung. Ia masih merasa bersalah padaku, sementara aku sendiri sebenarnya sudah merelakan semuanya. Yang terpenting anakku kembali. Kisahnya dengan orang tuaku bukan hakku untuk menghakimi karena itu bukan ranahku.
"Saya akan siapkan semuanya supaya kalian nyaman di sini." kata Bu Tari. Ia membuka sebuah kamar yang cukup lapang dengan kamar mandi di dalamnya. Kata Bu Tari ini kamar tamu yang paling besar di villa ini. "Istirahatlah. Pasti lelah diperjalanan. Saya akan buatkan makanan untuk kalian." setelah itu ia segera berlalu ke belakang.
Aku memasukkan koper dan tas ke dalam lemari. Lalu meminta Sean untuk duduk di sofa sebelahku. Namun anak itu menolak.
"Aku mau pulang mama!" ia menegaskan.
__ADS_1
"Sabar ya sayang, besok kita pulang." kataku, berusaha membujuk meski Sean menolak
***
Sean yang semula rewel minta pulang pada akhirnya luluh juga setelah diajak main oleh Bu Tari. Putraku diajak memancing di kolam yang ada di samping rumah. Ia juga bermain dikebun yang berada tak jauh dari villa ini. Anak itu kini terlihat sangat riang berkat Bu Tari yang berhasil membujuknya.
Malam hatinya, setelah lelah bermain seharian, ia langsung tidur pulas setelah salat Isya.
"Sepertinya Sean cocok tinggal di sini." kataku, mengingat betapa cerianya ia seharian ini. Juga makannya yang begitu banyak padahal hanya dimasakkan sayur sop dan tempe goreng. Sean juga suka makan jagung rebus. Bu Tari sampai menjanjikan akan mengajaknya ke pasar besok pagi kalau nggak rewel untuk jajan jagung rebus lagi. "Terimakasih ya Bu." kataku
"Aku tak pantas mendapatkan ucapan terimakasih." katanya. "Aku sudah membuat kamu menderita. Aku adalah salah satu orang yang membuat kamu kehilangan Sean. Aku sungguh menyesal melihat anak itu seperti ini sekarang." ia tampak sedih.
"Aku sudah melupakan semua itu Bu, bagiku, yang terpenting Sean kembali. Meski banyak luka untuk mendapatkan dirinya, lagipula ibu juga punya banyak kebaikan yang harusnya tak terhapus begitu saja hanya karena sebuah kesalahan." kataku.
"Lalu bagaimana dengan suamimu? Mau sampai kapan bersembunyi seperti ini? Aku tak masalah kalian disini lama, bahkan selamanya pun aku akan sangat senang sekali, tapi ...."
"Bu maaf, saat ini langkah inilah yang terbaik menurutku. Semoga saja ada jalan keluar terbaik." kataku.
"Yan, kalau kamu menghindari tak akan ada jalan keluar terbaik."
Aku diam. Memilih bermain dengan pikiran sendiri.
__ADS_1
Aku pernah kehilangan anakku dan tahu bagaimana rasanya. Sakit, sedih, marah, terluka. Lalu bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal yang sama pada ibu yang lain?
"Minta jalan terbaik pada Tuhan, Yan. Dia yang bisa memberikan jalan keluarnya. Aku tahu tak pantas menasihati seperti ini, namun yang aku katakan InshaAllah yang benar." kata Bu Tari lagi sebelum kami kembali ke kamar masing-masing.