
Seperti usul mas Akbar, aku menjalani berbagai macam tes untuk menilai apakah benar aku memiliki penyakit mental. Tak peduli panjangnya rangkaian pemeriksaan tersebut serta lelahnya menjalani semuanya. Namun aku ikhlas asalkan bisa bertemu Sean lagi. Aku tak peduli apapun, hidupku hanya untuk Sean.
"Hasilnya sangat bagus. Emosinya stabil, kalaupun ada amarah itu wajar sebab mengalami musibah kehilangan anak. Rata-rata semua ibu akan mengalami kenaikan emosi jika dipisahkan dari anaknya. Jadi semuanya masih dalam tahap normal." Kata psikolog yang melakukan tes dan wawancara denganku.
Tak hanya satu orang psikolog. Mas Akbar sampai membawaku menemui tiga orang psikolog dengan alasan untuk memperkuat keterangan nantinya. Ia benar-benar serius ingin membantuku menyelesaikan semuanya. Kekuasaan harus dilawan dengan data yang kuat agar tak ada lagi yang. Isa mengelak.
Aku yang semula hendak protes karena merasa sangat repot sekali padahal yakin hasilnya akan sama akhirnya menurut saja. Aku benar-benar sudah dititik pasrah. Aku menyerahkan semuanya pada mas Akbar untuk mengatur agar aku bisa mendapatkan anakku.
Kini, setelah mendapatkan surat keterangan yang dibutuhkan, mas Akbar kembali mengajukan ke pengadilan mewakili aku, ia juga sudah mempersiapkan tuntutan untuk mas Dani dan Bu Tari jika nanti kami berhasil menang. Ini untuk efek jera agar mereka tak lagi mempermainkan aku. Begitu kata mas Akbar.
***
Aku, mas Akbar dan Wisnu kembali berangkat menuju tempat yang lagi-lagi dirahasiakan oleh mas Akbar. Ia hanya memberitahu bahwa orang-orangnya sudah menemukan keberadaan Sean. Tanpa pikir panjang, aku langsung berangkat, ditemani Wisnu juga yang memaksakan dirinya untuk ikut juga.
Kami sampai di sebuah hotel dekat puncak. Hotel yang tak terlalu ramai. Di sana orang-orang mas Akbar menginfokan kalau Sean ada di kolam renang hotel tengah bermain. Tanpa menunggu, aku yang sebenarnya belum tahu dimana letak pasti kolam renang namun mengandalkan petunjuk di lobi segera menuju tempat tersebut disusul oleh Wisnu dan mas Akbar.
__ADS_1
Benar saja, di sana, pada akhirnya, setelah berpisah selama dua pekan akhirnya aku bisa melihat Sean. Ia tengah berenang bersama kak Dira dan mas Alex. Aku langsung saja menyerbu mereka karena rasa rindu yang teramat besar. Kak Dira yang menyadari keberadaanku langsung membekap Sean dalam pelukannya. Bayi enam bulan itu menangis kencang karena mungkin kaget. Sementara mas Alex mendorongku.
"Kak ... sinikan Sean. Aku ingin menggendongnya. Aku rindu Sean, kak!" Pintaku sambil mengulurkan kedua tangan, berharap bisa segera menggendongnya.
"Ahhh tolong, ada maling. Satpam tolong!" Kak Dira berteriak hingga membuat satpam datang mendekati kami. Ia menuduh bahwa aku adalah penculik anaknya. Ya, kak Dira mengakui bahwa Sean adalah putranya.
"Nggak, itu anak saya. Jangan sembarangan." Aku berusaha melepaskan pegangan satpam yang menghalangiku mendekati kak Dira. Suami kak Dira juga ikut menghalangi. Aku yang hanya seorang perempuan dengan badan kecil tentu saja tak mampu menandingi dua satpam dan mas Alex yang badan dan tenaganya tentu jauh lebih kuat dariku. "Kak tolong kembalikan Sean kak, aku benar-benar rindu padanya." Pintaku.
Mas Akbar dan Wisnu datang. Mereka membantuku bicara, menjelaskan semuanya. Satpam agak sedikit mendengarkan karena mas Akbar menunjukkan kartu anggota kepolisian miliknya.
Mas Akbar menjelaskan kepada manager hotel tentang siapa aku dan juga siapa Sean sebenarnya. Tapi kali ini aku harus menghadapi ujian lainnya. Sepertinya untuk bisa memeluk Sean begitu sulit sebab mas Alex menunjukkan pada manager bahwa Sean sudah diadopsi oleh mereka secara resmi. Mereka juga memperlihatkan suratnya yang ditandatangani oleh mas Dani, mantan suamiku. Dalam surat itu dinyatakan bahwa mas Dani menyerahkan hak asuh Sean secara penuh pada kak Dira dan mas Alex.
"Enggak, saya ibunya. Saya nggak mau anak saya diasuh oleh orang lain sebab saya masih hidup dan saya sanggup mengasuh anak saya!" Kataku dengan tegas.
Momen seperti ini sebenarnya emosiku kembali naik, apalagi saat melihat Sean yang terus menangis dalam pelukan kak Dira namun aku tak diberi kesempatan untuk memegangnya meski hanya sebentar. Hatiku semakin sedih sebab melihat Sean minum susu dari dot. Kenapa mereka begitu tega melakukan semuanya. Padahal Sean masih punya ibu yang bisa menyusuinya hingga ia dua tahun namun mereka malah memisahkan aku dari anakku.
__ADS_1
Apakah ini semua disengaja? Apakah ini maksudnya mama mertuaku yang selalu memaksakan agar Sean diberi susu formula saja sejak ia lahir dengan alasan agar kebutuhan gizinya terpenuhi padahal dokter kandungan kala itu sudah menyatakan asi lebih dari cukup untuk Sean. Yang terpenting ibunya makan-makanan yang sehat dan bergizi.
"Kembalikan putraku." Pintaku lagi. "Sean itu anakku. Kalian zalim jika memisahkan aku darinya karena sampai kapanpun aku tak pernah rela diperlakukan seperti ini. Aku berdoa agar Tuhan membalas kalian semua kalau kalian tetap bersikeras melakukan semuanya!" Kataku dengan penuh emosi.
Pihak hotel meminta menyelesaikan masalah ini di pengadilan. Aku yang berat untuk berpisah lagi dengan Sean namun tak bisa melakukan apapun sebab mas Alex dan kak Dira punya surat-surat lengkap tentang adopsi Sean. Sementara di pengadilan tingkat pertama aku sudah dikalahkan. Sekarang sedang proses banding. Jadi saat ini aku gak punya kekuatan apapun untuk mengambil Sean.
"Sekali saja, izinkan aku memeluk putraku." Kali ini, aku yang sebelumnya dipenuhi kemarahan pada akhirnya hanya bisa mengubah, memohon agar kak Dira berbelas kasih padaku hingga diizinkan memeluk Sean. Namun hati kak Dira sepertinya tak terketuk, ia tetap bersikeras tak memberikan Sean disentuh olehku. Ia terus saja memeluk putra semata wayangku. "Kak, tolonglah. Kasihanilah aku dan Sean." pintaku lagi. Aku merasa di sini bukan hanya aku yang tersiksa, tapi juga Sean karena ia masih butuh ibunya.
"Mohon maaf Bu Yana, tapi sepertinya ibu harus meninggalkan hotel ini. Mohon bersabar agar semuanya bisa diselesaikan lewat jalur hukum saja." Kata Manager hotel.
Hancur hatiku, rasanya duniaku benar-bemar runtuh sebab harus pergi meninggalkan anakku yang sudah lama aku cari padahal ia sekarang ada di hadapanku. Mana bisa seorang ibu melakukan itu. Ia gak mungkin meninggalkan anaknya lagi. Kakiku terasa berat untuk melangkah meninggalkan ruang rapat hotel ini meski mas Akbar dan Wisnu sudah mengajakku.
"Ayo Yan!" ajak Wisnu lagi. "Kita pasti akan menang di pengadilan. Jadi nurut sekali lagi ya Yan."
Aku masih diam mematung, namun baru bergerak ketika netraku menatap kak Dira yang siap pergi meninggalkan ruangan ini bersama Mas Alex dan putraku Sean..Saat itulah aku pun ikut bergerak, maju, mengejar mereka.
__ADS_1