
Dengan mas Akbar, Wisnu bahwa bibi Wina, Sean mau. Tapi tidak denganku. Sejak awal didekati, anak itu seolah menolak ku. Ia melakukan perlawanan, menendang dengan kaki kecilnya, memukuli agar aku tak menyentuhnya, kalau sudah tak berhasil juga maka ia akan menangis sekencang-kencangnya.
Aku yang sudah teramat rindu ingin memeluk, jujur merasa kecewa. Manusiawi, kan? Aku ibunya, yang mengandung dan melahirkan. Namun ia mau dengan yang lain tapi tidak denganku. Padahal aku yang paling merindukannya.
Mas Akbar menasihati agar aku bersabar. Toh tiga tahun sudah ku lewati untuk bisa bertemu dan memeluknya. Masa untuk meluluhkan hatinya saja aku tak mampu bersabar?
Tapi tetap saja, nasihat tak selalu mudah dijalankan. Melihat Sean kini bisa bermain dengan anak-anak lain, namun menolak aku, membuatku sedih. Tak jarang tiba-tiba air mata ini tumpah begitu saja bila ingin mendekati namun dengan siaga ia malah menatapku tak suka.
"Coba panggil namanya Aldi." kata bibi Wina, hati-hati.
"Nggak. Namanya itu Sean, bukan Aldi." Aku menegaskan.
"Yan, tapi Sean tahunya namanya adalah Aldi. Kalau kamu kekeh memanggil dia dengan nama yang kamu beri padahal dia tahu namanya bukan itu maka ia merasa itu bukan dirinya yang sedang kamu panggil. Coba pahami dulu hatinya, Yan. Nggak ada salahnya untuk mencoba, nanti lambat laun setelah mendapatkan hatinya kamu bisa ubah lagi menjadi yang kamu mau."
"Nggak, aku nggak mau. Lagian harusnya kalian semua ikutin aku. Tetap memanggil namanya dengan Sean karena itu memang namanya. Bukan ikut-ikutan kak Dira mengubah namanya!" aku menegaskan lagi.
Kini ada perasaan kesal juga, kenapa mas Akbar, Wisnu, bibi Wina dan anak-anak malah ikut memanggil namanya Aldi. Harusnya mereka memanggil Sean. Sebagai ibunya aku langsung memerintahkan mereka untuk memanggil Sean.
"Dengar ya, jangan panggil Aldi lagi. Tapi panggil namanya Sean karena itu memang namanya!" kataku, sambil memegang tangan Sean yang terus memberontak menolak aku pegang
"Nggak mau. Namaku Aldi!" kaya Sean.
"Bukan, nama kamu itu Sean. Aku ibu kamu, aku yang memberikan kamu nama!" kataku.
"Enggak. Aku Aldi. Aku mau sama mami. Huhuhu." anak itu kembali menangis.
"Yan, sudah jangan terlalu keras pada Aldi." pinta bibi Wina.
__ADS_1
"Sean. Namanya Sean!" aku menegaskan.
"Ya, Sean." bibi Wina mencoba mengambil Sean. Awalnya aku tak mau melepaskan, tapi iba juga melihatnya harus menangis sambil menjerit-jerit. Makanya ku biarkan ia digendong bibi Wina dan spontan ia berhenti menangis.
"Aghhh, kenapa kamu harus begitu?" aku kesal. Frustasi juga jika terus begini.
***
Mobil yang aku kemudikan berhenti di depan lapas tempat mas Dani ditahan. Aku terpaksa kembali menemuinya karena ada banyak hal yang harus aku ketahui.
"Akhirnya kamu datang juga. Jadi kapan aku di bebaskan?" tanya mas Dani.
"Sampai semua urusan Sean selesai." kataku.
"Kan Sean sudah ditangan kamu!" tegas mas Dani.
"Ya tapi masih ada sedikit masalah."
"Kenapa Sean membenci namanya? Juga aku?"
Mas Dani diam. Aku menegaskan kalau ia masih menyembunyikan sesuatu maka aku tak jadi membebaskannya.
"Baiklah baiklah. Jadi, sejak kecil kak Dira sering memutar video dan memperlihatkan foto kamu pada Sean sambil menakut-nakuti supaya ia takut dan nggak mau dengan kamu." mas Dani menceritakan semuanya. Usaha kak Dira agar Sean membenciku. Ia menjelek-jelekkan aku, mengatakan aku tukang culik anak, tukang pukul anak kalau nakal. Pokoknya menjadikan aku sebagai bahan menakut-nakuti Sean. "Sedangkan nama itu, kak Dira sudah bilang kalau Sean itu adalah hantu kecil. Kalau nggak nurut, nggak mau makan, nggak mau tidur maka akan jadi Sean. kak Dira juga selalu menunjukkan foto hantu atau tuyul untuk menjelaskan bahwa seperti itulah wujud Sean."
Mendengar itu aku semakin marah. Pantas saja putraku takut dipanggil dengan namanya. Ia juga tak menyukai aku, selalu menghindar dan seperti membenciku.
"Jadi kapan aku dibebaskan?" tanya mas Dani.
__ADS_1
Aku tak peduli, terus pergi meninggalkan lapas dengan perasaan kacau balau.
***
Sean masih betah di panti asuhan. Ia benar-benar tak mau pulang denganku. Awalnya aku memaksakan diri, namun lama-lama menyerah juga. Aku pulang sendiri, menunggu kepulangan mas Akbar.
Saat dia pulang, ku ceritakan semuanya. Termasuk apa yang dijelaskan oleh mas Dani.
"Kita bawa ia ke psikolog saja. Ini sudah tidak benar. Bagaimana mungkin seorang anak kecil membenci ibu kandungnya sendiri. Ia juga menolak namanya." aku begitu histeris karena terbawa emosi.
"Tenanglah sayang," pinta mas Akbar.
"Bagaimana aku bisa tenang jika semua semenjengkelkan ini. Mas faham nggak sih, seumur hidup ia akan membenci aku!" aku menekankan sesuatu hal yang membuatku takut usai diberitahu mas Dani. "Ia tak akan pernah mau dengan ibunya. Ini sangat menyedihkan. Aku sudah berjuang mati-matian tapi malah mendapat ujian lagi yang membuat hatiku hancur berkeping-keping. Aku benar-benar patah hati!"
"Aku rasa kamu masih bisa merebut hati Sean." kataku.
"Caranya?"
"Kamu itu seorang ibu. Doa ibu tembus ke langit untuk anaknya. Dengan kasih sayang tulus aku yakin kamu bisa meluluhkan Sean."
"Tapi ku sentuh saja ia tak mau "
"Bisa coba panggil ia dengan nama Aldi?"
"Apa?" aku tergelak. "Maksudnya mas, aku harus mengikuti apa yang sudah dibuat kak Dira? berarti aku kalah darinya? Iya, seperti itu? Aku nggak mau. Itu sama saja aku mengakui bahwa aku bukan ibunya Sean dan anak itu bukan Sean melainkan ... ahhh, menyebutnya saja aku benci!" aku menggerutu, kesal kenapa harus diberi ide seperti itu.
"Yan, turunkan ego kamu untuk mendapatkan Sean. Itu bukan berarti kamu kalah. Kadang kita harus mundur beberapa langkah supaya memang. Mumpung Sean masih kecil. Kamu masih bisa membentuknya jadi baik dan menyayangi kamu. Kalau ia semakin besar maka akan semakin sulit. Sementara waktu terus berjalan. Tolong pahami itu. Aku akan menjemput Sean dulu." kata mas Akbar.
__ADS_1
Aku masih duduk sendiri di rumah ini. Hatiku tetap saja menolak apa yang dikatakan mas Akbar. Masa aku harus mengalah? Kan Sean anakku?
Hati ini terus melakukan pemberontakan. Apalagi saat mas Akbar pulang menggendong Sean. Anak itu sama sekali tak mau melihat padaku meski mas Akbar sudah mengarahkan agar ia memberi salam padaku. Apa hatinya benar-benar sudah ditutup untukku? Tak bisakah ia merasakan betapa rindu aku padanya. Betapa menderitanya aku selama ini karena jauh darinya. Lalu sekarang setelah ketemu, tak bisakah aku mendapatkan obat darinya. Tak bisakah ia menyayangi aku selayaknya seorang anak pada ibunya?