Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Naluri Seorang Ibu


__ADS_3

Selain melakukan tes DNA, aku juga meminta diadakan otopsi. Sebenarnya tidak tega anak sekecil itu yang telah tiada harus mengalami pemeriksaan seperti otopsi, namun menurutku dengan begini aku bisa mengetahui motif kematian anak ini. Apakah ia benar-benar meninggal dengan cara wajar atau sebaliknya. Entah kenapa aku curiga pada keluarga mas Dani yang kini di mataku sudah punya track record yang jelek.


"Hasil otopsi baru akan keluar empat sampai enam pekan. Kamu yakin akan menunggu selama itu?" Tanya mas Akbar saat kami dalam perjalanan pulang usai mengantar jenazah ke rumah sakit lain yang ada koneksi mas Akbar


"Aku tahu itu bukan Sean. Mas percaya kan?" tanyaku. "Aku sengaja meminta otopsi untuk mengetahui kenapa ia meninggal." Kataku, menjelaskan semua ke curigaanku yang ternyata diamini suamiku sendiri. Ia sendiri yang pernah menjabat Intel cukup peka kalau ada yang gak beres. Bahkan rencananya jika aku tak mengajukan otopsi maka ia yang akan maju tentunya tanpa publikasi untuk tahu sebab-sebab secara detail tanpa bisa disanggah lagi. "Mereka sudah sangat keterlaluan. Untuk menyembunyikan keberadaan Sean sampai menggunakan anak lain. Kalau anak ini memang sudah tiada, aku bisa bernafas lega. Namun kalau ternyata mereka penyebabnya maka aku tak akan mengampuni mereka lagi. Sudah tak ada maaf. Mereka sekeluarga pantas di penjara!" Aku menegaskan.


***


Esok harinya, orang-orang yang aku dan mas Akbar kirim untuk melacak keberadaan kak Dira yang kami yakini bersama Sean namun belum juga ketahuan. Orang-orang yang kami suruh memata-matai mas Dani dan keluarganya belum juga bertemu kak Dira, termasuk suaminya sendiri. Meski benar-benar merasa jengkel karena belum juga ada titik temu, tapi aku tetap bersabar sambil berserah diri pada Tuhan.


"Rasanya lelah mas," kataku, menangis di pelukannya. Setidaknya sekarang ada seseorang yang bisa aku peluk, bisa menenangkan aku. Lelaki yang ku yakini ialah pelabuhan cintaku.


"Sabar ya sayang, semoga saja segera ketemu " kata mas Akbar sambil membelai rambutku.


Tring. Pesan masuk ke Hp kami masing-masing secara bersamaan. Dari grup informan yang kami kirim. Ia mengabari kalau mama Vio ke swalayan dan salah satu belanjaannya adalah snek anak-anak.

__ADS_1


"Yap, betul sekali. Sean masih ada di sana. Enggak mungkin orang dewasa makan snek sejenis itu. Aku tahu betul siapa mereka mas. Selama dua tahun menjadi anggota keluarga di sana, makanan mereka tak ada yang sejenis makanan anak kecil. Itu pasti untuk Sean!" Aku menjentikkan jari, berharap bisa segera mencari tahu keberadaan kak Dira. Namun kata informan kami, usai dari swalayan, mama Vio langsung kembali ke rumah. Padahal di sana tak ada kak Dira


"Nanti, kalau itu untuk Sean, pasti ia akan pergi mengantarkan ke tempat persembunyian." Kata mas Akbar.


***


Dua hari telah berlalu, tak ada sama sekali kabar tentang Sean. Bahkan mama Vio sendiri tak keluar dari rumah mereka. Aku sudah tak sabar. Ingin tahu rencana apalagi yang akan mereka susun.


"Tenanglah, kita tak akan melepaskan mereka. Mungkin sekarang mereka sadar sedang diawasi, makanya mereka sangat waspada. Tapi menurut mereka begitu kita lengah, maka mereka menemui Sean." Kata mas Akbar untuk menenangkan aku.


"Sudah terlalu panjang jalan yang kamu lalui, kalau menyerah sekarang sudah sangat tanggung. Kamu harus semangat sayang, demi bisa berjumpa Sean." mas Akbar terus menyemangati. Namun kali ini rasanya sulit untuk bisa nasihat itu.


Aku memutuskan untuk menemui mas Dani. Untuk melakukan negosiasi terakhir. Aku sangat tahu bagaimana dirinya setelah kami menikah. Tipe yang sebenarnya sangatlah penakut dan inginnya menang sendiri.


"Aku tahu kalian sedang menyembunyikan Sean." Kataku. "Kalau kamu mau buka mulut maka aku akan tetap menahan bukti-bukti bahwa kamu adalah pengedar. Jadi kalaupun di hukum paling hanya rehab. Tapi kalau kamu tetap keras kepala maka bersiaplah menghadapi hukuman tembak." Aku pura-pura tertawa meski sebenarnya ngeri juga mendengar hukuman tersebut.

__ADS_1


Pernah baca, seorang yang baik bisa jadi jahat karena terus tersakiti. Mungkin aku mengalaminya. Menjadi jahat pada mantan suami dan keluarganya karena kezaliman mereka. Mempermainkan pernikahan dan memisahkan seorang ibu dari anaknya. Itu sangatlah menyakitkan untukku.


"Yana, jangan begitu jahat padaku. Aku memang pernah menjahati kamu, tapi apa yang kamu lakukan sekarang jauh lebih jahat. Sean sudah tak ada, jangan ikuti pikiran kamu nanti malah kamu sakit." Mas Dani masih berusaha membujuk. "Yan, apa kamu masih mencintai aku?"


"Apa maksud kamu?" Aku menatap sinis, tersinggung dengan pertanyaan tak penting yang ia ajukan. Tentu saja tidak setelah semua rasa sakit yang ia beri. lagipula aku sudah punya suami yang aku yakini ialah yang terbaik.


"Dengar baik-baik, aku memang salah sudah meninggalkan kamu. Tapi, jika kamu bersedia memperbaiki, kita akan ulang dari awal. Ayo menikah lagi. Hapus semua kenangan buruk kita. Terutama tentang hal yang menyakiti kamu. Aku memang pernah selingkuh, tapi sekarang perempuan itu sudah mengkhianati aku. Ia sudah membuang aku karena kasus ini. Sementara kamu kan juga menikah dengan si polisi itu. Jadi kita impas. Makanya, sekarang keluarkan aku dari sini dan aku janji akan menikahi kamu. Kita bisa punya anak yang lebih banyak lagi. Anak-anak yang tak kalah lucu dibandingkan Sean. Bagaimana?" mas Dani menatapku penuh harap. Ia menyatakan bahwa sudah mulai benar-benar jatuh cinta padaku. Apalagi aku yang sekarang berbeda dengan yang dahulu. Sekarang aku sudah sukses, menjadi dokter dan punya beberapa usaha.


"Kamu benar-benar laki-laki yang memalukan. Aku harap kamu membusuk di penjara Dani!" Kataku dengan penuh amarah. "Aku janji tak akan mengeluarkan kamu dari penjara. Tunggu saat persidangan kasasi nanti, akan ku tunjukkan pada mereka bukti bahwa kamu pengedar supaya kamu tahu anakku bukan sembarang yang bisa kamu perlakukan seperti ini. Kamu bisa menginjak-injak aku, tapi tidak dengan anakku. Sean itu sangat berarti untukku. Tak akan bisa digantikan oleh siapapun. Paham kamu!" Kataku lagi


"Yana Yana ... Maafkan aku. Jangan marah dulu. Toking dengarkan aku. Keluarkan aku dari sini Yana. Aku mohon." Pinta mas Dani. "Baik akan ku katakan dimana Kak Dira dan juga Sean." Mas Dani mencoba menahan langkahku sebelum meninggalkan ruang tamu penjara.


"Aku bisa cati sendiri!" Kataku.


"Jangan Yana. Jangan tinggalkan aku!" Ia memohon, sambil mengiba. Tapi aku sudah tak punya kesabaran menghadapinya. Aku seperti harimau yang siap menerkamnya. Sudah tak ada ampun lagi.

__ADS_1


__ADS_2