Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Barter!


__ADS_3

"Bagaimana kalau kita barter?" aku menawarkan. Mereka mengatakan dimana anakku, maka aku akan membiarkan mas Dani lepas. Tapi kalau tidak, maka aku akan berusaha semaksimal mungkin agar mas Dani ditahan selama mungkin. "Lebih dari dua setengah tahun saya dipisahkan dari putraku. Aku pun sekarang bisa melakukan hal yang sama. Anda tahu bapak ibu terhormat, berapa lama hukuman penjara untuk pengedar? Paling sebentar empat tahun, maksimalnya hukuman mati. Dan kalau kalian tidak mengindahkan peringatan yang aku berikan, bukan tidak mungkin putra kalian tersayang akan dihukum mati!" kataku, sambil tersenyum puas melihat wajah cemas mantan calon mertuaku.


Andai mereka tak memisahkan aku dan putraku, mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi. Aku tak akan sejahat ini, menjebak hingga melakukan segala upaya agar mas Dani di penjara. Namun, terkadang, seorang ibu mampu melakukan apapun demi anaknya. Itulah yang tengah aku lakukan!


"Bagaimana?" tanyaku, membuat mereka tersadar.


"Enggak enggak. Jangan Yana. Kamu tahu kan, Dani itu ayahnya Sean!" mama Vio menegaskan.


"Ayah yang tak mengharapkan anaknya. Ayah yang membuat anaknya hadir ke dunia demi uang. Ia sudah mendapatkannya, berarti Sean bukan lagi anaknya. Putraku hanya anakku sendiri!" aku menegaskan dengan penuh kemarahan. Perempuan mana yang tak benci, dinikahi, diberikan anak hanya untuk uang.


"Jadi kamu mengancam kami?" tanya papa Feri.


"Bukan hanya ancaman kosong. Dalam waktu tiga kali dua puluh empat jam, aku akan memberikan semua bukti bahwa mas Dani adalah pengedar kepada polisi sesuai permintaan mereka. Dengan begitu anak kalian akan dihukum mati. Setidaknya kalau kalian tutup mulut terus maka kita akan sama-sama kehilangan anak. Eh tidak, hanya kalian saja karena sampai kapanpun, selagi aku masih hidup, aku akan terus mengejar putri kalian. Usai menghabisi mas Dani, akupun akan melakukan hal yang sama pada kak Dira. Jadi tolong beri peringatan padanya ya." aku tersenyum kembali meski dengan hati ketar-ketir karena ini bukan diriku yang sesungguhnya. Aku gak sejahat ini, aku begini demi anakku


"Yana, Tolong jangan lakukan itu. Tolong. Kasihan Dani, ia masih terlalu muda untuk mati. Mari kita berdamai saja." pinta mama Vio.


"Kalau begitu katakan dimana anakku!" aku sudah habis kesabaran, tak mau lagi terus melakukan negosiasi dengan mereka, makanya ku putuskan untuk meninggalkan kedua orang itu, tentunya setelah memberikan ultimatum terakhir bahwa aku tak main-main.


***


Dua tahun lalu, aku telah melakukan sebuah kesepakatan dengan seseorang yang menjanjikan bisa menghancurkan mas Dani. Ialah Petrik, ia adalah salah seorang bandar barang-barang haram yang cukup terkenal. Aku memintanya menjebak mas Dani agar menjadi seorang pemakai. Tentunya ada harga yang harus aku bayar, bersedia menjadi dokter untuk para penjahat-penjahatnya. Aku melakoni profesi baru tersebut. Setiap mereka melakukan kejahatan dan ada korban maka aku diminta untuk merawat hingga sembuh.

__ADS_1


Mas Akbar yang mencium perbuatanku itu berulang kali mengingatkan, berulangkali juga meminta agar aku menyudahi semua itu tapi aku tak bisa karena aku butuh ia untuk bisa menjebak mas Dani.


Tak butuh waktu lama, Petrik berhasil membuat mas Dani dan kekasihnya menjadi pencandu, puncaknya, dibantu Wisnu kami menjebaknya di villa milikku. Tentunya tanpa ia tahu bahwa akulah pemiliknya.


Hitam putih kehidupan ini sudah tak berarti untukku. Yang terpenting adalah aku bisa menemukan anakku. Entah dimana ia sekarang, bayiku yang sekarang berusia tiga tahun.


Air mata ini turun dengan derasnya karena rindu yang begitu besarnya.


Sampai di rumah, ternyata mas Akbar sudah menunggu. Ia sedang bermain dengan anak-anak panti. Rumahku memang bersebelahan dengan panti asuhan.


"Bagaimana harimu?" tanyanya.


"Masih buruk!" kataku, sambil mempersilahkan ia duduk di teras rumah. Tempat biasa aku menerima tamu laki-laki.


"Kalau itu bisa membawa anakku pulang." kataku.


Ia kembali mengingatkan agar aku fokus pada Sean saja. Sekarang harus melepaskan Petrik karena Mas Dani sudah berhasil masuk penjara.


"Aku takut semakin jauh bergaul kamu akan sulit lepas darinya. Ia itu penjahat, tak ada rasa belas kasih. Aku takut kamu yang akhirnya kena jeratannya. Apalagi kamu ...." ia tampak resah.


"Apa? aku ini dokter, membantu orang sakit adalah tugasku. Aku hanya menjalankan tugasku. Itu saja!" aku menegaskan.

__ADS_1


Kami berdua sempat berdebat. Hingga akhirnya aku panas juga. Bagaimana tidak, ia terus meminta agar aku tak lagi berurusan dengan Petrik padahal aku masih membutuhkan penjahat itu untuk menemukan anakku.


"Lagian kenapa sih mas, kenapa kamu sibuk sekali. Biarkan aku melakukan apa yang ingin aku lakukan. Paham. Ini adalah urusanku, bukan urusanmu. Aku tahu kamu sudah berjasa banyak membantu mendapatkan Sean tapi kamu nggak berhak mengatur hidupku. " kataku


"Ya, aku memang nggak berhak ngatur. Tapi aku harus melakukannya karena aku nggak bisa membiarkan orang yang aku sayang ada dalam bahaya." kata mas Akbar, tentu saja membuat kami saling diam. "Aku mencintaimu Yan, aku ingin menjaga kamu dan Sean. Jadi tolong jangan jauh-jauh dariku. Ayo hidup bersama dan mencari Sean bersama." katanya.


Mas Akbar menyukaiku? Aku tak bisa berkata-kata. Pertama karena aku bukan siapa-siapa namun dicintai lelaki sebaik dirinya. Kedua, setelah kehidupan yang amat sangat melelahkan masih ada lelaki baik hati yang mencintai aku.


"Kamu mau kan Yan, menerima aku sebagai suamimu?" tanyanya.


"Tapi ...." aku masih ragu.


"Aku akan mendampingi kamu. Kita cari Sean sampai dapat. Dengan menikah kita bisa kemana-mana tanpa ada batasan. Aku juga bisa lebih maksimal membantu kamu. Bagaimana?"


Sebenarnya, tak perlu berpikir panjang karena sejak dahulu aku sudah mengagumi lelaki yang begitu baik seperti mas Akbar. Hanya saja aku tak percaya jika ia benar-benar melamarku.


Dengan perasaan bahagia aku menuju panti untuk mengabarkan pada Bibi Wina kalau mulai sekarang ada seseorang yang akan menemaniku mencari Sean.


"Selamat Yan, meski aku ...." Wisnu yang tak sengaja mendengar terlihat tak begitu bahagia karena aku tahu ia masih memiliki perasaan suka padaku, hanya saja perasaan itu tak bisa ku balas karena aku menganggap dirinya sebagai teman saja. Sejak kecil kami tumbuh bersama hingga sekarang, ia benar-benar hanya sebatas teman.


"Maafkan aku Nu, tapi aku yakin, kelak kamu akan menemukan yang terbaik dari aku. Jauh lebih baik." kataku.

__ADS_1


"Ya. Sebaiknya aku memang merelakan kamu.. Setidaknya aku tenang Yan, kamu memiliki calon suami yang baik dan bertanggung jawab seperti mas Akbar. Aku gak perlu khawatir lagi dengan kehidupan kamu. Setelah ini aku akan pulang ke kampung almarhum ibuku,barangkali di sana aku menemukan jodoh " ia bergurau untuk mencairkan suasana. Tetapi aku serius mengaminkan.


__ADS_2