Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Selesaikan Di Kantor Polisi


__ADS_3

Perdebatan antara kami tak bisa dielakkan. Aku dan mas Dani. Seumur -umur ini pertama kalinya aku bicara dengan suara tinggi padanya. Semua karena anakku. Seorang ibu sanggup melakukan apapun demi anaknya.


Karena tak menemukan jalan keluar, makanya mas Akbar mengajak menyelesaikan di kantor polisi. Tetapi mas Dani menolak dengan berbagai alasan. Ia mengatakan tak ingin bicara denganku lagi sebab ia sudah menjatuhkan talak atasku. Kami disuruh meninggalkan tempat itu karena kami dianggap mengganggu ketenangan mereka. Mas Dani sampai mengancam akan melaporkan aku bila tidak pergi sekarang juga.


Untuk menyelesaikan masalah kami, ia sudah mengutus pengacara untuk mewakilinya menyelesaikan semuanya.


"Tidak bisa begitu, kenapa ia tak bicarakan saja semuanya. Cukup katakan dimana anakku maka aku tak akan mengganggunya!" kataku, marah-marah di mobil saat kami dalam perjalanan menuju kantor polisi.


"Ia berhak melakukannya, Yan. Sekarang sebaiknya tenang dulu. simpan energi kamu karena ini masih sangat panjang." tambahnya.


Ya, sebenarnya aku sudah teramat lelah. Begitu menemukan kedua mertuaku, aku pikir sudah mendapatkan secercah harapan namun ternyata salah, mereka memilih tutup mulut. Ditambah ketemu mas Dani, ia malah bersikap sama seperti kedua orang tuanya. kenapa harus mengundur-undur? kenapa harus mengalihkan pada pengacara, kenapa tak mengurus semua sendiri saja.


Sejujurnya, usai mendapatkan kebenaran tentang mas Dani, hatiku hancur berantakan. Apalagi saat ia menjatuhkan talak atasku. Aku benar-benar kecewa. Aku ingin menangis namun air mata ini tertahan. Kenapa ia tega melakukan semuanya, padahal hubungan kami sebelumnya baik-baik saja. Tak ada pertengkaran atau kesalahan yang aku lakukan.


Selama dua tahun ini aku berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Kebahagiaan kami bertambah-tambah saat Sean hadir di kehidupan kami. Kala itu aku sangat yakin kami saling mencintai. Tapi kenapa semuanya berubah seperti ini?


Mas Dani, jika ia tak mencintaiku, kenapa malah menikahi aku?


Meski masih banyak tanya, tapi aku berusaha bersikap tenang. Mempercayakan semuanya pada mas Akbar, termasuk mempercayakan tindakan apa yang harus aku lakukan karena dalam kondisi seperti ini pikiranku blank, aku kadang terbawa emosi hingga tak bisa menentukan mana yang baik dan benar.


***


Perbincangan dengan pengacara ini sangat alot. Pengaca menyatakan bahwa hubunganku dengan kliennya yaitu mas Dani sudah berakhir dengan talak. Tak ada lagi yang harus diurus karena kami memang menikah secara agama.

__ADS_1


Untuk anak, pengacaranya mengatakan bahwa Sean akan menjadi tanggung jawab mas Dani. Itu berarti memang benar anakku ada pada mereka.


"Tega ya kalian memisahkan aku dari anakku. Kalau memang mau pisah tak mengapa. Silakan, tapi katakan pada klien anda untuk mengembalikan putraku!" kataku setengah berteriak. "Kalian tak bisa membiarkan aku jauh darinya. Anak itu masih memburu ibunya, ia butuh asi!" aku terus mengeluarkan uneg-uneg, berharap ada jalan keluar yakni anakku dikembalikan.


Namun kesepakatan hari ini tak membuahkan hasil, aku diminta untuk menunggu tiga hari lagi untuk membuat kesepakatan damai.


"Tiga hari? Itu terlalu lama. Aku nggak mau. Aku mau sekarang. Kembalikan anakku, jangan rampas dia dariku!" kataku, masih dengan marah-marah.


Entah untuk apa mas Dani mengambil Sean. Bukankah ia sudah tak ingin menjalin hubungan pernikahan denganku. Kenapa tak punya anak saja dengan kekasihnya itu sebab mereka sama-sama saling mencintai.


"Yan, aku akan mengantarmu pulang." kata mas Akbar. Setelah pengacara mas Dani pulang.


"Aku nggak mau pulang aku mau anakku!" kataku. "Mas tolonglah, lakukan sesuatu agar aku bisa menemukannya kembali." pintaku.


Aku harus kembali ke panti dengan perasaan hancur. Ditalak, anakku sampai sekarang pun belum diketahui keberadaannya.


Dalam kondisi hancur seperti itu, aku hanya bisa berdoa agar Sean kembali padaku.


***


Sudah tiga hari. Sesuai kesepakatan, aku diantar oleh Wisnu ke kantor polisi untuk membuat kesepakatan dengan pengacara. Namun pengacaranya tak datang, minta diundur sepekan lagi dengan alasan tak jelas.


"Aku nggak bisa. Aku harus ketemu Anakku sekarang juga. Aku nggak sanggup terus-menerus jauh darinya!" kataku dengan perasaan tidak karuan.

__ADS_1


Seperti apapun aku, tetap saja tak bisa mengubah semuanya. Mas Dani yang menang, ia berhasil kembali mengundur pertemuanku dengan anakku. Aku dibuat geram, saat ingin menggerebek kembali rumahnya, mas Akbar melarang dengan alasan khawatir ini akan jadi masalah hukum untukku mengingat aku yang masih emosi kalau Bertemu dengannya.


"Kamu sudah janji kan akan menuruti aku. Jadi tolong ikuti apa yang aku katakan, Yan." kata mas Akbar. "Kamu harus percaya bahwasannya inilah yang terbaik dari Tuhan. Bersabar sebentar saja, aku pasti akan berusaha membawa Sean ke pangkuan kamu lagi."


Sayangnya, rasa rindu pada anak membuatku tak bisa mengikuti apa yang dikatakan mas Akabr. Aku nekat kembali menghampiri rumah mas Dani sendiri karena mengajak mas Akbar atau Wisnu hanya akan sia-sia saja, tetapi ia gak ada, hanya ada kekasihnya.


"Katakan padanya untuk mengembalikan anakku." kataku. "Jangan sembunyikan anakku. Kembalikan. Kalian benar-benar jahat!" aku terus meracau, berharap ada seseorang yang membawa anakku.


"Aduh, anakmu itu sudah enggak ada di sini, anakmu sudah dibawa jauh, jadi berhenti mengganggu kami!" kata perempuan itu. "Kami juga tak pernah peduli dengan bayi itu, ia hanya sebagai persyaratan saja. Siapa juga yang peduli dengannya.


Aku tak terima, terus memaksa agar ia memberitahu dimana Sean. Tapi ia tetap tak mau mengatakan, malah mengatai aku yang bukan-bukan.


"Sean itu bukan lagi anak kamu dan Dani, ia sudah pergi dengan orangtuanya yang seharusnya!" ia menertawakan aku


Apalagi ini? aku ingin berteriak, tetapi perempuan itu tetap tak peduli, ia tetap tak mau buka mulut. Tetap keras hati hanya menyebutkan sedikit-sedikit saja rahasia keberadaan anakku.


Kesabaranku benar-bemar habis, aku mengatainya pelakor jahat dan tuduhan sebagai perempuan yang buruk. Mendengar itu, ia pun tak terima, makanya langsung menyerang ku habis-habisan.


Sekali terjang dari Niki yang memang badannya lebih besar dariku membuatku langsung terjungkal ke belakang. Ia yang tingginya lima belas centimeter lebih tinggi dariku dengan bebas menyerang. Dalam kondisi babak belur dipukuli dan nyaris pingsan, aku bisa melihat mas Akbar dan Wisnu sangat kebingungan, dengan sigap mereka menggotong menuju mobil mas Akbar.


"Anakku!" kataku, dengan suara pelan namun terdengar oleh mas Akbar hingga ia berusaha menguatkan aku sambil membawa menuju rumput rumah sakit.


Bibirku pecah, badan babak belur dipukuli. Rasanya sangat sakit sekali. Namun aku berusaha kuat untuk anakku.

__ADS_1


__ADS_2