Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Nurut


__ADS_3

"Kita mau kemana? Kenapa pergi meninggalkan rumah kak Dira? Di sana pasti ada papa dan mama. Tolonglah, kembali ke sana. Aku harus menanyakan dimana anakku berada!" pintaku, agar mobil di hentikan. "Kalian tak tahu bagaimana rasanya jauh dari anak sendiri, sangat sakit sekali!"


Mungkin karena bising dengan rengekanku, akhirnya mas Akbar mengentikan mobilnya.


"Kamu itu berisik sekali. Mas Akbar pasti tahu apa yang terbaik, jadi berhenti untuk melakukan hal-hal yang tidak kita rencanakan. Bersabarlah sebentar Yana, kalau sikapmu seperti ini maka akan mengacaukan semuanya. Aku tak mau membantu kamu lagi kalau kamu tak bisa diajak kerjasama!" ancam Wisnu lagi saat mobil berhenti tak jauh dari rumah itu.


"Aku ... aku hanya ingin bertemu putraku." kataku, dengan suara serak. Berusaha menahan tangis.


Aku dan Wisnu saling berdebat. Ia tetap tak mau memahami kondisi yang ku alami sekarang. Sementara mas Akbar sibuk sendiri dengan Hpnya hingga akhirnya ia mengatakan bahwa kami akan kembali ke rumah itu sehingga membuatku lega.


Mobil berhenti tepat di samping rumah kak Dira. Mas Akbar, Wisnu dan aku turun berurutan. Ternyata, gerbang sudah terbuka. Di halaman ada papa dan mama mertua sedang berhadapan dengan tiga orang, yang tak lain adalah polisi bawahan mas Akbar. Melihat mereka ada di sana membuatku langsung berlari mendahului mas Akbar dan Wisnu menghampiri mertuaku.


"Papa ... Mama!" kataku. "Pa, Ma ... Sean ada dimana?"


Bukannya menjawab, kedua mertuaku malah berpaling. Papa sibuk menelepon seseorang yang entah siapa.

__ADS_1


"Ma, Sean tak ada di rumah. Apa mama yani dia dimana? Mas Dani juga, sampai sekarang tak ada kabarnya." kataku.


"Mana saya tahu. Kamu ini bagaimanapun sih. Masa tanya dimana suami dan anakmu. Harusnya kan kamu yang lebih tahu dimana mereka kecuali kamu tidak beres menjaga mereka. Lagipula ini semua apa-apaan sih. Kenapa harus membawa polisi segala ke sini seperti kami ini penjahat saja!" mama mertua tampak kesal.


"Maaf ma, Yana terpaksa melapor ke polisi karena dari kemarin tak bisa bertemu dengan Sean. Mas Dani juga tak tahu ada dimana." kataku.


"Lalu kenapa kami yang dilibatkan?" ujar Mama. "Anak dan suami kamu harusnya kamu yang urus. Kecuali kalian tidak baik-baik saja. Apa yang sudah kamu lakukan hingga putraku meninggalkan kamu, hah?" kata mertuaku. "Keluarga kami adalah keluarga terhormat, sebelumnya tak pernah berurusan dengan polisi, tapi setelah kamu masuk ke kehidupan kami malah kacau seperti ini. Berani sekali melaporkan kami!"


"Yana nggak tahu, ma. Terakhir bertemu kami baik-baik saja, ia mengantar ke panti, lalu pergi untuk menjemput Sean namun sampai sekarang tak juga kembali. Makanya Yana bingung sekali. Yana minta maaf atas tindakan ceroboh yang Yana lakukan. Tapi ini Yana benar-benar tidak bermaksud membuat malu Keluarga, Yana hanya kesulitan masuk ke rumah besar, tak ada yang bisa memberi informasi tentang mas Dani dan Sean. Mama, papa dan kak Dira pun menghilang begitu saja. Makanya Yana lapor polisi takut terjadi sesuatu pada kalian. Sekali lagi mohon maafkan." kataku.


"Maaf ibu, izin bicara. Sebenarnya apa yang dilakukan Yana sudah sesuai prosedur..Ia tak bermaksud melakukan pencemaran nama baik seperti yang ibu sangka. Ia hanya ingin bertemu anaknya. Kami sudah mendampingi Yana saat kembali ke rumah suaminya tapi di sana tak ada yang bisa ditemui, jadi mohon kerjasama ibu dan bapak untuk memberikan keterangan tentang keberadaan putranya Yana." kata mas Akbar.


"Sean itu cucu saya, dimana dia ya itu urusan ayah dan ibunya, bukan tanggung jawab saya, lha wong bukan saya yang ngurus kesehariannya kok. Jadi kenapa harus tanya saya?" kata mama mertua lagi, masih dengan nada tinggi. Selama berhubungan dengan mereka, baru kali ini aku diperlakukan seperti ini sebab yang aku tahu, Mama dan papa mas Dani adalah orang-orang yang baik, yang lembut sikapnya. Jangankan marah seperti itu, bicara keras saja tak pernah.


"Ibu berada di rumah yang sama saat bayi Sean hilang, kan?" kata mas Akbar lagi.

__ADS_1


"Ahhh saya tak tahu apa-apa. Lagipula ini juga bukan urusan saya. Kalau kalian mau cari Sean ya tanya ibu dan bapaknya. Lagipula memang kalian punya bukti apa kalau Sean ada bersama kami? Lha wong saya pergi dari rumah kemarin sama suami saja berdua kok." kata mama mertua lagi.


"Kalau kak Dira, dimana ma?" tanyaku. Teringat, kalau memang mama dan papa tidak tahu, barangkali kak Dira dan suaminya tahu.


"Untuk apa menanyakan putriku? Kamu jangan terlalu lancang ya Yana. Sudahlah, selesaikan saja ini dengan Dani. Jangan bawa-bawa orang lain atau akan jadi bumerang untuk kamu sendiri. Ingat siapa kamu dan siapa kami. Jangan gegabah kalau tidak mau dapat masalah. Tunggu saja sampai Dani menemui kamu!" kata mama lagi.


"Memangnya dimana mas Dani berada ma? Yana mau ketemu sama mas Dani!" kataku.


"Aku tidak tahu, di sini aku hanya berdua dengan suamiku. Jadi jangan libatkan aku dengan masalah kamu!" pungkasnya.


"Bu, mohon kerjasamanya. Kalau ibu mengelak seperti ini jelas sekali ibu tahu sesuatu." kata mas Akbar yang mencoba menengahi aku dan mertuaku


"Dengar pak polisi, dalam rumah tangga pasti ada Padang surutnya. Tapi dalam keluarga kami, yang namanya rumah tangga anak-anak, orang tua pantang untuk ikut campur tangan kecuali mereka butuh nasihat kami. Tapi mereka seloow saja, jadi kami tak perlu ikutan. Kami biarkan saja. Jadi, kalau perempuan ini ada masalah hingga anaknya tak ditemukan itu bukan urusan saya. Kalau kalian menganggap saya tahu semuanya sebab tinggal di rumah yang sama, anda salah besar. Tanya saja sama Yana, dari dulu saya tak pernah ikut campur urusannya dengan putra saya. Lagipula rumah itu sangat besar, saya itu ada di lantai bawah sementara mereka di atas, jadi ya tidak tahu menahu urusan di atas. Saya jarang naik. Bertemu kalau mereka turun atau menghampiri ke kamar kami. Itu saja..Jadi jangan melibatkan kami lagi." kata mama.


Kedua mertuaku masih mengelak. Mereka mengaku tak tahu menahu tentang mas Dani ataupun Sean. Mereka memutuskan pindah ke sini karena ada urusan. Tadi sengaja berbohong agar tidak diganggu. Untuk kak Dira sendiri ada dimana, mereka juga tutup mulut, sama seperti informasi tentang mas Dani yang ditutup rapat-rapat. Untuk urusan lain diserahkan ke pengacaranya hingga aku tak lagi bisa meminta mereka bicara

__ADS_1


__ADS_2