
"Kamu nggak mau ketemu dengan Sean? Ia sudah tidur." Kata mas Akbar, menghampiri aku yang tengah duduk di sofa kamar. Sejak Sean datang, aku memang pindah tidur di sofa, sementara Sean di kasur. Ia menolak untuk tidur bersama atau dekat denganku. "Ucapkan selamat tidur. Aku pernah baca, kalau anak-anak dibisikkan tiap tidur hal-hal baik maka akan tertanam di alam bawah sadarnya. Semoga saja dengan begitu Sean bisa kembali dekat dengan kamu."
"Nggak usah. Aku masih belum stabil. Emosi belum turun. Biar aku sendiri saja dulu " kataku, sambil membuang muka dari mas Akbar.
"Kamu nggak rindu Sean?"
"Rindu, tapi bagaimana lagi, anak itu nggak merindukan aku. Bahkan merasakan kasih sayangku saja tidak. Kami seperti dua orang asing saja. Aku dengan diriku, ia dengan dirinya." Kataku. "Kalau ku dekati, lihat sendiri kan? Ia sampai menjerit histeris. benar-benar seperti orang ketakutan. Seolah aku ini penjahat. Tapi mau bagaimana lagi, seperti itu yang ditanamkan padanya sejak ia kecil, makanya ia tahunya aku ini orang jahat!" Mataku mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba ia memelukku dari belakang. Rupanya ia tahu bahwa hatiku masih tidak tenang. Makanya ia membiarkan hingga aku terisak-isak. "Kelak, ia pasti akan menjadi anak yang paling menyayangi kamu, sayang." Kataku.
"Kapan? Aku lelah menunggu!" Kataku.
"Sabar ya. Aku akan selalu berusaha membantu kamu."
Lagi-lagi aku hanya bisa membuat beban untuk mas Akbar. Kemarin pun saat ke dokter anak, aku yang berangkat ditemani bibi Wina untuk melakukan medical check up pada Sean akhirnya harus menyerah. Baru sampai rumah sakit aku terpaksa menelepon mas Akbar. Ia yang akhirnya maju untuk membujuk Sean agar mau menurut. Hasilnya, ia akhirnya diam juga meski aku tak boleh mendekatinya. Anak itu benar-benar anti pada aku yang punya hubungan darah dengannya. Pengaruh kak Dira memang luar biasa.
"Besok aku ingin ke psikolog." Kataku. "Aku ingin konsultasi. Rasanya sangat tidak nyaman. Diperlakukan seperti ini oleh Sean membuat aku sulit makan, emosi baik turun dan hati jadi was-was." Kataku.
"Baiklah. Lakukan apa yang menurut kamu baik, sayang. Besok kamu mau ditemani?"
__ADS_1
"Enggak perlu. Aku Konsul pada temanku." Kataku. Mas Akbar mengangguk. Meski begitu ia tetap menawarkan kalau ada apa-apa segera menghubunginya.
***
"Kamu hanya down saja, sebaiknya belajar untuk menerima semuanya dengan ikhlas, Yan. Tak ada salahnya kalau kamu mengalah. Mundur satu langkah untuk maju sepuluh langkah. Cobalah panggil dengan nama yang ia tahu, jangan dengan yang ia benci. Pelan-pelan sentuh hatinya. Siapa tahu dengan begitu hatinya akan luluh. Anakmu itu seperti kertas putih. Jangan biarkan terlalu banyak coretan. Kalau kamu terus paksa, ia akan penuh dengan nis atau bahkan Sobel." Nasihat Bu Mira, salah seorang senior sekaligus teman yang aku kenali sebab kami satu almamater. Ia banyak menasihati aku sesuai dengan bidang nya sebagai seorang psikolog.
Ikhlas? Benar-benar sulit. Aku harus memenangkan kak Dira padahal ia sudah menculik anakku! Dadaku sesak. Tapi seperti yang dikatakan Bu Mira, aku tak punya pilihan lain selain mencoba. Hati Sean sudah teramat tidak suka dengan namanya sendiri.
"Sabar ya Yan. Dan jangan lupa doakan Sean. Ia pasti akan kembali padamu." Nasihat Bu Mira lagi.
***
Bagasi mobil sampai penuh dengan berbagai macam mainan dan makanan yang aku beli. Sampai di rumah, aku langsung ke panti asuhan. Sudah payah membawa oleh-oleh untuk anak-anak. Saat melihatku dengan barang bawaan sebanyak itu, mereka langsung menghambur gembira menyambut makanan dan mainan.
"Sayang, kenapa masih disitu. Ayo kesini!" Kataku pada Sean yang masih diam mematung di tempat awalnya berdiri saat aku datang. "Ayoo ... Asli!" Panggilku. Berat sekali ya Tuhan. Sakit sekali rasanya harus memanggil dengan nama lain. Aku ingin menangis namun tergantikan dengan senyum saat anak itu tiba-tiba berjalan ke arahku. Ia mendatangi aku. Memenuhi panggilanku.
"Terimakasih." Kata Sean saat mengambil mainan dari tanganku. Lalu ia bergabung dengan anak-anak yang lain. Bermain sambil bercandaan. Sebuah sikap yang sebenarnya sangatlah sederhana namun berhasil melambungkan hatiku. Semua duka rasanya hilang untuk sesaat. Aku benar-benar merasa menjadi manusia paling bahagia persekian detik.
Ya Rabb ... kesedihan, kekecewaan dan kemarahan yang tadi hadir sekarang berganti dengan kebahagiaan. Meski secercah namun bisa mengobati sahara di hati yang begitu tandus. Anakku mengatakan terimakasih padaku. Alhamdulillah, alhamdulilah, Alhamdulillah.
__ADS_1
"Suka nggak sama mainanya?" Kataku, pada anak yang ada disebelah Sean. Ia menganggukkan kepalanya. Lalu aku beralih pada Sean. Aku sengaja tak langsung padanya untuk memberinya kenyamanan. Agar ia tak merasa aku terlalu mengejar -ngejarnya meski kenyataannya begitu. "Besok mau dibelikan mainan apa?" Tanyaku pada Sean.
"Bis. Bis gede!" Kata Sean dengan antusias. Ia sampai memperagakan dengan kedua tangannya berapa besar bis yang ia inginkan. Sepanjang dirinya.
"Wah, bis yang panjang sekali ya." Kataku.
"Iya. Sepanjang itu!" Katanya lagi. Masih memperlihatkan kedua tangannya.
"Bis? Yang warna apa?" Aku menjawab tak kalah antusias. Mengikuti keinginan Sean. Melawannya bicara agar bisa mendekatkan hubungan kami.
"Merah." Ujarnya, sambil menunjuk bajunya yang memang berwarna merah. "Adli itu sukanya warna merah."
"Oh ya, baik. InshaAllah besok kita beli bis warna merah ya. Tapi mama nggak tahu nih, Adli sukanya yang seperti apa. Nanti kalau Adli piluh sendiri bagaimana supaya nggak salah, karena di tokonya ada banyak mainan bis warna merah. Mama khawatir salah memilih warna."
"Ya, nanti Adli ikut ya ma!" Katanya. Lalu ia sibuk bermain dengan teman-temannya.
Kini aku sudah bisa tersenyum bahagia sebab Sean sudah mau berkomunikasi denganku. Ia juga mau memanggilku mama. Suatu hal yang membuat hatiku berbunga-bunga. Saking bahagianya aku sampai mengirimkan banyak pesan pada mas Akbar. Tak sabar rasanya agar ia segera pulang dan melihat kedekatan Kami.
[Nanti kita rayakan ini, kita ajak anak -anak makan.] Kata. Mas Akbar. Ia juga janji akan pulang lebih awal.
__ADS_1
"Bibi terimakasih banyak!" Kataku pada bibi Wina yang menjadi salah seorang penasihat ku. Ia selalu mengingatkan agar aku mau mengalah meski sebelumnya aku tetap keras kepala. Bibi Wina yang sejak awal mengamati aku hanya tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Saking terharunya ia tak bisa berkata-kata apapun juga.