
Supir taksi yang ku tumpangi beberapa kali salah jalan membawa kami. Aku yang geram sampai mencurigai kalau-kalau ia komplotan kak Dira. Tapi saat ia memohon maaf dengan sangat tulus, aku bisa melihat lelaki yang sudah cukup sepuh itu bukan orang jahat. Aku saja yang terlalu berpikir negatif padanya.
"Maafkan saya, pak. Saya sedang sangat lelah. Putra saya juga sedang sakit, makanya pikirannya kacau." kataku, yang sangat tidak enak hati sudah berbicara cukup keras.
"Nggak apa-apa neng, emang bapak yang salah. Enggak terlalu hafal jalan karena baru belajar narik sepekan ini untuk memenuhi kebutuhan dapur." katanya. Bapak tua itu bercerita tentang kondisinya saat ini. Hanya tinggal berdua dengan istrinya. Kalau ia tak bekerja maka tak akan ada yang menafkahi.
Bapak itu sebelumnya jadi tukang angkat di pasar, tapi karena semakin menua tenaganya pun tak sekuat dulu. Makanya tak ada yang mau memakai jasanya. Untungnya tetangga depan rumahnya yang bekas supir taksi berbaik hati meminjamkan taksi padanya tanpa meminta imbalan apapun selain ia harus mengisi bensin. Benar-benar tetangga yang baik hati.
Di depan rumah Wisnu, anak-anak tak terlihat satu orangpun. Aku mengira mereka tengah berkegiatan di dalam. Meski jumlahnya banyak, namun anak-anak itu terbiasa tenang karena Bu Tari selalu disiplin mendidik.
Usai membayar dan melebihkan sedikit, aku langsung masuk. Baru di depan pagar, terdengar suara teriakan anak-anak. Tak lama keluar beberapa orang berbadan besar. Rupanya mereka mengunci anak-anak di kamar. Aku yakin itu orang-orang suruhan mas Dani atau kak Dira, makanya aku hendak kabur, tetapi ketika berbalik langkahku terhenti mendapati mas Alex dan kak Dira berada hanya beberapa meter dariku.
Ya Allah tolong jangan pisahkan aku lagi dengan putraku. Tolong ....
Aku hanya bisa berdoa dalam hati sembari mendekap erat Sean. Putraku itu tetap tenang dalam pelukan ibunya.
"Sinikan anak itu!" kata mas Alex. Sekali tarik ia berhasil merebut Sean dariku.
Aku tak diam begitu saja, berusaha merebut kembali namun tenagaku kalah. Ditambah preman-preman yang keluar dari rumah memegangi aku agar tak merebut Sean.
"Jangan ambil anakku!" kataku pada mas Alex. Tapi ia tak peduli. Kak Dira ikut maju, mendekati aku. Lalu 'Plak', sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Tamparan yang sangat keras sekali. Ini pertama kalinya dalam hidup aku dipukul sebegini kerasnya hingga pipi ini rasanya panas.
__ADS_1
"Dasar jal---!" seru kak Dira. Lalu ia memberi isyarat suaminya untuk pergi membawa Sean.
"Kembalikan anakku. Jangan rebut dia dariku. Kembalikan!" aku berteriak histeris, berusaha membuat kegaduhan agar ada yang mau menolong, namun semua orang memilih menutup pintunya rapat-rapat sebab saat mereka hendak keluar para preman itu mengacungkan pisau yang mereka kantongi.
Mobil kak Dira dan suaminya meninggalkan tempat ini. Membawa Sean ikut serta. Untuk kedua kalinya aku kehilangan putraku. Rasanya sangat hancur sekali. Aku menangis sejadi-jadinya. Berusaha melepaskan diri dari preman-preman itu.
Mungkin karena majikan mereka sudah pergi makanya mereka pun melepaskan aku, lalu berlalu bersama dua buah mobil jip.
Dari dalam rumah Wisnu terdengar suara anak-anak memanggil. Aku tak bisa meladeni mereka karena sekarang aku seperti mayat tak bernyawa. Rasanya hidupku sudah berakhir. Bagaimana mau menyelamatkan orang lain, menolong putraku sendiri aku tak bisa.
"Mbak, mbak nggak apa-apa?" satu-persatu tetangga Wisnu keluar dari rumah mereka, stelah yakin bahwa kondisi aman.
Aku tak menjawab apapun. Masih menangis sejadi-jadinya.
"Mbak, maafkan kami, tapi sebelum mbak datang kami semuanya sudah diancam sama preman-preman itu, kalau kami masih ikut campur maka rumah kami akan dihancurkan!" kata salah seorang ibu yang terlihat ina padaku.
Masih tak ada kata yang keluar dari mulut ini selain air mata yang jatuh berguguran. Sean putraku sudah diambil lagi. Aku telah kehilangan anakku. Siapa yang akan menolong?
***
"Yan, tenanglah. Jangan putus asa seperti ini. Kita akan mendapatkan kembali putranya!" janji mas Akbar yang akhirnya menyusul ke rumah Wisnu.
__ADS_1
Begitu juga dengan Wisnu yang sudah kembali menjemput Sigit. Ia mengaku menyesal menyusul ke rumah sakit, harusnya ia menunggu hingga aku kembali saja. Wisnu begitu karena ia khawatir aku kenapa-napa usai membaca pesan dariku.
Menurut cerita bibi Wina, orang-orang suruhan kak Dira datang beberapa menit setelah Wisnu pergi menyusulku. Mereka menyekap anak-anak dalam satu kamar. Tetangga yang ingin menolong pun dihajar hingga nyali mereka ciut.
"Aku sudah kumpulkan semua bukti-buktinya, kita akan melakukan perlawanan!" kata mas Akbar.
"Aku tak akan diijinkan bertemu Sean." kataku dengan suara terbata-bata karena memang rasanya tak ada energi lagi menghadapi ini semua. Hancur sekali dengan apa yang sudah dilakukan kak Dira. Bahkan lebih hancur dari pertama kehilangan Sean
"Jangan bicara begitu Yan, kalau kamu patah semangat lalu siapa yang akan memperjuangkan Sean? Atau kamu rela ia dirawat oleh orang-orang jahat itu? kami ini nggak berhak atasnya, hanya kamu yang bisa merebut Sean!" tegas Wisnu.
"Tapi mereka akan terus memisahkan aku dari Sean, bahkan perempuan itu tega menukar nama anakku!" kataku.
"Kalau begitu kamu harus terus mencarinya!" kata Wisnu lagi. "Jangan gampang menyerah Yan, aku tahu berat untukmu menjalani ini semua. Tapi Tuhan memilih kamu karena Dia yakin kamulah yang mampu, bukan ibu-ibu yang lain."
"Aku akan bantu kamu. Sedikit lagi Yana, berjuanglah sedikit lagi. Ya?" pinta mas Akbar.
air mata ini kembali jatuh. Apa ini semua? kenapa rasanya sakit sekali. Aku ibunya tapi aku tak diijinkan menemui putraku.
Tapi seperti yang dikatakan mas Akbar dan Wisnu, aku harus berjuang mendapatkan putraku kembali. Aku akan mengambilnya karena aku ibunya. Aku lebih berhak dari siapapun dimuka bumi ini karena ayahnya pun sebenarnya tak menginginkan Sean melainkan hanya untuk mendapatkan uang dari Kak Dira jika bisa memberinya anak yang mengalir darah keluarga mereka.
"Sean, tunggu mama sebentar lagi ya. Mama akan kembali memeluk Sean. Pelukan yang tak akan pernah mama lepaskan meski mama harus berakhir!" aku berjanji pada diriku sendiri.
__ADS_1
Hari ini aku harus kembali mengikhlaskan berpisah dengan Sean. Namun aku yakin, cepat atau lambat akan bertemu dengan anak ku.
Kita akan bertemu, meski sekarang kita berada di tempat yang berbeda, namun aku sangat yakin, hatiku dan anakku bersatu. Bagaimanapun orang-orang jahat itu berusaha memisahkan kami tetapi takdir kelak yang akan mempertemukan kami kembali. Aku yakin itu!