Kembalikan Anakku

Kembalikan Anakku
Sebuah Tanda


__ADS_3

Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada lelaki seperti ini? Pertanyaan itu muncul, usai menyadari karakter mas Dani yang benar-benar menyebalkan. Ia betul-betul jahat. Pada darah dagingnya saja bisa, apalagi padaku yang bukan siapa-siapanya. Baginya, hanya kepentingan dirinya sendiri. Lagipula ia terlalu percaya diri bahwa aku akan menyukainya lagi seperti dulu.


"Yan, tolong beri aku kesempatan. Kamu harus tahu bahwa Sean masih hidup!" kata-kata mas Dani membuat langkahku terhenti. Aku sangat yakin Sean masih hidup namun tak tahu dimana ia berada. "Ya Yan, Sean masih hidup. Ia butuh papa dan mamanya. Jadi, ayo kita kembali membangun rumah tangga kita. Demi kebahagiaan anak kita. Aku akan menebus semua kesalahanku. Akan ku rebut Sean dari kak Dira karena memang kita yang berhak atas anak kita."


"Bagaimana aku bisa mempercayai kamu lagi setelah apa yang sudah kamu lakukan selama ini!" Kataku dengan tegas.


"Tapi kali ini tolong percayai aku, Yan. Aku tak akan berbohong lagi. Anggap saja aku ada di bawah kekuasaan kamu. Hidupku ada di tangan kamu. Tolong Yan. Lagipula kalau aku dihukum mati dan suatu saat Sean mempertanyakan, apa kamu tak kasihan dengan mentalnya. Sejahat apapun seorang ayah, tetap saja ia adalah ayah untuk anaknya. Beri aku kesempatan Yan, sekali saja. Aku akan menuruti semua permintaan kamu. Aku akan mengkhianati orang tua dan kakakku. Sekarang aku tak peduli lagi pada mereka karena mereka tak memperjuangkan aku." Ungkap mas Dani.


Secepat itu ia berpaling. Pada orang tua dan saudara sedarahnya saja ia bisa begitu apalagi nanti tak tertutup kemungkinan ia akan menyusahkan aku dan Sean.


"Katakan dimana Sean!" Kataku.


"Berikan aku kebebasan sebagai gantinya." Pintanya.


Kami terpaksa membuat kesepakatan. Aku akan membuatnya bebas. Sementara ia memberitahu dimana Sean berada.


***


Aku, mas Akbar ditemani pihak kepolisian dan juga RT setempat mendatangi rumah kedua kak Dira, tempat mereka sekarang tinggal. Saat kami datang, mantan mertuaku sangat kaget. Di sana juga ada mas Alex.


"Selamat pagi. Kami dari pihak kepolisian ingin mengadakan penggeledahan karena diduga disini ada anak dari ibu Yana." Polisi menyerahkan surat izin penggeledahan pada Papa Farid yang menyambut kedatangan kami.

__ADS_1


"Mohon maaf, bapak-bapak salah alamat. Kalau mau mencari cucu kami, tanyakan pada ibunya, dirunah sakit mana cucu saya berada?" Katanya. "Tapi kalau bapak-bapak tidak percaya, silakan cari sendiri!" Kata papa Farid. "Hanya saja setelah ini saya akan mengajukan tuntutan karena perempuan itu sudah menuduh keluarga kami. Ini pencemaran nama baik!"


Bapak-bapak dari pihak kepolisian masuk bersamaan dengan pak RT untuk melakukan penggeledahan. Mas Alex ditemani mama Vio membantu menemani. Bahkan mereka dengan tenangnya menunjukkan ruangan-ruangan di rumah ini.


"Kamu nggak sekalian meriksa. Biar puas?" Kata papa Farid.


Aku dan mas Akbar hanya diam saja.


"Bagaimana bapak-bapak yang terhormat, sudah dicek semua kan? Nggak ada kan? Apa saya bilang. Makanya jangan sembarang. Jangan ikut gila seperti perempuan ini. Sudah jelas anaknya meninggal kok nggak terima kenyataan juga. Mau nyari apa di sini?" ujar papa Farid dengan penuh emosi. "Sekarang sebaiknya bapak-bapak kembali ke tempat masing-masing. Kami akan mempersiapkan diri untuk menuntut perempuan ini karena sudah mengganggu privasi kami!"


"Silakan saja lakukan." Jawabku, enteng.


"Pak, mohon maaf, tapi Masin ada ruangan yang belum diperiksa." Kataku, sebelum pihak kepolisian dan RT meninggalkan rumah ini


"Apalagi sih? Kan sudah diperiksa semuanya " ungkap mama Vio dengan nada kesal


"Kalian nggak lupa kan dengan satu ruangan lagi yang saya maksud. Ruangan yang kalian sembunyikan. Saya sudah tahu semuanya karena mas Dani sudah memberitahu dimana Sean kalian sembunyikan!" Aku maju, tapi langkahku dicekal oleh papa Farid, mama Vio dan mas Alex secara bersamaan. "Ini, sikap kalian saja sudah mencurigakan. Kalau emang nggak ada apa-apa kenapa takut seperti ini?" Aku membalas mereka. "Ayo bapak-bapak, bantu saya menemukan anak saya." Kataku.


Masih ada pencekalan dari pihak keluarga mas Dani. Mas Akbar ikut membantu melepaskan celana mereka dari tanganku. Melihat pertikaian itu, pihak polisi berusaha untuk menengahi. Dengan sedikit ancaman akhirnya mereka tak berkutik.


Aku melangkah di depan dengan penuh percaya diri. Rasanya jantungku berdebar-debar. Membayangkan pertemuan dengan putraku tercinta yang sudah berpisah selama tiga tahun lebih.

__ADS_1


"Sean, mama datang nak!" Aku bergumam di dalam hati


Langkah kakiku menuju sebuah kamar. Kamar tamu yang berada di tengah-tengah. Di sana, ada sebuah lemari putih. Seperti yang dikatakan mas Dani, di dalam lemari itu ada sebuah pintu menuju ruang bawah tanah. Dengan penuh harap aku memasukinya sementara mantan mertua dan juga mas Alex histeris. Mereka ingin menghalangi namun tak bisa karena polisi mencekal mereka.


Satu pintu yang kini menghalangi aku. Pintu yang tertutup dari dalamnya pertanda ada seseorang di dalam sana. Entah siapa. Tapi aku yakin putraku di sana. Aku menunjuk pada mas Akbar. Ia langsung sigap mendobrak pintu itu dibantu dua polisi.


Brak. Pintu itu akhirnya jebol juga hingga kami melihat sebuah ruangan berukuran sepuluh kali sepuluh meter. Ruangan yang lebih tepatnya disebut kamar tidur yang didesain dengan sangat sempurna. Bernuansa putih. Ada kasur besar, sebuah lemari besar, tumpukan mainan anak-anak yang jumlahnya sangat banyak, juga sebuah mini bar. Dimana ada kulkas besar dan rak besar berisi cemilan anak-anak juga susu.


"Sean ... Anakku Sean dimana?" Netraku mencari ke seluruh sudut ruangan kamar itu, berharap menangkap bayangan putraku, namun nihil. Ia tak ada di sana. "Sean, tolong beri tanda pada mama agar mama bisa menyelamatkan kamu."


"Tidak ada Yan." Kata mas Akbar, ia memeluk pundakku untuk menguatkan.


"Pasti ada. Lihatlah, itu semua jejak Sean!" Aku menunjuk semua mainan yang berserakan dan sangat yakin itu punya Sean.


"Itu bekas Sean saat masih hidup." Celetuk mas Alex. "Kami sengaja menyimpannya untuk kenang -kenangan sebab hingga sekarang belum juga bisa melupakan Sean."


"Jangan bohong lagi kamu!" Aku membentaknya. Kesal dengan kebohongan mereka yang terus berlanjut.


"Ya sudah kalau tidak mau percaya. Seluruh ruangan di rumah ini sudah kalian geledah semua. Tempat ini memang sengaja tidak kami lihatkan karena disini adalah tempat kenangan kami. Tapi sekarang kalian malah merusaknya. Harusnya bapak -bapak polisi berlaku adil!" kata mas Alex lagi.


Ketika rasa putus asa itu hinggap, tiba-tiba saja suara tangisannya terdengar jelas dari sebuah ruanhan yang masih satu bagian dengan kamar ini. Ya, aku yakin itu suara Sean, ia ada di kamar mandi. Naluriku tak bisa dibohongi kalau ada anakku disana. Makanya aku segera menuju ke arah sumber suara yang tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


__ADS_2