
Hari yang sama, aku dibantu mas Akbar dan juga Wisnu menuju rumah kak Dira yang dicurigai sebagai tempat Sean disembunyikan. Aku yang semula tidak berpikir mertua dan iparku terlibat kini pasrah saja dengan dugaan yang diucapkan Wisnu. Yang terpenting anakku ketemu.
Sampai di sana, seorang satpam mengatakan keluarga mas Dani tidak di sana namun aku langsung membantah dengan menunjukkan mobil yang biasa dipakai mertuaku terparkir di halaman rumah. Meski tak hafal jenis-jenisnya tapi aku tahu bentuknya sebab mobil itu biasanya diparkir di dekat jendela kamar, jadi setiap memandang dari jendela maka mobil itulah yang selalu terlihat olehku.
"Aku sangat yakin itu mobil mama dan papa. Jadi tolong bukakan pintunya. Atau kalau tidak panggilkan mereka. Aku ingin bertemu. Aku nggak akan mengganggu, hanya ingin bertemu dengan putraku, hanya itu saja, jadi bantulah aku!" Kataku, sambil memaksa agar satpam itu membukakan pintu. Gerbang yang tak kalah tinggi dari gerbang rumah besar yang sebelumnya kami tinggali itu aku goyang-goyangkan untuk membuat kegaduhan dengan harapan mereka keluar.
"Haduh Bu, mobil itu memang dibawa sama supirnya bapak dan ibu ke sini karena mau diservis di bengkel yang ada di ujung gang sana. Karena kebetulan tempat servisnya full makanya pulang ke sini dulu supaya besok bisa dimasukkan ke servis lebih awal." Kata satpam itu, memberi penjelasan seusia dirinya.
"Enggak. Enggak mungkin. Aku yakin papa dan mama ada di sini. Tolong panggilkan, aku mohon. Jangan pisahkan aku dengan anakku. Tolong kembalikan ia karena aku tidak bisa hidup tanpanya." Aku terus memohon dengan harapan papa dan mama mendengar atau paling tidak satpam itu tersentuh dan mau memberitahu dimana anakku berada. "Aku tak peduli dengan apa yang sebenarnya terjadi, aku hanya butuh anakku. Hanya itu. Kalau memang mereka sudah tidak mau menerimaku sebagai bagian dari keluarga ini, enggak apa-apa, meski tanpa penjelasan sedikitpun, aku terima dengan lapang dada tapi tolonglah, jangan pisahkan aku dari Sean." aku terus memohon belas kasih mereka karena memang sebagai ibu rasanya sangat sesak ketika kehilangan anak sendiri. Apalagi untuk sesuatu hal yang benar-benar tidak diketahui alasannya.
"Bu, sudahlah. Anda mau bicara apa juga saya nggak bisa bantu karena bapak dan ibu tidak ada di sini." Tegas satpam itu. "Kesabaran saya bisa habis kalau anda terus mengulang-ulang kata-kata itu. Saya sudah katakan mereka tak ada di sini. Jadi pergilah atau saya panggil keamanan di sini agar anda di usir sebab Anda sudah mempersulit tugas saya" Katanya.
"Tenang pak, saya polisi. Saya akan bawakan surat penggeledahan. Tidak perlu memanggil keamanan karena kami akan pergi sendiri." Kata mas Akbar. Ia lalu mengajakku pergi, tentu saja aku menolak karena aku tak mau kehilangan anakku untuk kedua kalinya. Aku yakin mama dan papa ada di sana, tak mungkin hanya mobilnya saja yang ada di sini. Apa yang dikatakan satpam itu hanya alasan yang dibuat-buat untuk menghindari aku. Lagipula aku bingung, kenapa kedua mertuaku harus menghindari aku. Padahal selama ini hubungan kami baik-baik saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Lagi-lagi pertanyaan itu muncul.
__ADS_1
"Baguslah kalau bapak polisi jadi tolong bawa ibu ini dari sini sebab ia sudah membuat kegaduhan di sini, jangan sampai saya benar-benar marah dibuatnya hingga melakukan hal yang tidak diduga!" Usai mengancam, Satpam itu berlalu, membiarkan kami berdiri di depan gerbang.
"Ayo Yan." Kata mas Akbar.
"Bagaimana aku bisa pergi meninggalkan anakku untuk kedua kalinya. Aku sangat yakin di dalam pasti ada Sean. Jadi tolong bantu aku agar bisa masuk mas. Aku nggak akan membuat masalah. Hanya ingin membawa Akbar pulang bersamaku." Kataku.
"Yan, sebaiknya ikuti apa kata mas Akbar karena kalau kamu disini hanya akan menambah masalah baru. Kamu sudah membuat ketidaknyamanan di sini." kata Wisnu yang sepemikiran dengan mas Akbar.
Berat, tapi aku harus pergi. Hanya saja ada hal yang membuatku lega ketika Mas Akbar mengentikan mobilnya tak jauh dari rumah kedua kak Dira. Aku tak diberikan kesempatan bertanya sebab mas Akbar memintaku menunggu sementara ia pergi sejenak membawa sesuatu yang diambilnya dari laci mobil.
"Aku tahu kamu sedang kacau, Yan. Tapi tenanglah dan percayakan semuanya pada mas Akbar. Ia itu salah satu polisi terbaik, kan, berarti IQnya tidak main-main. Hal seperti ini sudah jadi makanannya. Kamu hanya perlu mengikuti apa yang ia suruh agar sikap kamu yang sembrono itu tak mengacaukan semuanya!" Tegas Wisnu.
Lho, kenapa malah aku yang disalahkan? Aku adalah korban di sini karena dipisahkan dari anakku. Meski sebenarnya tak tahan ingin tahu apa yang dilakukannya namun aku berusaha keras menahan diri demi bertemu anakku.
__ADS_1
"Ayo sekarang kita pergi." Kata mas Akbar, lalu mengemudikan mobilnya menjauh dari rumah kak Dira.
***
Ada empat total rumah kak Dira yang kami kunjungi dan semuanya kosong. Penjaganya mengatakan bahwa mertua maupun kakak iparku tak ada di sini. Rumah itu sudah lama kosong, bahkan ada satu yang sedang dalam proses penjualan. Terbukti dengan plakat besar bertuliskan rumah dijual.
"Sekarang kamu pulang saja dulu ya Yan. Aku masih harus mengerjakan hal lain." Kata mas Akbar saat kami sudah sampai di kantor polisi.
"Pulang?" Aku tak percaya dengan apa yang ia suruh tadi. Dalam kondisi seperti ini bagaimana mungkin terpikirkan untuk pulang padahal sudah lebih dari dua puluh empat jam tak ada kabar dari suami dan anakku. "Aku nggak mau, aku mau disini saja mencari bayiku " kataku
"Percayakan pada kami, jadi tunggulah di rumah. Kamu sudah teramat lelah hari ini." Kata mas Akbar. "Bu, tolong antar Yana pulang ya." Pintanya pada Wisnu.
'"Ya bang, ayo Yan!" Ajak Wisnu.
__ADS_1
Aku benar-benar tak mau pulang, namun tak punya pilihan lain sebab dua orang itu mengabaikan permintaanku.
"Pulanglah!" kata Wisnu. "Kalau kamu tak mau menuruti maka kami akan berhenti membantu kamu!" ancam Wisnu yang membuat nyaliku ciut.