
Sudah empat bulan setelah putusan. Bahkan tingkat banding pun aku masih menang namun hingga saat ini, genap enam bulan aku tak juga bisa menemui putraku. Rasanya semua benar telah berakhir.
Pihak berwenang belum bisa melakukan apapun karena dari pihak kak Dira terus melakukan upaya hukum. Sejak itupun kami tak bisa menemukan dirinya, hanya bisa berhubungan dengan pengacara yang tetap tutup mulut tentang keberadaan kliennya.
Bersamaan dengan itu, kondisi kesehatan ini pun semakin memburuk. Hanya bisa keluar masuk rumah sakit. Seperti orang yang hidup segan mati pun tak mau.
Sebenarnya mas Akbar dan Wisnu sudah berusaha membantu semaksimal mungkin. Selain dengan cara hukum, mereka pun sudah membantu memviralkan yang efeknya nggak main-main untuk usaha kak Dira. Hotel dan beberapa restonya terpaksa ditutup. Namun hingga sekarang ia pun tak kunjung menyerah.
"Sean, kamu dimana Nak?" aku mengerang, memanggil namanya dalam tidurku. Yang terlihat hanya Padang luas, dan entah kemana akan ku cari Sean.
Begitulah, setiap harinya selalu terbangun dengan kondisi mimpi buruk. Padahal untuk tidur rasanya terlalu sulit. Makanya dokter sampai meresepkan obat tidur padaku. Aku yang semula beratnya lima puluh kilogram, sekarang menjadi tiga puluh lima kilogram. Begitu dahsyatnya efek dari perpisahan dengan anak.
"Yan, ada nak Akbar." bibi Wina masuk ke dalam kamarku. Hari-hari memang ku habiskan di kamar, tak ingin bertemu siapapun dan melakukan apapun selain berbaring saja. "Temuilah." pintanya.
"Nanti saja, bi. Suruh ia pulang dulu." kataku, masih rebahan di tempat tidur.
"Yan, bibi lihat beberapa bulan ini hidup kamu nggak karu-karuan. Mau sampai kapan? Kalau kamu begini, siapa yang akan memperjuangkan Sean?" kata bibi, menasihati aku.
"Tak ada lagi yang harus diperjuangkan. Bibi tahu kan, anakku sudah dibawa pergi jauh ke negeri orang, ke tempat yang tak bisa aku jangkau." aku kembali menangis.
"Yan, nak Akbar datang ke sini barangkali ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Mereka sudah berjuang untuk kamu masa kamu menyerah saat mereka masih sangat semangat untuk menemukan Sean." kata Bibi Wina lagi.
Dengan langkah gontai aku menuju ruang tamu panti asuhan yang sudah empat bulan ini kami tempati.
__ADS_1
"Hari ini Sean ulang tahun, kan? Tepat satu tahun. Aku menyiapkan semua ini untuk
kalian berdua." ia mengajakku ke aula panti. Di sana sudah ada anak-anak duduk bersama para volunteer yang ikut membantu Bibi Wina, juga ada Wisnu.
Rupanya mas Akbar menyiapkan makanan untuk anak-anak dengan tujuan agar mereka ikut mendoakan Sean agar bisa kembali ke pangkuanku.
"Kamu percaya tidak, energi positif akan membawa dampak positif juga. Kalau kamu percaya maka aku yakin, kamu akan bisa bertemu dengan anakmu. Kemanapun mereka membawa Sean, pada akhirnya anak itu akan mencari ibunya. Mengerti kan Yan. Sekarang kamu harus bangkit. Enam bulan ini kamu sudah menyia-nyiakan hidup kamu. Kalau benar Sean di bawa ke luar negeri maka kamu harus mengejarnya ke sana. Musuh kamu kuat, Yan. Harusnya kamu lebih kuat darinya. Caranya, kamu harus berhasil. Aku akan selalu membantu kamu asal kamu janji tak putus semangat seperti ini!" kata mas Akbar.
Aku menangis. Entah kenapa semangat yang sempat padam kini kembali berkobar. Aku akan kembali melanjutkan pencarian ini.
***
Sudah dua tahun berlalu. Sesuai saran mas Akbar kala itu, aku kembali melanjutkan kuliah kedokteran hingga hari ini lulus sebagai sarjana kedokteran. Tinggal melewati beberapa langkah lagi untuk bisa menyelesaikan semua menjadi seorang dokter.
Bersamaan dengan itu, aku terus mencari keberadaan putraku dengan menjalin relasi agar mendapatkan informasi dimana mantan iparku berada. Aku juga tak melepaskan semua anggota keluarga mas Dani, termasuk mantan suamiku sendiri.
"Kau yakin akan melakukan itu?" hari ini aku dan Wisnu berencana melakukan sesuatu. Ya sebuah rencana untuk menekan mantan suamiku.
"Tentu saja aku yakin." kataku.
"Baiklah, aku selalu mendukung kamu!" kata Wisnu.
Kami berdua membuat sebuah strategi, mengatur semuanya sedemikian rupa agar mas Dani masuk ke perangkap.
__ADS_1
"Aku tak tahu lagi kalau hari ini ia tak bisa terjaring juga." kataku.
"Pasti kena!" Wisnu begitu yakin.
Kami berdua seperti sedang melakukan perburuan di waktu kecil dahulu. Berusaha agar mangsa kami masuk ke jebakan.
***
Koran lokal pagi ini berisi penangkapan terhadap seorang adik pengusaha hotel dan restoran. Ya, mas Dani tertangkap sedang melakukan pesta barang-barang haram bersama kekasihnya di salah satu villa milikku.
Usai membaca koran yang dibawakan Wisnu aku langsung tersenyum. Akhirnya ia masuk juga ke dalam jebakanku!
Tak berapa lama pengacara Mas Dani mendatangi untuk melakukan negosiasi denganku agar CCTV dan barang bukti yang menunjukkan bahwa mas Dani dan kekasihnya tengah melakukan pesta tersebut dihapuskan. Mereka menjanjikan uang yang cukup banyak untukku. Tapi aku menolaknya.
Esoknya, ayah dan ibu mas Dani, mantan mertuaku, datang menemuiku.
"Jadi villa itu punya kamu? Tapi bagaimana?" tanya mama Vio. Sepertinya ia kaget dengan keadaan aku sekarang. Apalagi setelah tahu kalau aku telah menyelesaikan pendidikan dan sudah diangkat menjadi dokter umum dan juga punya beberapa unit villa. "Kamu kan cuma ...." ia sampai gemetaran, tak menyangka dengan aku yang sekarang.
Beberapa tahun ini, aku memang mengubah strategi. Melakukan perlawanan secara diam-diam untuk membuat mereka lengah dan usahaku berhasil. Yang mereka tahu aku telah menyerah. Padahal aku tak pernah berhenti sedetik pun mencari cara untuk menemukan putraku.
Ibu yang mencintai anaknya tak mungkin diam saja ketika orang-orang mengambil paksa. Mereka pasti melakukan perlawanan. Apapun caranya. Akupun begitu. Setelah selalu gagal pada akhirnya aku mengubah strategi. Terus mengawasi mereka, berusaha agar sukses, masuk ke circle pertemanan mereka dan hasilnya benar saja. Sekarang mas Dani berhasil menjadi tawanan ku. Mereka membutuhkan aku untuk tutup mulut agar tak memperlihatkan bukti-bukti bahwa lelaki itu adalah seorang pemakai barang-barang haram.
"Kita pernah menjadi keluarga, tolong jangan biarkan putra kami berlama-lama di penjara. Ia adalah satu-satunya anak laki-laki kami." kata papa Feri, mantan ayah mertuaku itu meminta agar aku tutup mulut, ia bahkan sampai mengancam jika aku membongkar maka usaha villa ku akan hancur karena pemiliknya tak bisa melindungi konsumen.
__ADS_1
Sayangnya aku tak pernah peduli kalaupun semuanya hancur karena tujuanku hanyalah satu. Anakku!