
Hari ini, setelah bersembunyi selama sepekan akhirnya aku harus keluar juga karena banyak yang harus diurus. Pertama, keluarga mas Dani akan menjalani sidang dan aku, mas Akbar serta Wisnu menjadi saksinya. Kedua, urusan anak-anak panti yang masih terbengkalai dan ketiga klinikku yang memerlukan beberapa konsultasi dengan ku.
Aku sudah sangat yakin, di pengadilan akan bertemu dengan mas Akbar. Benar saja, baru saja turun dari mobil, ia sudah menghampiri. Wajahnya terlihat kusut, menatapku penuh rasa khawatir.
"Kemana saja? Kenapa Hp nggak aktif? Bagaimana kondisi kamu dan Sean? Anak itu dimana?" Tanyanya setelah memelukku. Ia bahkan tak peduli pada orang-orang yang semula lalu lalang kini memperhatikan kami.
"Mas, maaf ... nanti kita bicarakan setelah sidang ya. Sekarang fokus dulu " pintaku. Untungnya ia mau, mengikuti aku menuju ruang sidang dimana persidangan akan dimulai.
***
Wisnu sangat kesal dengan keputusan yang aku ambil untuk menghindari mas Akbar. Katanya, bukan seperti itu cara menghadapi masalah. Kalau seperti itu sama saja menyiksa diri sendiri dan mas Akbar.
"Ternyata kamu sangat pengecut, Yan. Aku kira, setelah ditempa masalah bertubi-tubi maka kamu akan sangat kuat. Ternyata tidak!" ia menatap sinis.
"Aku hanya tak ingin ada ibu bernasib sama seperti aku, Nu." kataku.
Kini gilirannya diam. Menarik nafas dalam-dalam. "Ahhh, kenapa nasib kalian penuh ujian seperti ini. Harusnya kan sudah happy ending."
***
__ADS_1
Aku, mas Akbar dan Wisnu menjadi saksi, kami memberikan keterangan bagaimana kejahatan keluarga mas Dani selama ini. Mereka memperdaya aku, mengambil anakku dan melakukan kejahatan teror. Namun kini mereka sudah berakhir. Jaksa mengajukan tuntutan tidak main-main. Kak Dira dituntut penjara dua belas tahun, karena ialah otaj dari semua kejadian ini. Meminta adiknya menikahi seorang perempuan untuk diambil anaknya sebab ia tak bisa memiliki keturunan.
Mas Dani sendiri, ia dipenjara seumur hidup karena selain kasus dengan Sean, ia juga terbukti mengedarkan narkoba. Sementara mama Vio, papa Farid dan mas Alex dipenjara enam tahun karena membantu kak Dira dalam aksi menculik Sean.
Mendengar tuntutan itu membuatku puas. Namun tidak dengan mereka yang pesakitan, terutama mas Dani. Ia merasa aku telah membohonginya karena sebelumnya aku janji akan membebaskannya namun yang terjadi malah sebaliknya. Aku memberikan semua bukti-bukti itu pada pengadilan.
"Yana!' panggil mas Dani saat ia akan dibawa kembali oleh petugas ke penjara. "Kamu benar-benar licik, kamu sudah janji akan melepaskan aku makanya ku beritahu kamu dimana Sean berada. Tapi kamu malah mengkhianati aku. Ingat Yana, kalau aku sampai dihukum berat maka aku akan mencari cara untuk membalas kamu. Ku pastikan hidup kamu tak akan tenang!" Ancam mas Dani.
"Apasih? Kamu itu sudah melakukan banyak kesalahan. Bukannya taubat malah ngancam-ngancam. Kamu nggak takut dosa? Mau melakukan kesalahan berapa banyak lagi, mas? Apa kamu nggak kasihan sama Sean kalau ia tahu rekam jejak kejahatan ayahnya. Kamu memalukan, aib untuknya!" Kataku yang terlanjur terpancing emosi dengan ancaman yang ia sebut.
"Hahahaha, nggak usah bawa-bawa dosa. Toh kamu juga sama. Berbohong demi mencapai tujuanmu. Lagipula aku juga tak menginginkan anak itu. Ia ada hanya untuk uang Yana. Begitu juga dengan menikahi kamu. Itu hanya untuk uang. Kalian berdua tak berharga untukku. Kalian habis pun aku tak ada masalah!" Ia tertawa mengejek.
Penjaga menarik mas Dani agar segera beranjak dari hadapanku. Setelah ia pergi barulah aku bisa menarik nafas lega. Sejujurnya aku merasa takut dengan apa yang ia katakan. Kalau-kalau ia benar-benar nekat mengingat pencandu obat-obatan terlarang biasanya tak menggunakan pikirannya melakukan sesuatu.
"Lalu Tante Seruni?" Tanyaku. Mas Akbar diam. "Mas, aku tahu bagaimana sedihnya kehilangan anak sendiri, jadi aku mohon jangan biarkan aku melakukan hal yang sama pada ibu yang lain seperti yang ku rasakan kemarin saat Sean direbut paksa dariku " kataku, berusaha bicara tegar meski sebenarnya akupun rapuh. Siapa yang tak sedih, ku pikir setelah Sean kembali maka semua ujiannya telah berakhir, namun ternyata aku menjadi ujian untuk ibu yang lain.
"Beda Yan, mama nggak akan pernah kehilangan aku karena sebenarnya aku masih dan akan selalu menyayangi mama. Hanya saja egonya belum bisa menerima apa yang aku pilih. Tapi aku tak akan meninggalkan mama, aku akan berusaha membujuk agar ia luluh dan hingga saat itu tiba tolong selalu berada di sisiku, Yan. Aku benar-benar butuh kamu. Aku nggak bisa menghadapi ini sendiri." Pintanya, sambil memegang tanganku agar aku tak pergi.
"Beri aku sedikit waktu lagi." Pintaku.
__ADS_1
"Tapi tolong beritahu dimana kamu sekarang tinggal, juga Sean. aku ini suami kamu Yan, aku berhak tahu dimana kalian tinggal dan aku masih bertanggung jawab atas keselamatan kalian." Pintanya.
***
Kami berdua menuju villa dengan mobil terpisah. Sampai disana, mas Akbar dan Sean saling melepas rindu. Sean yang sudah sempat tenang sebelumnya kini kembali rusuh ingin kembali pulang. Ia rindu pada anak-anak panti dan mainannya di rumah.
"Nak, papa janji akan segera membawa kamu dan mama pulang. Sekarang Aldi di sini dulu bersama mama ya. Kita akan segera berkumpul lagi. Papa akan berusaha secepatnya!" Janji mas Akbar pada Sean.
Sebenarnya mas Akbar suka dengan villa ini, ia melihat Sean jauh lebih ceria dan sehat sekarang ini. Dalam sepekan ia bertambah cuby sehingga membuat gemas. Mas Akbar masih ingin berlama-lama main dengan Sean namun hari sudah sore dan ia harus segera kembali sebelum Tante Seruni marah-marah, menuduhnya yang bukan-bukan. Tak perhatian pada ibunya setelah menikah denganku.
"Aku benar-benar berhutang waktu dengan kalian berdua. Nanti kalau mama sudah bisa terkondisikan aku akan mengajaknya ke sini karena aku sangat yakin mama akan menyukai villa ini." Katanys.
Selesai bercerita panjang lebar, mas Akbar harus kembali ke Jakarta. Ia meminta aku untuk terus berkomunikasi dengannya karena saat inipun ia membutuhkan dukungan dariku.
"Aku akan selalu mendoakan kamu, mas." Kataku.
"Kita akan berkumpul kembali, kan?" tanyanya.
"Aku berharap seperti itu."
__ADS_1
"Yan, aku akan berusaha meluluhkan hati mama."
Wajahnya tampak sedih saat meninggalkan kami. Lelaki itu berlalu diikuti pecah tangis Sean. Ia tak rela kembali berjauhan dengan mas Akbar.