Kembar Tidak Identik

Kembar Tidak Identik
Putra Siuman.


__ADS_3

Malam semakin larut, jalanan kini semakin sepi dan sunyi, hanya ada beberapa kendaraan saja yang melintas.


Awan tebal bergerak mengisi ruang kosong, langit telah tertutup mendung hitam, angin yang kencang menambah suasana malam semakin dingin.


Bang Ben mengendarai mobil melawan rasa kantuk, matanya mengamati daerah sekitar, berharap dapat menemukan sosok tuan mudanya, namun tak kunjung ia dapatkan.


"Den Putra.... kamu di mana?" bang Ben menyusuri setiap jalan, mengabaikan rasa kantuk dan lelah yang menyerang.


"Criiiiit.... " suara kampas rem terdengar nyaring.


"Astagfirullah.... tadi itu apa?" bang Ben segera turun dari mobil.


Nggak ada apa-apa. Gumam bang Ben setelah mengecek tempat sekitar.


bang Ben segera kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.


"Walah! Kenapa tidak mau nyala?" gerutu bang Ben kesal, saat mesin mobilnya tidak bisa hidup.


"Ceeeerk... ceeerrrk.... ceerrk... " berulang kali bang Ben memutar kunci mobilnya, namun mesin tidak mau hidup juga.


"Kenapa tidak mau nyala? Apa akinya drop kalich ya." Bang Ben membuka pintu, bermaksud hendak mengecek mesin mobilnya.


"Cerrrk... brem... " bang Ben mengurungkan niatnya, saat mesin mobil tiba-tiba hidup.


"Weleh.... mobil aneh! Tadi nggak mau nyala, sekarang malah nyala sendiri." Ucap bang Ben sambil kembali menutup pintu mobilnya.


Nyala sendiri?


Bulu kuduk bang Ben seketika berdiri, saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Rasa merinding telah merasuk dalam dirinya, ada firasat buruk yang tengah ia rasakan, dengan cepat ia menginjak gas sedalam-dalamnya. Bang Ben memacu laju kendaraan.


"Criiiiit..."


"Awaaaaaas!" teriak bang Ben dengan kencang, bersamaan dengan suara rem kendaraan.


*******"


Di rumah Erly...


Sinar putih terang mengisi seluruh ruangan. Putra kembali menutup mata, karena belum bisa beradaptasi dengan terangnya cahaya sekitar, lalu ia mengucek nya pelan, dan kembali membuka mata.


Ruangan dominan warna merah marron berhasil membuat Putra mengernyitkan dahinya, dia merasa ruangan tersebut sangat asing.


Di mana ini?


Putra bertanya-tanya dalam hati, saat menyadari tempat tersebut benar-benar tidak ia kenali.


Wajahku terasa aneh.


Putra meraba seluruh bagian wajahnya, saat merasa ada sebuah keanehan.


Tubuhku juga terasa sakit semua.


Putra mencoba mengingat apa yang telah terjadi pada dirinya, sehingga tubuhnya terasa remuk tak berdaya.


Mata Putra berkaca-kaca, saat mengingat kejadian sebelum dia benar-benar tidak bisa melihat, mendengar, serta merasakan apapun yang terjadi.


"Kaka..." rengek Putra. Dia teringat pada teman yang sudah menjadi bagian dari hidupnya, dia merindukan sosok tersebut. Sosok seorang kaka yang selalu menjaga dan melindunginya. Kini ia hanya bisa merindukan dan manggil, tanpa bisa melihatnya.


"Kamu kapan menemui ku.... kapan kamu kembali.... hiks, hiks, hiks...."


Erly membuka mata, lalu mengangkat wajahnya. Dia terbangun saat telinganya merasa terganggu dengan suara isakan Putra.

__ADS_1


"Putra?!" Erly sedikit berteriak saat melihat sahabatnya telah siuman, ada perasaan senang mendapati hal tersebut. Namun rasa senangnya seketika luntur, ketika menyadari kesedihan dari sahabatnya.


"Put..." panggil Erly pelan sambil menggoyang pelan tubuh pria yang ada di hadapannya saat ini. Putra pun menghentikan isakan nya, lalu menoleh pada sumber suara.


"Kamu?!" Putra terkejut dengan kehadiran wanita di sampingnya, dia tidak menyadari keberadaan Erly yang menjaganya, sampai tertidur memeluknya.


"Iya ini aku, sahabatmu," Erly memamerkan gigi gingsul indahnya, dia tersenyum menatap wajah Putra.


"Deg...." jantung Erly terlonjak kaget, saat tubuh Putra langsung menyerangnya. Erly terkejut, karena Putra tiba-tiba langsung memeluknya.


Kenapa dia tiba-tiba memelukku? Tidak seperti biasanya. gumam Erly dalam hati.


"Udahlah... jangan sedih. Aku ada di sisimu kok." Erly perlahan membalas pelukan Putra, dia berharap bisa menenangkan perasaan sahabatnya.


"Kaka ku kenapa tidak datang-datang siih.... hiks, hiks, hiks...." Putra semakin mengeratkan pelukan di tubuh Erly, seakan menumpahkan semua rasa rindu pada teman masa kecilnya.


"Yang sabar yah... mungkin dia lagi ada hal lain, sehingga belum bisa menepati janjinya." Erly mengelus pelan punggung sahabatnya.


"Hiks, hiks, hiks...." Putra hanya menangis, tidak menanggapi ucapan Erly.


"Kenapa?" tanya Erly terkejut, saat Putra mendorong tubuhnya sedikit keras.


"Ma-ma-maaf.... aku tadi.... tidak sengaja," Putra menjauhkan tubuhnya, lalu tertunduk malu. Dia baru sadar telah memeluk Erly tanpa sengaja. Erly langsung tersenyum melihat ekspresi Putra.


"Ke-ke-kenapa kamu diam saja...." tanya putra. Dia telah berhenti menangis.


"Tidak. Aku hanya merasa heran saat kamu tiba-tiba memelukku," jawab Erly.


"Ma-maaf~ aku kan tadi tidak sengaja.... " Putra sedikit melirik wajah Erly.


Erly beranjak dari tempat duduknya, seakan mengabaikan ucapan Putra. Lalu dia berjalan menuju meja kecil di ruangan tersebut.


"Kamu pasti lapar." Ucap Erly, dia mengambil makan di atas meja, lalu membawa ke arah Putra.


"Ly.... ka-kamu, marah padaku?" tanya Putra kembali, karena belum mendapat jawaban.


"haaaaah...." Erly menghela nafas, lalu menatap wajah Putra.


Erly menggelengkan kepalanya pelan, sambil tersenyum.


"Makan yah... pasti kamu lapar." Erly menyendok makanan, lalu menyodorkan ke arah Putra.


"Nih makan!" Erly bermaksud menyuapi Putra.


Putra melihat sendok berisi makanan, yang telah dekat dengan mulutnya, lalu beralih menatap wajah Erly.


"Udah... makan dulu, terus minum obat, biar cepat sembuh. Makan yah.... aaaa'...." ucap Erly sambil tersenyum. Dia lebih terlihat seorang ibu, yang sedang menyuapi anak kecilnya yang sedang sakit.


Perlahan Putra membuka mulutnya, dia terpaksa menerima suapan Erly, meski ada sedikit malu yang ia rasakan.


"Anak pinter... " ucap Erly, setelah Putra mau menerima suapan darinya, dan mengunyah makanan tersebut.


"Maaf... udah dingin ya? Kamu sih, nggak cepat bangun." Erly lanjut menyuapi putra, karena sahabatnya makan begitu lahap, mungkin karena efek blum makan seharian.


"Kreeeek.... " suara pintu kamar terbuka, Putra dan Erly bersamaan melihat ke arah pintu.


"Loe udah siuman?" tanya Lily, kaka Erly, saat melihat Putra duduk di atas ranjang.


Putra hanya diam tidak menjawab, lalu menundukkan kepalanya.


"Kak kemana aja? Jam segini baru pulang?" tanya Erly kepada kakak nya, dia merasa kesal dengan kelakuan kakak nya. Selalu keluar rumah saat sore hari, dan baru pulang, saat dini hari.

__ADS_1


"Bukan urusan loe, gue pergi kemana! Ini juga demi kelangsungan hidup loe!" bukannya menjawab pertanyaan, Lily malah marah kepada adiknya.


"Kalau udah selesai, cepat kembali ke kamarmu!" perintah Lily kepada adiknya.


"Braak!" suara pintu di tutup dengan keras, Lily keluar dari ruangan tersebut.


"Kaka!" teriak Erly kesal kepada Lily. Erly kesal, karena kakak nya tidak pernah mau menjawab pertanyaannya.


Putra tertunduk, dia tidak tahu harus berbicara apa, dalam situasi yang belum jelas ini, putra hanya merasa kebingungan dan kecanggungan.


"Jangan diambil hati yah.... kakak ku memang seperti itu. Dia cepat marah, saat ada kata-kata yang menyinggung pribadinya, selain itu... dia juga keras kepala. Tapi tenang aja, dia sangat sayang padaku kok," Erly mencoba memberi penjelasan kepada Putra, agar sahabatnya itu tidak tersinggung.


Putra hanya mengangguk pelan, tidak berkata apapun.


"Ya udah lanjutin makan nya ya... biar kenyang." Erly kembali menyodorkan makanan ke mulut sahabatnya. Putra pun menerima suapan Erly, sampai makanan di piring habis tanpa sisa.


"Nih minumnya!" Erly memberikan segelas air putih, Putra pun segera menerima, tangannya memegang gelas dari sisi yang berbeda, namun Erly tidak melepaskan tangannya dari gelas tersebut, dia membantu sahabatnya untuk minum. Tangan keduanya melingkar pada gelas, sampai Putra menghabiskan minuman tersebut.


Erly segera menarik gelas dari mulut Putra, saat air telah habis, lalu menaruhnya di atas meja.


"Nih! Obatnya di minum." Erly memberikan beberapa butir obat, berdasarkan resep yang telah tertulis, lalu memberikan air kembali, setelah Putra menelan obat tersebut.


Putra tidak pernah menolak perlakuan Erly, dari menyuapinya, memberikan minum, dan menyuruhnya meminum obat. Putra hanya menuruti semuanya.


Ada perasaan bahagia, setelah selesai melakukan semuanya. Erly senang, karena Putra tidak menolak satupun dari perlakuannya.


"Ka-kamu belum makan?...." tanya Putra, saat melihat Erly mengambil satu piring makanan lagi, lalu memakannya


"Belum... hehehe.... aku tadi menunggumu siuman sampai tertidur, jadi lupa makan. hehehe... " Erly meringis sambil menggelengkan kepala, lalu kembali melanjutkan makan.


"Ma-maf~ aku tidak tahu kalau kamu belum makan," Putra tertunduk malu, ada rasa bersalah setelah mendengar ucapan Erly, dia menyesal kenapa baru menanyakannya, setelah ia kenyang, padahal yang menyuapinya juga sama-sama belum makan.


Erly memang gadis yang baik hati dan penyayang. Lihat saja kelakuannya, dia lebih mementingkan sahabatnya, daripada dirinya sendiri.


"Udah.... nggak usah dipikirin. Lagian, melihat kamu udah siuman, mau makan dan minum obat, itu sangat membuatku senang kok." Erly melanjutkan suapannya, dia segera menghabiskan makanan dengan lahap.


Putra hanya tertunduk, dia tidak tahu harus mengatakan apa, dia juga tidak memikirkan hal lain, bahkan dia lupa pada rumah dan orang yang mungkin sedang mengkhawatirkannya.


"Aku tinggal ke dapur ya.... mau nyuci piring dulu, entar aku balik lagi." Erly beranjak dari tempatnya, lalu keluar dari ruangan, membawa piring dan gelas menuju dapur. Putra hanya mengangguk pelan mengiyakan.


Siapa dia? Sepertinya dia tidak asing lagi. Tapi Erly memanggilnya kaka. Apa dia kaka Erly? Sepertinya aku pernah bertemu dengannya.


Putra penasaran dengan Lily, kaka Erly. Dia merasa tidak asing lagi dengan suara, dan wajah gadis tersebut.


Apa mungkin....


"Kreeek.... " suara pintu kamar terbuka.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2