
Setelah berhasil mendarat di kota A, dia melanjutkan perjalanannya. Lauren segera masuk kedalam awak pesawat diikuti bik Inah dan mang Setto, mereka duduk pada kursi berjejeran.
Karena pikiran panik, Lauren sampai melupakan Putra, Anaknya. Dalam benaknya, yang ada hanya bayangan suaminya. Pikirannya melayang-layang, menjelajahi setiap alam. Lauren masih tidak percaya dengan berita yang telah dia dengar, dia ingin segera sampai dan memastikan semuanya.
Lauren merasa hari ini adalah hari yang sangat melelahkan, selain kegiatan fisik yang ia lakukan, pemikirannya yang panik, berhasil menambah beban tubuhnya. Mata Lauren semakin ciut, mukanya terlihat lesu, perlahan mata indah itu telah tertutup rapat-rapat. Lauren telah tertidur dengan pulas.
Di tempat lain....
"Putra?!" Erly berteriak histeris, saat mendapati tubuh Putra yang terbujur di dalam toilet.
"Put, bangun Put," Sekeras mungkin Ely mengguncang tubuh Putra. Tubuh Erly bergetar melihat darah yang mulai kering di wajah Putra.
Putra benar-benar telah banyak kehilangan darah, lihat saja wajahnya kali ini, yang terlihat hanya tumpukan darah yang mulai mengering.
Erly memberanikan diri, dengan tubuh yang gemetaran, serta jantung yang berdetak tak karuan, Erly membersihkan darah di wajah Putra.
"Siapa yang melakukan ini?! Siapa!?" tanpa sadar, air berharga telah jatuh menetes melalui mata indahnya. Erly menangisi pria yang ada di hadapannya.
Cukup lama dia membersihkan darah yang mulai kering itu, dan tidak sedikit, tetesan air matanya yang telah jatuh. Tangisan Erly semakin keras, karena Putra tidak kunjung sadar. Sudah banyak cara ia lakukan, dari memberi minyak kayu putih, menyiram air ke wajah putra, memompa dada, hingga memberikan nafas buatan untuk Putra. Namun hasilnya sia-sia. Putra tidak bergeming sedikitpun.
Telpon Kaka. Pikir Erly kemudian.
Erly segera mengambil ponselnya dan akan mencari kontak kakak nya.
"Ya Allah... baterai habis lagi. terus gimana nih!" Gerutu Erly berbicara seorang diri, dia terlihat begitu panik.
Kedekatan mereka bisa dibilang baru berkecambah, namun jika sudah nyaman... apa boleh dikata? Karena hati manusia bisa berubah-ubah, manakala sang pencipta telah menetapkan jalan hidupnya. Apalagi Erly.... hidup tanpa ada orang tua atau teman yang bersamanya, hanya kaka satu-satunya saudara yang ia miliki, itu pun jarang kumpul, karena kakak nya jarang berada di rumah. Hal itulah, salah satu alasan Erly, mengapa ia begitu senang bersahabat dengan Putra. Perkenalan yang baru bisa dihitung detik, telah membuatnya nyaman tanpa alasan, bahagia tanpa sebab, dan kini air mata telah jadi saksi, bahwa ia, memang sangat menghargai persahabatannya.
"Gimana nih.... gimana?" mondar-mandir dalam ruangan, dengan telunjuk jari yang terus mengetuk-ngetuk kepala.
Sangking paniknya, sampai dia tidak menyadari, jika ada sepasang mata yang telah memerhatikan nya.
"Put... bangun put...." Erly kembali mengguncang tubuh sahabatnya. Ia berharap jika ada keajaiban yang datang, hingga bisa membuat Putra terbangun, dari mati sementaranya.
"Em! Em! Em!" mata Erly membulat sempurna, saat merasakan mulutnya telah tersumpal rapat, dia tidak tahu.... sejak kapan ada orang yang menghampirinya. Yang dia tahu.... saat ini, dirinya telah berada dalam bahaya.
"Em! Em! Em..." Erly berusaha teriak sekeras mungkin, namun itu tidak berhasil, karena sumpalan di mulutnya tertahan kuat. Erly berusaha memberontak, namun usahanya sia-sia, karena lawannya lebih kuat dari tenaga miliknya.
Tubuh Erly melemas tanpa daya, ibarat kain sutra, lemes, lentur, seakan tanpa tulang. Tubuh Erly terperosot jatuh melemas kelantai. Erly pingsan, sebelum ia mengetahui, siap pelaku yang telah membekapnya. Sepertinya, si pembekap memberi obat bius, karena tubuh Erly jadi lemas tak berdaya. Erly pingsan, tergeletak di lantai samping tubuh Putra.
__ADS_1
Di kediaman rumah Erly...
"Nih anak kemana aja sih! Udah hampir malam, belum juga datang. Awas saja kalau sampai keluyuran!" seorang gadis seumuran Erly mondar-mandir di ruang tamu, dia sedang menunggu kedatangan adiknya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Cobalah sekali lagi!"
"Cih!" gadis itu berdecak keras, saat mendapat respon dari operator, dia sedang mencoba menghubungi adiknya.
Gadis cantik, dengan tubuh langsing, rambut hitam lurus menjadi penghias kepala bak mahkota. Bibirnya yang kecil tipis, nampak terlihat imut, sedang matanya yang sipit, semakin menambah kecantikan di wajahnya.
Gadis cantik itu bernama Lily, kaka kandung Erly. Dia sangat mengkhawatirkan adiknya, meski nyatanya, Lily dan Erli, ibarat anak kucing dan anak a*jing, jika mereka bertemu. Beruntung.... Erly selalu mengalah saat mereka berdebat. Bukan karena dia lemah, namun Erly tahu, jika Lily adalah pengganti ibunya, karena kedua orang tua mereka telah tiada. Hanya Lily, satu-satunya keluarga yang Erly miliki.
Berbeda dengan Lily, meski adiknya selalu mengalah, tapi dia tidak puas jika hanya menang tanpa dilawan. Bukan bermaksud membenci adiknya, Lily hanya ingin, adiknya menjadi gadis yang pemberani dan tidak cengeng. Karena Lily tahu, jika dia tidak bisa selalu bersama Erly dan menjaganya.
Lihat saja ekpresi cemasnya saat ini, wajahnya nampak gusar dan panik, mondar mandir di ruang tamu, itu belum cukup baginya, bahkan ia ingin berjalan mengelilingi pulau, demi adiknya kembali.
"Dert.... Dert... dert... " Lily segera mengambil ponselnya lalu menggeser ikon hijau di layar ponselnya, dia tidak memperhatikan itu panggilan dari siapa, yang ada di pikirannya, mungkin adiknya yang menghubunginya.
"Halo sayang," Suara seorang pria di seberang telepon, berhasil membuat Lily mengernyitkan dahinya.
Siapa? gumam Lily sambil mengecek kembali, identitas si penelpon, "Tanpa nama?" Lily memutar kedua bola matanya, saat melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Iya, halo. Maaf, aku baru bangun tidur, jadi sedikit linglung," ucap Lily berbohong.
"Kamu mandi yah. Siap-siap, orang suruhan ku sebentar lagi akan menjemputmu. Aku tunggu di hotel Saka."
"Aan-"
"Tut, tut...."
Ucapan Lily terpaksa terhenti, karena panggilan di ponselnya telah berakhir. Pria yang meneleponnya, mematikan ponsel secara sepihak.
"Cih! Sialan!" Umpat Lily kesal.
Erly dan Lily memang bersaudara, tapi watak mereka jauh berbeda.
Erli nampak begitu anggun, pendiam, sabar, dan ramah. Sedang Lily, berwatak keras, suka blak-blakan, pemarah, dan sedikit tomboi. Meski begitu.... wajahnya nampak sangat cantik, bak rembulan di kala purnama.
*********
__ADS_1
Perjalanan berjam-jam membuat urat terasa kaku. Lauren menggeliatkan tubuhnya, saat matanya sedikit terbuka, dia telah tersadar dari mimpinya.
"Udah bangun Nya?" bik Inah bicara basa-basi untuk menyapa tuannya.
"Iya bik, belum sandar ya?" Lauren bertanya yang telah jelas jawabannya.
"Bentar lagi Nya. Kalau Nyonya masih capek, istirahat aja dulu, nanti akan saya bangunkan, saat mendarat." bik Inah berbicara penuh ramah, namun kata-katanya terdengar lucu, karena bahasanya sangat medok, kelihatan asli suku jawanya.
"Hemm...." Lauren hanya bergumam menanggapinya, setelah menoleh dan tersenyum pada pembantunya, Lauren kembali diam.
Ribuan kisah mudanya langsung terlintas di benaknya. Lauren masih ingat dengan jelas, di mana suaminya mengajak liburan saat mereka baru menikah. Saat itu... Lauren belum pernah pergi menaiki pesawat, dan suaminya lah, orang pertama yang mengajaknya pergi naik pesawat.
Mata Lauren mulai berkaca-kaca, saat melihat hamparan awan putih di seluruh penjuru. Ada ribuan pertanyaan yang masih ingin dia lontarkan, ada seribu kejadian, yang ingin dia saksikan, dan ada ribuan misteri, yang ingin ia pecahkan. Tanpa terasa, setetes air telah berhasil lolos dari pelupuk matanya, Lauren segera menyeka air mata yang akan kembali jatuh tanpa permintaanya.
"Jangan sedih Nya. Do'akan saja, semoga tuan, baik-baik saja." bik Inah mengetahui apa yang tengah majikannya alami kali ini, karena Sinta, Sekretaris tuannya, telah memberitahukan sebelumnya.
Lauren mengalihkan pandangan, menatap wajah bik Inah. Lauren hanya senyum sekilas, lalu kembali melihat ke arah, luar jendela.
"Ladies and gentleman, as we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position. Also, make sure your seat belt is securely fastened and all carry-on luggage is stowed underneath the seat in front of you or in the overhead bins. Thank you." Lauren segera mengecek, dan kembali mengenakan sabuk pengaman di pinggangnya, setelah mendengar aba-aba dari pramugari.
"On behalf of The Citilink Airlines and the entire crew, I’d like to thank you for joining us on this trip. We are looking forward to seeing you on board again in the near future. Have a nice day!" Akhirnya pesawat dapat mendarat dengan sempurna, Lauren segera beranjak, cepat-cepat keluar dari pesawat, bik Inah dan mang Seto pun mengikutinya.
Jangkauan kaki Lauren begitu lebar dan cepat, dia sangat ingin segera keluar dari bandara, dan segera menemui suaminya. Mang Setto dan bik Inah pun kewalahan mengejar langkah tuannya.
"Welcome to the Kansai Internasional Airport. Hopefoully your trip is enjoyble. Thanks." Yups, Lauren mendarat di Bandar Udara Internasional Kansai, atau biasa disebut Osaka Airport. karena kaka suami Lauren bertempat tinggal kota Osaka.
Osaka adalah kota terbesar dengan jumlah penduduk terbanyak ke-2 di Jepang, setelah Tokyo. Kota Osaka berada di wilayah Kansai, tempat yang menjadi pusat ekonomi dan budaya di wilayah Jepang Barat.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1