
Malam hari di rumah Putra.
Putra duduk di kursi teras seorang diri, seperti biasa, dia sedang membaca buku.
"Tin, tin... "
Suara klakson berbunyi, dengan cekatan, seorang scruyti membukakan gerbang, tak lama, Honda jazz berwarna silver telah terparkir di garasi. Sekuriti cepat membukakan pintu mobil tersebut.
"Silahkan Nyonya."
Seorang wanita setengah baya, keluar dari mobil tersebut, kulitnya putih, pinggangnya ramping, wajahnya berbentuk oval, giginya yang gingsul dua (2) di bagian atas depan, menambah kemanisan saat sedang tersenyum, kulitnya masih begitu padat dan kencang, jika diperhatikan, dia seperti gadis yang masih berusia belasan, namun kenyataannya, usianya telah berkepala tiga. Lauren, itu lah nama dari wanita itu.
"Belum tidur sayang." Ucap Lauren saat mendapati Putra duduk seorang diri di teras rumah.
Putra hanya menatapnya sebentar dan menggelengkan kepalanya pelan.
Cup.
Lauren mengecup kening Putra cukup lama, "jangan terlalu malam, jaga kesehatannya, mama mau mandi dulu." Lauren kemudian beranjak pergi, dia masuk ke dalam rumah. Lauren tidak lain adalah ibu Putra, dia akan pulang saat malam Hari, Lauren selalu sibuk mengurusi cofee shop dan butik miliknya.
Putra hanya mengangguk pelan, dalam batinnya dia merasa kesepian, tidak ada teman buat mengobrol, kaka tidak punya, adik tidak punya, orang tua selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
Y**a sudahlah tidur saja. Gumamnya dalam hati.
Putra beranjak dari tempatnya, dia masuk dan menuju kamarnya.
"Haaaah .... "
Putra merebahkan tubuhnya di atas ranjang, matanya menatap langit - langit ruangan. Tidak berapa lama, ia pun telah tertidur lelap. Putra tidur terlentang dengan kedua tangan membentang ke arah samping.
__ADS_1
"Kreeeeg ... "
Suara pintu terbuka. Lauren, ibu Putra masuk kedalam kamar putra yang memang tidak pernah dikunci.
Lauren menyelimuti tubuh Putra, kemudian membelai wajah Putra, matanya memandang lekat-lekat anak satu satunya. Tidak terasa air mata lolos dari pelupuknya. "Maafkan mama Put, kamu pasti merasa kesepian, andai saja ... "
"Ma ..." Ucapan Lauren terhenti, saat mendengar suara panggilan.
"Udah pulang pa?" Ucap Lauren saat mendapati sosok lelaki di depan pintu, lelaki tersebut adalah suami Lauren, Lauren segera mengusap air matanya, dia tidak mau terlihat sedih didepan suaminya.
Lauren mengecup kening Putra sekilas, lalu pergi dari kamar putra. Lauren dan suaminya pun pergi menuju kamar mereka.
"Tumben pulang masih sore pa?" Tanya Lauren saat sudah berada dalam kamar mereka, dia segera mengambil tas suaminya, lalu menaruhnya didalam almari.
"Iya, pekerjaan di kantor tidak terlalu banyak, jadi bisa ku selesaikan dengan cepat." Suami lauren mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lauren segera naik ke atas ranjang, dia menunggu suaminya dengan berbaring. Suara gemercik air di dalam kamar mandi terdengar samar, karena terlalu capek, Lauren pun langsung terlelap, dia tertidur dengan pulas.
"Ma ..." Dia memanggil istrinya.
Hem ... sudah tertidur rupanya, selalu seperti biasanya. Gumamnya dalam hati.
Suami Lauren segera mematikan lampu kamar, kemudian berbaring di sebelah Lauren, tidak beberapa lama, ia pun tertidur pulas, keduanya tidur dengan posisi saling membelakangi.
Hari - hari selalu demikian, Lauren akan pulang lebih dulu dari suaminya, kadang ia mendapati Putra jika pulang lebih awal, namun lebih sering, dia melihat Putra telah tertidur di kamarnya. Lauren akan menunggu suaminya di kamar sambil berbaring, namun dia akan tertidur sebelum suaminya datang.
Saat pagi hari, Lauren terbangun dalam keadaan seorang diri, pagi - pagi sekali, suaminya sudah berangkat ke kantor. Suami Lauren jarang makan di rumah, karena dia berangkat masih pagi sebelum sarapan, saat pulang pun sudah larut malam. Rumah mereka, hanya seperti tempat tidur saja, hari - hari mereka dihabiskan untuk bekerja, sungguh pasangan yang gila bekerja, dalam hidupnya, yang ada hanya kerja, kerja, dan kerja. keduanya jarang berkumpul bersama Putra. Mereka adalah keluarga yang telah kehilangan keharmonisannya.
"Kring ... kriiing ... kriiing ... "
__ADS_1
Suara alarm membangunkan Lauren dari tidurnya. Lauren membuka mata lalu mematikan alarmnya. Lauren menoleh ke samping, "Seperti biasanya." Lauren tidak mendapati suami di sampingnya, suaminya telah lebih dulu berangkat ke kantor.
Jam tujuh. Gumam lauren saat melihat jam yang menempel pada dinding kamarnya, dia segera masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, dia telah selesai, Lauren segera memakai baju lalu merias wajahnya. Setelah selai, dia keluar dari kamar menuju dapur.
Lauren segera duduk di salah satu kursi, lalu dia meminum susu yang memang telah disediakan oleh pembantunya.
"Masak apa bik?" Tanya Lauren kepada wanita setengah baya, wanita itu adalah pembantu rumah tangganya.
"Kuah asam Nya. Nyonya mau sarapan di rumah?" Ucap wanita itu. Maklum kalau dia bertanya demikian, karena Lauren jarang sekali sarapan di rumah, biasanya ia hanya meminum susu dan beberapa roti kering. Lauren lebih sering sarapan di luar. Masakan di rumah, hanya Putra yang memakannya.
"Heem ... Boleh." Ucap Lauren lalu meneguk susu di depannya.
Pembantu itu lalu menyiapkan makanan untuk Lauren. Setelah makanan terhidang, Lauren segera memakannya, tidak ada suara apapun, yang terdengar hanya dentingan suara sendok dan piring.
"Putra sudah bangun bik? Tanya Lauren di sela - sela suapannya.
"Sudah Nya, den Putra sudah berangkat tadi pagi, di antar bang Ben." Jawab pembantu itu.
Ruben, atau akrab dipanggil bang Ben, dia adalah supir pribadi di rumah itu. Bang Ben supir yang di sewa khusus keperluan Putra, dia akan mengantar kemana pun Putra pergi, kegiatan hari - harinya, cuman mengantar jemput Putra sekolah.
"Ooh ... " Jawab Lauren sambil menganggukkan kepalanya pelan.
Lauren terkenal dengan wanita dingin tanpa bicara, ekspresinya yang selalu datar, membuat orang, enggan untuk berbicara dengannya. Lauren hanya berbicara, jika menurutnya itu penting, jika tidak, dia tidak akan mengeluarkan suaranya.
Lauren segera meminum air setelah menghabiskan makanannya, kemudian dia membersihkan mulutnya. Lauren lalu pergi setelah selesai makan, dia masuk ke kamar untuk mengambil tasnya, kemudian pergi menggunakan mobilnya, Lauren pergi menuju coffe shop miliknya.
"Heem... Keluarga dingin, suami jarang di rumah, istri pun sibuk bekerja. Kasihan Putra, dia selalu kesepian tanpa saudara, pasti dia membutuhkan perhatian serta kasih sayang dari orang tua." Pembantu itu berbicara sendiri menatap kepergian mobil milik tuannya, lalu dia melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Putra kini sedang berada di tengah jalan menuju ke sekolahan, dia duduk di kursi depan, bersampingan dengan sopir pribadinya. Bang Ben, menghentikan laju kendaraannya sebelum mereka sampai di depan gerbang, Putra pun segera turun, kemudian dia berjalan menuju ke sekolahnya. Sedang bang Ben, memutar setir arah balik, kembali ke rumah, dia akan datang lagi saat jam pulang sekolah tiba.
BERSAMBUNG.